Click Your Heart

Click Your Heart
Part 32


__ADS_3

Devon tiba di kantornya. "Bayu tolong selidiki siapa yang membuat Cindy celaka!" Perintah Devon pada asisten pribadinya.


"Baik, Pak. Ini berkas yang harus anda tanda tangani," kata Bayu sambil menyodorkan sebuah map ke meja Devon.


Seusai menanda tangani berkas tersebut, Devon menyuruh Bayu keluar.


...***...


Di tempat lain Dira kesal karena ia harus menjalani skors dari kampusnya terkait kejadian yang menimpa Cindy.


"Gue nggak terima sama hukuman ini, enak aja kalau mau dihukum juga sama-sama orang dia yang mulai duluan," gerutu Dira di dalam rumahnya.


Sang ayah menghampiri. "Ada apa sayang?" Tanya sang ayah.


"Ah tidak ada apa-apa, Yah," elak Dira.


"Oh iya Yah aku mau menginap di rumah saudara kita selama tiga hari soalnya kuliahku libur."


"Lho dalam rangka apa nak?" Tanya Ayahnya.


"Owh dosennya sedang ada studi banding ke luar negeri," bohong Dira.


Dia tidak mau ayahnya tahu kalau dia sedang diskors selama tiga hari dari kampusnya.


...***...


Malam ini Tommy sengaja membeli pizza untuk dibagi pada Cindy. Seusai keluar dari lift Tommy langsung menekan bel unit apartemen tetangganya itu.


Cindy yang mendengar kemudian membuka sendiri pintu unit apartemennya. Cindy terkejut saat Tommy yang masih memakai setelan jas menghampiri rumahnya.


"Ada apa?" Tanya Cindy dengan suara yang merdu.


"Ini aku bawakan pizza untukmu, kebetulan aku beli lebih jadi daripada mubadzir mending aku kasih ke kamu." Tommy menyodorkan kotak pizza itu pada Cindy.

__ADS_1


"Terima kasih banyak," ucap Cindy dengan tersenyum.


Tommy jadi salah tingkah melihat senyum Cindy yang begitu manis. "Ya sudah aku masuk ke apartemenku dulu," pamit Tommy setelah ia memberikan pizza. Cindy hanya membalas dengan senyuman.


...***...


Devon sudah berada di dalam rumahnya. Laki-laki itu merasa kesepian karena di rumah sebesar itu hanya dia dan asisten rumah tangganya yang tinggal.


"Seandainya saja aku punya anak, pasti tidak akan sesepi ini," gumam Devon seorang diri.


Lalu ia mengambil ponselnya. Devon menelepon kekasihnya malam-malam.


"Hallo."


"Iya, Mas," jawab Cindy dengan suara yang lembut.


"Apa kamu sudah tidur?"


"Belum, Mas. Aku baru bersiap-siap," jawab Cindy. Kini dia duduk di atas ranjangnya.


"Sudah mendingan."


"Ya sudah beristirahatlah! Oh iya apa besok mau aku jemput saat kamu berangkat kuliah?" Tanya Devon.


"Tidak perlu, Mas. Aku ambil cuti sehari. Mas bagaimana tentang lowongan kerja yang aku tanyakan padamu?"


"Suruh saja Alan dan Irene datang ke kantor besok pagi!"


"Baik, Mas."


Setelah itu Devon berbaring di tempat tidur. Lalu terdengar suara memanggil namanya. "Mas Devon, Mas."


Devon membuka mata. "Bagaimana kamu bisa sampai ke sini padahal baru saja aku meneleponmu?" Tanya Devon dengan wajah bingung.

__ADS_1


Cindy terkekeh mendengar pertanyaan kekasihnya itu. "Kamu ini lucu sekali, Mas. Aku merindukanmu makanya aku ada di sini."


Ucapan Cindy membuat Fevon tersenyum lebar. Ia tak mempermasalahkan lagi darimana datangnya Cindy. Laki-laki itu menarik tangan kekasihnya itu hingga tubuhnya terduduk di ranjang. "Oh ya? Buktikan!" Goda Devon.


Cup


Cindy mengecup bibir Devon sekilas. "Gitu?"


"Apa?" Tanya Devon lalu ia mencondongkan badannya dan merangkum wajah Cindy. "Kamu sangat cantik, sayang. Apakah aku bisa memilikimu malam ini?" Tanya Devon dengan gamblang.


Wajah Cindy berubah merah. Ia tentu saja malu mendapat pertanyaan tersebut. Cindy mengangguk malu-malu. Devon pun tersenyum setelah mendapat jawaban Cindy.


Devon mencium bibir Cindy dengan lembut. Cindy membalas ciuman laki-laki yang ia cintai. Mereka saling bertukar saliva. Tanpa disadari tangan Cindy mengalung ke leher Devon. Kepala mereka bergerak mengikuti irama ciuman yang begitu panas.


Setelah pias di bagian bibir Devon mencium bagian leher Cindy yang jenjang. Tangan Devon sudah masuk ke dalam bajunya. Suara era*ngan dan de*sah*an memenuhi ruangan tersebut. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Aku suka dengan suaramu sayang." bisik Devon ke telinga Cindy. Cindy semakin meremang. Laki-laki itu membaringkan kekasihnya. Kini Cindy berada di bawah kungkungan Devon. Cindy memalingkan wajahnya yang kemerahan.


Devon mengulas senyumnya. Devon mulai membuka satu persatu kancing baju wanita itu. Tapi Cindy tiba-tiba menolak. "Tidak, Mas. Aku belum siap."


"Jangan begitu sayang, aku sudah siap memasukimu."


"Tidak, Mas. Aku tidak mau," tolaknya lalu menendang tubuh Devon hingga dia jatuh ke lantai.


Devon mengerjapkan matanya. Ia terkejut saat di dalam kamarnya tidak ada siapapun. "Shiit mimpi mesum," umpatnya kemudian ia bangun dari lantai sambil mengelus bagian pan*tat nya yang sakit.


Devon pun pergi ke kamar mandi ia ingin menuntaskan hasratnya yang tertunda. Ia mandi di bawah guyuran shower dengan air dingin untuk mendinginkan badannya yang panas.


"Aku tidak menyangka cintaku begitu besar padamu hingga kau masuk dalam mimpiku," gumam Devon pada saat mandi.


...🌼🌼🌼...


Hallo dears aku mau ingetin ya buat dukung karya aku dengan menonton iklan di kolom hadiah. Kalian nggak perlu mengeluarkan poin sepeser pun ya guys cukup tonton iklannya sampai selesai. GRATIS

__ADS_1



__ADS_2