Click Your Heart

Click Your Heart
Part 93


__ADS_3

Brak


Arya menggebrak meja karena emosi. Arya begitu kesal karena dia harus capek-capek melawan preman betulan demi menyelamatkan Cindy dan anaknya.


Plak


Arya menampar pipi anak buahnya yang ditugaskan mencari preman tapi malah gagal.


"Bodoh, kenapa kalian tidak datang?" Arya meremas rambutnya karena frustasi.


"Maaf bos kami salah alamat," jawabnya asal.


"Bego kalian padahal sudah kubilang ikuti wanita itu dari rumahnya," geram Arya.


"Maafkan kami bos," kata anak buahnya ketakutan.


"Kalian lihat ini, wajahku babak belur gara-gara harus melawan mereka." Arya menunjuk mukanya yang lebam bekas tonjokan preman-preman itu. Anak buahnya tak berani mengangkat wajahnya.


...***...


"Sayang kamu kenal Arya dari mana?" Tanya Devon curiga.


"Oh kemarin dia yang menolong Cello saat akan tertabrak motor di jalan."


"Apa? bagaimana bisa dia hampir tertabrak?" Tanya Devon panik.


"Dia berlari karena tidak mau diajak pulang ke rumah," jawab Cindy.


"Hanya itu?" Tanya Devon.


"Tidak, aku sudah tiga kali bertemu dengannya," jawab Cindy dengan jujur.


"Jadi yang kemaren itu yang kedua?" Jelas Devon mengira yang kedua karena yang ketiga mereka bertemu saat berkelahi melawan preman tadi.


"Bukan, yang kedua aku bertemu dia di restoran. Dia yang membayar tagihan makanku," jawab Cindy dengan jujur.


"Kenapa dia bisa membayar tagihan makanmu?" Devon hampir gila mendengar jawaban istrinya.


"Kau tahu tidak, aku tidak membawa uang cash, aku pikir dengan membawa kartu yang kau berikan itu sudah cukup, ternyata saldonya tidak cukup," kata Cindy berterus terang.


Devon lupa bilang kalau itu adalah kartu debit bukan kartu kredit. "Maaf seharusnya aku memberitahumu kalau itu kartu debit. Aku tidak mengecek saldo terakhir. Kemungkinan tinggal sedikit karena aku buat untuk membeli keperluan perusahaan juga," jawab Devon.


"Iya, aku juga salah karena membeli makanan yang mahal padahal keuangan kita sedang sulit sekarang." Cindy menunduk karena merasa bersalah.


Devon mengangkat dagu Cindy. "Apa kamu sedih karena aku miskin sekarang?" Tanya Devon meminta jawaban jujur istrinya.

__ADS_1


Cindy menitikkan air mata. "Kamu meragukan cintaku? Bahkan dulu kamu pernah pura-pura miskin lebih dari ini aku masih bisa menerimamu apa adanya."


Devon memeluk istrinya erat. "Maafkan aku sayang, aku sempat berpikir kalau kau bisa saja berpaling dariku," kata Devon.


"Aku hanya akan berpaling jika kamu lebih dulu berpaling," ancam Cindy. Mengingat masa lalu yang pernah terjadi antara Devon dan Lisa membuatnya sulit memaafkan A


suaminya apabila hal itu terulang kembali.


"Janji sayang," kata Devon sambil tersenyum.


"Oh ya aku akan kembali ke kantor kalau ada apa-apa telepon saja aku, sementara mobilmu akan diperbaiki di bengkel. Kamu bisa memakai taksi jika akan kemana-mana," kata Devon sambil memberikan segepok uang pada Cindy.


Cindy menganga melihatnya. "Apa ini mas?"


"Pegangan buat kamu, pergunakan dengan baik."


"Tapi bagaimana kamu mendapatkan uang sebanyak ini bukankah keuangan kita sedang sulit?" Tanya Cindy tidak percaya.


"Kamu tidak perlu tahu sayang, aku pergi dulu."


"Mas kamu nggak terlibat judi kan?" Teriak Cindy namun sepertinya suaminya itu mengabaikan omongannya.


Devon memesan ojek online. Ia akan naik ojek sampai ke kantor. Namun, sebelumnya dia melepas jasnya lalu diletakkan di lengannya.


"Pak Devon?" Tanya driver itu memastikan. Ia takut salah orang karena yang memesan ojeknya begitu rapi dengan setelan jas.


Driver itu memberikannya dengan gugup. Lalu Devon naik ke boncengan driver itu. "Jalan Pak," perintah Devon pada driver tersebut.


Driver itu menahan senyum karena mendapatkan penumpang yang tak biasa.


Ketika mereka berhenti di lampu merah seseorang meneriaki Devon. "Nggak salah nih, pemilik hotel ternama bisa naik ojek online, kemana mobil mewahnya?" Sindir orang itu pada Devon.


Devon pura-pura tak mendengar. Tapi driver itu tahu kalau yang dimaksud laki-laki yang meledeknya itu adalah Devon.


"Jangan dengarkan pak. Lebih baik pura-pura tidak mengenalnya saja," kata driver itu pada Devon. Devon merasa terharu.


"Terima kasih," jawabnya lirih.


Meski malu tapi hanya ini satu-satunya cara untuk sampai ke kantornya. Bayu tidak bisa diandalkan untuk mengantarnya karena dia sedang mengantar sopir pribadinya ke rumah sakit.


"Aku tidak boleh down hanya karena satu sindiran. Omongannya tidak bisa melukai kulitku jadi aku tidak perlu mempermasalahkan hal sekecil ini. Meski sebenarnya hatiku terluka mendengar omongannya," batin Devon menyemangati diri sendiri.


"Sudah sampai pak," kata driver tersebut.


"Ini uangnya," Devon memberikan satu lembar uang kertas berwarna merah.

__ADS_1


"Tapi saya tidak memiliki kembalian pak."


"Ambil saja, maaf hanya memberikan sedikit tips. Terima kasih sudah mengantar saya," kata Devon dengan tulus.


"Jadi benar anda pemilik hotel besar ini?" Tanya driver yang penasaran itu.


Devon mengangguk ketika menjawab pertanyaan driver tersebut. Driver itu merasa bangga karena mengantarkan seorang pemilik perusahaan besar dengan motor buntutnya.


Setelah itu Devon masuk ke lift. Tapi sebuah kaki mengganjal pintu lift tersebut. "Tommy," kata Devon.


"Aku tidak percaya seorang Devon menaiki ojek untuk sampai ke kantornya," cibir Tommy.


"Kalau kamu ingin menghinaku, aku tidak masalah. Itu akan aku jadikan sebagai penguat diriku. Aku sudah siap untuk dihina saat aku jatuh miskin. Dengan begitu aku tahu mana teman mana yang harus dilawan," kata Devon dengan penuh penegasan.


Tommy tertawa mendengar omongan Devon. "Jadi kau menganggap ku lawan?" Tanya Tommy.


"Tergantung."


"Tergantung apa?" Tanya Tommy bingung.


"Kau mau membantuku atau tidak?" jawab Devon.


"Maksudmu membeli sebagian sahammu yang tersisa?" Tebak Tommy.


"Cerdas," puji Devon.


"Cuih, dasar penjilat."


"By the way, apa kamu mengenal nama Arya?" Tanya Devon dengan serius. Kini mereka sudah berada di ruangan kerja Devon. Hari ini Tommy kembali berdiskusi masalah pekerjaan di kantor Devon.


"Aku sempat mendengar rumornya. Katanya dia membeli sebagian besar sahammu padahal perusahaannya masih jauh dibanding perusahaan kita," kata Tommy.


"Lalu apa kamu mengira dia yang merencanakan kehancuran perusahaanmu itu?" Tanya Tommy kemudian.


"Tepat sekali, aku juga berpikiran begitu. Kamu tahu dia tiga kali mendekati Cindy."


"Apa mendekati istrimu?" Tommy kaget mendengar penuturan Devon.


"Ya, mana ada kebetulan bertemu sampai tiga kali jika Cindy bertemu dengannya tiap kali ada masalah."


"Misalnya?"


"Pertama, dia menyelamatkan anakku yang hampir tertabrak, lalu membayar tagihan istriku di restoran, dan terakhir menolongnya ketika diganggu preman."


Tommy tertawa mendengarnya. "Sialan kamu pikir aku membual," kata Devon tidak terima.

__ADS_1


"Kamu hanya cemburu kawan hingga mengarang cerita sedetail itu," tuduh Tommy.


"Lupakan sia-sia aku bercerita panjang lebar," Devon mencebik kesal sedangkan Tommy puas melihat wajah kesal Devon.


__ADS_2