
Keesokan harinya ketika bangun tidur Anwar merasakan kepalanya pusing. "Bu apakah ada obat sakit kepala?" Tanya Anwar pada ibunya.
"Kamu sakit nak?" Tanya sang ibu.
"Kepalaku agak pusing Bu. Tolong belikan obat sakit kepala di warung."
Ibunya segera mengangkat kakinya keluar rumah untuk membelikan Anwar obat sakit kepala.
Hari ini hari Minggu tapi dia harus tetap bekerja seperti kesepakatan di awal dengan bosnya.
"Ini minumlah, tapi sebelumnya makanlah sedikit saja. Kamu sakit pasti gara-gara kecapekan harus mendorong sepedamu sampai rumah kemaren." Murni mengkhawatirkan anaknya.
Anwar menurut pada ibunya. Ia memakan nasi tapi hanya dua suap saja lalu meminum obat. Setelah itu dia mengeluarkan sepedanya.
"Lho mau kemana minggu-minggu begini? Kamu kan sakit sebaiknya beristirahat di rumah saja!"
"Hari ini ada tugas kelompok yang harus Anwar kerjakan buat besok Bu, jadi Anwar keluar dulu." Anwar berbohong agar ibunya tak curiga.
"Tidak bisakah temanmu saja yang datang ke sini agar kamu tidak perlu keluar rumah?"
"Tidak bisa Bu. Kami sudah janjian di suatu tempat." Anwar membohongi ibunya lagi.
"Ya sudah hati-hati di jalan. Jika pusing saat bersepeda kamu bisa berhenti dulu supaya tidak jatuh." Anwar mengangguk paham. Dia mengambil tasnya lalu mencium tangan Murni saat berpamitan.
Hari Minggu ini Devon mengajak Cello ke tempat cucian mobil dan motor langganannya. Devon sengaja mengajak Cello karena dia curiga pada anak lelaki yang selalu mencuci mobilnya di tempat cucian tersebut.
"Kebetulan sekali Cello memang sedang tidak ada kegiatan Pa."
Lalu mereka pun berangkat. Devon menghentikan mobilnya setelah setengah jam berkendara. "Ini tempatnya," ucap Devon pada putranya
"Luas juga ya Pa. Apakah kita perlu membuka bisnis cuci mobil seperti tempat ini?" Gurau Cello saking kagumnya pada tempat yang dia kunjungi saat ini.
Tak lama kemudian Anwar mendekat ke mobil pelanggannya. Ia tak tahu kalau Devon mengajak Cello.
"Anwar," panggil Cello ketika melihat Anwar membawa seember air dan sabun yang akan digunakannya untuk mencuci.
Anwar terkejut melihat Cello ada di tempat kerjanya. "Kamu kok bisa di sini?"
Anwar menunduk sesaat. "Aku kerja di sini," jawab Anwar dengan jujur. Dia tidak bisa menghindar karena pemilik tempat cucian mobil tak akan membiarkannya bersantai dan Devon pun sudah mengetahuinya lama.
__ADS_1
"Tapi kenapa?" Tanya Cello. Devon juga menunggu jawaban Anwar. Sebenarnya dia penasaran kenapa anak seusia Cello rela bekerja.
"Maaf, ngobrolnya nanti saja, aku harus bekerja. Pemilik tempat cucian mobil ini mengawasiku." Cello pun tak bertanya lagi setelah Anwar berkata demikian.
Cello terus berpikir mengapa Anwar harus bekerja. Namun, di saat ia mengamati, Anwar tiba-tiba pingsan.
Cello berteriak, Devon segera menolongnya. "Pa ayo antarkan dia pulang, dia temanku." Devon mengangguk. Dia tidak keberatan mengantar teman anaknya itu.
Sesampainya di rumah Anwar, Cello memapah Anwar karena dia sudah sadar. Kepalanya sangat pusing dan itu membuat keseimbangannya tidak terkontrol.
"Assalamualaikum," teriak Cello agar Murni segera membukakan pintu.
"Waalaikumsalam, Ya Allah Anwar kamu kenapa nak?" Murni terlihat khawatir ketika melihat anaknya yang lemas.
"Dia pingsan tadi Bu," jawab Cello mewakili Anwar.
"Terima kasih banyak nak sudah menolong Anwar," kata Murni dengan tulus.
"Sama-sama Bu."
"Oh ya Tuan ini siapa?" Tanya Murni ketika melirik ke arah Devon.
"Terima kasih banyak pak sudah menolong anak saya. Saya akan melunasi uang yang dipinjamkan oleh anak bapak dalam waktu dekat. Saya janji," ucapnya dengan nada bergetar karena takut.
"Tidak perlu Bu. Saya anggap itu sebagai sedekah," jawab Devon dengan bijak.
"Ya Allah terima kasih banyak banyak. Terima kasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan anda." Murni hendak meraih tangan Devon tapi Devon menyembunyikan tangannya.
"Tidak perlu seperti itu Bu. Saya ikhlas." Devon melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. " Baiklah, saya permisi," pamit Devon. Murni mengangguk.
Sedangkan Cello berpamitan dengan mencium tangan Murni. Murni mengelus rambutnya.
Pada saat itu mantan suami Murni hendak masuk ke dalam rumah tapi Devon keluar bersama Cello sehingga ia mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia mengira laki-laki dewasa yang berjalan dengan anak kecil seusia anaknya itu adalah pacar baru Murni.
Diam-diam mantan suami Murni itu memotret ketika Devon dan Murni sedang berhadapan dan dalam keadaan tersenyum. Mantan suami Murni tersenyum licik setelah berhasil mengambil gambar mereka.
Setelah memastikan mobil itu pergi dari halaman rumah Murni, mantan suaminya masuk.
"Murni, Murni." Teriaknya.
__ADS_1
Murni keluar dari kamar Anwar. "Mau apa lagi kamu datang ke sini hm? Bukankah baru kuberi uang beberapa hari yang lalu? Jangan bilang kau ingin memerasku lagi." Tanya Murni dengan nada dingin.
"Sekarang aku tahu dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu. Rupanya kamu memiliki pacar orang kaya," ledek mantan suami Murni.
"Jangan asal bicara kamu. Yang kamu lihat tadi adalah orang tua dari teman Anwar yang mengantarkannya, karena Anwar pingsan di jalan."
Mantan suaminya tertawa nyaring. "Jangan coba membohongiku agar kamu bisa lepas dariku. Aku ini bukan orang bodoh," ancamnya sambil menangkup dagu Murni.
Murni melepas tangan yang mencengkeram dagu nya. "Kamu ini laki-laki breng**sek, laki-laki tidak berguna." Murni melempar segala sesuatu yang bisa diraihnya untuk mengusir mantan suaminya itu. Dia terpaksa keluar setelah Murni mengamuk.
Lalu mantan suaminya itu memiliki ide yang sangat licik. Dia mencoba mencari tahu siapa laki-laki yang datang ke rumah mantan istrinya itu.
Keesokan harinya, mantan suami Murni berada di depan sekolah Anwar. Ia sengaja mencari tahu teman anaknya yang datang ke rumah mantan istrinya kemaren.
"Nah tu dia orangnya," gumam ayahnya Anwar sambil membuang puntung rokok yang telah habis dihisap.
Dia mengikuti Cello dari belakang menggunakan sepeda motor. Dia berhenti ketika melihat teman anaknya masuk melalui gerbang rumah yang tinggi. "Gila, ini sih kekayaannya gak habis tujuh turunan." Mantan suami Murni kagum melihat kemegahan rumah Devon.
"Hei mau apa kamu?" Tanya satpam yang bertugas.
"Apa pemilik rumah ini ada di rumah?" Tanya mantan suami Murni.
"Tentu saja. Ada urusan apa kamu ingin menemui beliau?" Tanya satpam itu.
Ayahnya Anwar menyuruh satpam untuk mendekat. "Saya ingin melapor kalau suaminya selingkuh dengan mantan istri saya."
Satpam itu terkejut tapi dia tak lantas membukakan pintu untuknya. "Kamu kira saya percaya sama orang seperti kamu? Sudah pergi sama!" Usirnya.
Cindy keluar ketika mendengar keributan di luar. "Ada apa ini pak?" Tanyanya pada satpam penjaga rumahnya.
"Tidak ada apa-apa, hanya orang gila," jawab satpam tersebut.
"Siaalan, saya ke sini untuk melaporkan bahwa suami anda berselingkuh dengan mantan istri saya."
"Apa kamu punya bukti?" Tanya Cindy.
Mantan suami Murni langsung memperlihatkan foto yang sempat dia ambil.
Apakah Cindy akan percaya? Baca kisah yang selanjutnya.
__ADS_1