Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 195


__ADS_3

Ibunya Alan kaget ketika mendengarkan penuturan tetangga Alan bahwa Tania adalah seorang janda. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana.


Lalu setelah Alan sampai di rumah, ibunya menanyakan kebenaran status Tania pada anaknya.


"Alan, kenapa kamu tidak bilang kalau Tania itu janda?"


"Apa itu penting Bu? Bukannya ibu sendiri yang bilang asalkan aku bahagia kalian akan merestui hubungan kami."


"Tapi dia itu seorang janda."


"Apa masalahnya Bu?"


"Dia di cerai atau suaminya meninggal?" tanya sang ibu.


"Dia diceraikan karena tidak kunjung hamil tapi itu bukan salahnya Bu. Tania sudah memeriksakan kandungannya dan kandungannya subur kemungkinan adalah suaminya yang mandul."


"Bagaimana kamu bisa berprasangka buruk seperti itu kepada orang lain?"


"Bukankah ibu sendiri juga berprasangka buruk pada Tania. Dia itu wanita baik-baik Bu. Hanya dia yang bisa membuat aku move on dari Irene." Alan tak mau kalah dengan ibunya.


"Ibu jadi ragu, apakah kamu nantinya akan bahagia jika sudah menikah dengannya? Apalagi dia sudah pernah gagal dalam berumah tangga."


"Jangan suka menilai orang lain. Kita tidak tahu masa depan kita. Semua yang tahu hanya Tuhan yang Maha Kuasa. Ibu doakan saja agar aku dan Tania bisa hidup dengan bahagia."


Ada rasa tidak rela ketika ibunya menganggukkan kepala. Sebagai seorang ibu tentu saja dia menginginkan yang terbaik untuk anaknya, apalagi Alan anak laki-laki satu-satunya di keluarga mereka.


"Jangan karena status jandanya Ibu jadi menghalangi pernikahan Alan," kata sang suami.


"Ibu akan malu dengan tetangga kita pak. Alan sudah menikah di usia yang lewat ini malah dapat janda."


"Sudahlah Bu. Sepertinya Tania itu janda yang istimewa. Lihat dia kemarin, dia membawa mobil. Bukankah dia adalah orang kaya?"


"Bapak ini kenapa malah memikirkan harta?" Protes istrinya.


"Kalau orang lain meremehkan dia karena statusnya yang janda, ibu bisa memamerkan kekayaan Tania."


"Jangan mengompori Ibu, Pak. Ibu tidak suka. Saat ini ibu merasa tidak yakin untuk merestui hubungan Alan dan Tania."

__ADS_1


"Jangan seperti itu Bu, kamu akan menyiksa anakmu. Mau sampai umur berapa dia tidak menikah?"


Ibunya menghela nafas berat. Kalau dipikir-pikir jika menjadi pemilih Alan juga tidak akan menikah sampai kapanpun.


...Sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Tuhan. Manusia banyak memiliki kekurangan, asalkan kita bisa menerima kekurangan pasangan maka tidak jadi masalah untuk kita kedepannya....


...Kekurangan pasangan tidak harus disesali tapi sebagai pasangan yang baik kita harus menutupi kekurangan itu dengan kelebihan kita saling melengkapi satu sama lain lebih baik daripada saling menjatuhkan....


*


*


*


Tania menceritakan kepada ibunya kalau orang tua Alan telah menerimanya dengan baik.


"Syukurlah Ibu kira mereka tidak mau menerima kamu karena status kamu yang janda."


"Awalnya aku juga berpikir begitu, Bu. Tapi kemarin aku tidak menyinggung statusku sama sekali. Mereka juga tidak menanyakannya jadi aku pikir tidak perlu menceritakan statusku."


"Bagaimana kalau mereka tahu dari orang lain apakah mereka masih bisa menerima kamu dengan baik?" Tanya sang ibu.


"Ibu juga mendoakan yang terbaik untukmu. Jika mereka memang tidak menyukai kamu sebaiknya kamu mundur."


"Kenapa begitu? Kenapa tidak memperjuangkan pasangan kita?"


"Apa yang kita inginkan tidak sesuai harapan," jawab ibunya Tania sambil berlalu.


"Baiklah aku akan menuruti saran ibu."


Keesokan harinya Tania mengunjungi rumah Alan karena dia tahu orang tua Alan masih menginap di sana. Sepulang kerja dia membawakan satu keranjang buah besar untuk kedua orang tua Alan.


Saat ibunya Alan berpapasan dengan Tania wajahnya terlihat cemberut. Tania merasa aneh karena terakhir kali mereka bertemu orang tua Alan masih menyambutnya dengan baik.


"Ada apa Bu? Apakah saya memiliki kesalahan pada ibu?" Tanya Tania hati-hati. Dia tidak ingin menyinggung perasaan orang tua Alan.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu ini seorang janda?" Tanya ibunya Alan.

__ADS_1


"Maafkan saya, saya tidak bermaksud menyembunyikan status saya, tapi kemarin kita tidak menyinggung masalah itu." Tania berusaha membela diri.


"Sebenarnya Ibu sedikit khawatir karena kamu pernah gagal dalam pernikahan."


"Saya bercerai karena suami saya kecewa setelah 5 tahun menikah tidak memiliki anak. Tapi saya sudah memeriksakan kandungan saya ke dokter dan itu tidak jadi masalah. Saya curiga pada mantan suami saya karena di pernikahan keduanya dia juga tidak kunjung memiliki anak. Padahal istrinya yang sekarang juga bilang kalau dia tidak mandul."


"Aku tidak tertarik dengan ceritamu," jawab Ibunya Alan.


Kalimat yang pendek namun menyakitkan bagi Tania. Padahal Tania berusaha menjelaskan kepada orang tua Alan agar dia tidak salah paham kenapa dia bisa sampai bercerai.


"Apakah ibu takut kalau di pernikahanku dengan Mas Alan tidak menghasilkan keturunan?"


"Tentu saja semua orang menakutkan hal itu."


"Bolehkah aku bercerita sedikit tentang kisah hidup istri atasanku yang tidak bisa memiliki keturunan karena rahimnya diangkat akibat penyakit kanker yang diderita?"


"Kenapa kamu malah menceritakan kisah-kisah orang lain? Kamu ingin mendongeng?" omel ibunya Alan.


"Saya hanya ingin Ibu tahu kalau segala sesuatu bisa terjadi. Istri atasan saya memang tidak bisa melahirkan tapi Tuhan begitu baik, dia menemukan bayi yang bisa diadopsi dan dirawat hingga besar."


"Lalu apakah kamu berniat untuk mengadopsi anak jika nanti kamu tidak bisa memiliki keturunan bersama Alan?"


"Kenapa tidak, ada banyak cara untuk bisa memiliki anak. Meskipun tidak lahir dari rahim saya tapi saya rasa memelihara anak yang tidak memiliki orang tua akan lebih mulia karena sama saja kita mengangkat derajatnya."


Ibunya Alan tidak menyangka kalau Tania berpikiran sebijak itu. Wanita paruh baya itu merasa kecil karena dia sempat berpikir picik.


"Maafkan Ibu yang telah berprasangka buruk kepadamu."


Tania memeluk calon mertuanya. "Tidak apa Bu, saya juga seorang wanita. Saya memahami perasaan ibu yang ingin terbaik untuk anaknya."


"Apa yang kamu katakan itu benar. Ibu terlalu khawatir pada jodoh Alan, padahal kamu ini wanita yang sangat baik."


Tania mengurai pelukannya. "Terima kasih Bu telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menikahi Mas Alan. Aku begitu beruntung memiliki calon mertua seperti anda," puji Tania. Ibunya Alan merasa tersanjung


Alan dan ayahnya yang menguping dari ruang samping merasa tenang dan lega karena mereka akhirnya berdamai.


"Aku jadi nikah yah." Begitu senangnya Alan ketika berseru di depan ayahnya

__ADS_1


"Dasar anak gemblung."


__ADS_2