
"Jadi apa yang harus saya lakukan pada bayi ini, Pak?" Tanya Tommy pada polisi yang bertugas. Dia bingung harus berbuat apa.
"Kami akan memproses laporan anda tapi sementara waktu anda bisa membawa anak ini dulu." Jawaban polisi itu membuat Tommy tak terima.
"Lah mana mungkin pak. Saya punya keluarga. Bagaimana kalau mereka salah paham terhadap saya?" Tommy begitu kesal pada keadaan.
"Lalu apa anda mau meninggalkan anak itu di sini. Kami laki-laki tentu tidak bisa mengurusnya. Lagipula ini bukan panti asuhan pak," tolak polisi tersebut.
"Baik, kalau begitu akan saya serahkan anak ini ke panti asuhan saja," ucap Tommy.
"Kalau begitu saya tidak akan memproses laporan anda karena anak ini akan mendapatkan wali ketika masuk ke panti asuhan."
Tommy merasa kurang puas dengan jawaban polisi. "Tapi saya mau orang tua bayi ini dihukum karena telah meninggalkan anaknya di mobil saya begitu saja. Saya juga ingin lihat bagaimana wajah orang tua yang tega membuang anaknya. Padahal banyak orang yang kurang beruntung karena belum memiliki keturunan." Tommy mendadak berapi-api.
Saat melihat wajah bayi laki-laki tersebut ia jadi tidak tega meninggalkannya. Tapi ia harus siap mendapatkan banyak pertanyaan dari orang tua dan istrinya nanti ketika sampai di rumah.
"Baiklah, saya akan meninggalkan nomor telepon dan alamat saya, tolong proses laporan saya lalu tangkap segera orang tua bayi ini. Sementara anak ini akan saya bawa pulang," putus Tommy dengan berat hati.
Sebenernya dia juga menginginkan bayi tapi tidak dengan cara seperti ini. Ia tidak mau mengadopsi bayi yang asal usulnya tidak jelas. Tapi sekilas ketika melihat wajah damai anak ini ketika sedang tertidur Tommy merasa iba.
"Bagaimana bayi setampan kamu bisa disia-siakan oleh orang tuamu begitu saja? Padahal ada orang seperti ku yang tidak bisa memiliki keturunan. Tapi mereka yang memiliki kesempatan untuk punya anak malah membuangnya." Tommy berbicara pada bayi yang sedang tertidur itu.
Lalu ia mampir ke minimarket untuk membeli botol dan susu formula. Sementara bayi itu ditinggalkan di dalam mobilnya.
Selang beberapa saat kemudian ia sampai di halaman rumahnya. Irene berlari untuk menyambut kepulangan sang suami. Tapi dia terkejut ketika melihat Tommy membuka pintu mobil bagian belakang.
Irene pun mendekat. "Bayi?" Ucap Irene yang terkejut. Matanya memerah menahan air matanya. "Anak siapa ini Mas?" Tanya Irene dengan nada bergetar.
__ADS_1
Tommy menghela nafas berat. "Nanti akan kuceritakan bisakah kita membawanya masuk terlebih dahulu?" Irene mengangguk. Dadanya terasa sesak karena suaminya pulang membawa bayi.
"Apakah selama ini dia berselingkuh? Tega sekali kamu Mas," Irene mengusap air matanya yang tumpah.
Lalu Maya dan suaminya terkejut melihat Tommy menggendong bayi. "Siapa bayi itu? Apa dia anakmu?" Tuduh sang ayah.
Tommy mencoba tenang. "Kalian dengarkan penjelasan aku dulu. Anak ini tiba-tiba ada di dalam mobilku ketika aku meninggalkan mobilku di parkiran restoran. Aku tidak tahu ini anak siapa."
"Jadi dia bukan anak dari hasil selingkuhan kamu Mas?" Tuduh Irene. Ia curiga suaminya menikah lagi.
"Ren, kenapa kamu sampai berpikir begitu padaku? Apa kamu tidak percaya pada suamimu ini?" Tommy sedikit tersinggung dengan omongan istrinya.
"Bisa jadi," jawab Irene lirih.
"Demi Tuhan ini bukan anakku, aku sudah lapor ke polisi tapi mereka tidak mau menampungnya. Akhirnya dia ku bawa pulang." Tommy pasrah yang penting dia sudah berkata sejujurnya pada orang tua dan istrinya.
"Ah, aku sempat belikan dia su*su formula untuknya," sahut Tommy.
"Mas, tolong buatkan su*su untuk dia!" Perintah Irene.
Tommy bingung bagaimana cara membuat su*su. Maya pun maju dan mengambil botol dari tangan Tommy. "Biar mama saja yang buatkan. Kamu begini saja tidak bisa bagaimana bisa mau punya anak," cibir Maya.
Maya pun mulai menyendokkan bubuk su*su ke dalam botol lalu menambahkan dengan sedikit air panas lalu menambahkan air dingin kemudian diko*cok.
"Berikan dia su*su," kata Maya sambil menyodorkan botol su*su itu pada menantunya.
Benar saja setelah Irene memberikan su*su untuk anak itu dia langsung diam dan tertidur dalam gendongan Irene. "Aku menyukai anak ini, bisakah kita mengadopsinya saja," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Irene setelah banyak berpikir.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu yakin? Dia masih punya orang tua bagaimana kalau suatu saat orang tuanya mengambilnya lagi?" Tanya Tommy pada istrinya.
"Lalu kenapa orang tuanya malah membuangnya? Apa dia berhak memiliki anak ini setelah dibuang? Memangnya dia ini barang. Kamu tidak lihat Mas anak sekecil ini mana mungkin bisa bertahan jika tidak ada yang merawatnya? Orang tuanya tidak punya perasaan, tega sekali menyia-nyiakan pemberian Tuhan selucu ini," Irene mencium pipi bayi itu sayang.
"Kata polisi aku boleh membawanya sementara waktu sampai orang tuanya ditemukan. Jadi kamu bisa merawatnya."
Tommy tahu perasaan istrinya yang ingin sekali memiliki anak maka ia pun membiarkan istrinya merawat bayi mungil itu sampai ada kejelasan dari pihak kepolisian.
"Kita namai siapa bayi kecil ini?" Tanya Irene meminta pendapat keluarganya.
"Bagaimana kalau kita memanggilnya dengan nama Kevin," usul Maya.
"Aku setuju, Ma. Bagus sekali namanya." Irene kembali memeluk anak itu.
"Mulai sekarang kamu tinggal bersama kami," hatinya sungguh bahagia mendapatkan seorang bayi. Meskipun tidak lahir dari rahimnya Irene berharap ia bisa merawat anak itu hingga besar nanti.
Tommy mengajak istrinya masuk dan membawa barang-barang Kevin. "Aku tidurkan dia di sini," Irene meletakkan bayi laki-laki itu dengan perlahan.
"Apa kau senang?" Tanya Tommy. Irene mengangguk. "Apa ini jawaban dari Tuhan atas doaku selama ini?" Tanya Irene pada suaminya.
"Entahlah. Yang jelas kamu bisa merawatnya Sleman dia tinggal di sini. Nikmatilah masa-masa menjadi ibu meski sebentar!"ucap Tommy pada istrinya dengan lembut.
Lalu ia menempelkan bibirnya ke bibir Irene. Menyesap bibir yang selalu ia rindukan itu. Nafas Irene semakin memburu karena merasakan kenikmatan.
"Aku merindukanmu," bisik Tommy ke telinga Irene. Irene tersenyum pada suaminya. Tommy melanjutkan aktivitasnya dengan mencium bagian leher sang istri. Irene mere*mas rambut suaminya. Namun, saat Tommy akan menikmati buah-buahna istrinya, bayi itu terbangun. Ia menangis dengan kencang.
Tommy memukul udara karena kesal. Sedangkan Irene segera mendekat pada anak kecil itu untuk menenangkan bayi itu. "Bagaimana nasibku selanjutnya?" Batin Tommy setelah hasratnya tak tersalurkan.
__ADS_1