Click Your Heart

Click Your Heart
Part 115


__ADS_3

Ruby benar-benar mengajak tukang bubur ayam itu pulang ke rumah Devon. Ketika sampai di depan rumah, Devon malah tersenyum senang.


"Ruby, darimana kamu tahu kalau om sedang ingin makan bubur ayam?" Tanya Devon antusias. Ruby malah bingung. Pasalnya tukang bubur itu bersikeras ikut Ruby karena gadis itu tidak membawa dompet.


"Om pengen makan juga?" Tanya Ruby memastikan. Devon mengangguk.


"Bang, satu mangkuk ya buat om saya!" Pinta Ruby pada tukang bubur itu.


Tukang bubur itu mendekat ke arah Ruby lalu berbisik di telinganya. "Dibayar nggak nih?"


"Ya ampun bang, dibayarlah masak abang nggak yakin sama keuangan om saya, lihat rumahnya aja segede gini mana mungkin ngutang," terang Ruby panjang lebar.


"Ruby kamu sedang bicara apa dengan tukang bubur itu?" Tanya Devon penasaran ketika melihat keduanya malah berbisik-bisik.


"Eh nggak apa om, Bang cepetan buatin!" Pinta Ruby.


"Kamu nggak mau pesen Ruby?" Tanya Devon.


"Ah, nggak om Ruby dah kenyang," jawab Ruby sambil mengelus perutnya.


"Ya sudah, kalau gitu panggilkan semua asisten rumah tangga kita traktor bubur ayam pagi ini," kata Devon.


Cindy yang mendengar kegaduhan di luar berjalan mendekat. "Ada apa ini Pa?" Tanya Cindy pada suaminya.


"Mama mau bubur ayam nggak? Ruby bawa tukang bubur ke sini," seru Devon.


"Papa kan habis sarapan, masih lapar?" Tanya Cindy. Devon hanya mengangguk. Cindy merasa curiga pada suaminya. Pasalnya jarang sekali dia melihat sang suami makan banyak seperti ini.


"Iya, enggak tahu kenapa perut aku tiba-tiba lapar lagi lihat tukang bubur ayam," jawab Devon sambil terkekeh kecil. Cindy hanya menggelengkan kepala.


Devon bahkan nambah sampai dua mangkok. "Pa, makannya udah cukup nanti perutnya begah lho." Cindy mengingatkan.


Benar saja, baru menyendok beberapa kali tiba-tiba Devon ingin memuntahkan isi perutnya. Laki-laki itu berlari ke belakang. Cindy segera menyusul.


Sedangkan tukang bubur itu terlihat panik karena buburnya belum dibayar. Ia pun mencari keberadaan Ruby. "Neng, buburnya dibayar atuh, gimana ini? Saya bisa rugi kalau udah makan tapi nggak bayar," omel tukang bubur tersebut.


Lalu Ruby mengambil uang untuk tukang bubur itu. Ia menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah. "Kembaliannya ambil saja!" Kata Ruby.


Sementara itu, Cindy sedang memijit bagian belakang leher suaminya. "Mas, kamu masuk angin ya? Kok bisa sampai muntah gini sih?" Devon tidak menjawab, wajahnya terlihat pucat. Ia terduduk lemas di samping toilet.

__ADS_1


"Ya ampun Mas, kamu beneran sakit ya, aku buatkan teh hangat dulu ya." Ketika Cindy hendak beranjak Devon menarik tangannya.


"Sayang, tidak usah. Aku ingin begini sebentar." Devon memeluk Cindy dari belakang. "Mencium aroma tubuhmu membuatku nyaman dan tidak merasakan mual lagi," ucapnya kemudian.


Cindy mengulas senyum. "Alah, itu mah akal-akalan kamu aja, iya kan?" Ledek Cindy.


Devon malah terkekeh sambil menciumi ceruk leher Cindy. "Aku tidak bohong sayang." Kini dia membalik tubuh istrinya dan menghadap ke arahnya.


Devon menyibak anak rambut yang terurai ke depan. "Aku mencintaimu sayang," ungkapnya.


Cindy mengerutkan keningnya. "Ada apa tiba-tiba romantis seperti ini?" Tanya Cindy sambil melipat kedua tangannya.


Devon gemas sekali dan tak tahan untuk tidak mencium bibir Cindy sekilas. "Kamu canduku," seru Devon lalu kembali mencium bibir Cindy lebih dalam.


Di saat yang sama Cello masuk ke kamar orang tuanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Ups," Cello menutup matanya tapi membuka bagian di antara jari-jari kecilnya untuk mengintip.


Cindy menyadari keberadaan Cello lalu melepas pagutannya. Ia mendorong Devon agar menjauh. "Sayang, kita keluar yuk," Cindy agak salah tingkah saat tertangkap basah anaknya saat berciuman dengan sang suami.


...***...


Setelah agak siang, Cindy meminta izin pada Devon untuk pergi ke toko rotinya sebentar. "Mas, aku mau ke toko roti, Irma menyuruhku datang karena kami sedang mendapat banyak pesanan karena kami kekurangan karyawan," kata Cindy beralasan.


Wanita itu ingin mengunjungi klinik kandungan untuk memeriksakan kehamilannya benar atau tidak.


"Mas, aku tidak berencana ke toko hari ini. Tapi mau bagaimana lagi toko kekurangan tenaga," katanya setengah memohon.


"Baiklah, tapi aku ikut biar aku yang bawa mobilnya."


"Tidak usah Mas. Mas Devon kan lagi sakit, di rumah saja temani Cello main," tolak Cindy secara halus.


"Sayang, kamu tidak berencana kemana-mana kan selain ke toko roti?" Devon menatap curiga pada istrinya.


"Tentu saja tidak, aku benar-benar akan ke sana, nanti kalau sudah sampai aku video call agar kamu percaya."


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi sebelah kanan Devon. Devon tersenyum tipis. "Hanya itu?"


Cindy tak mengerti maksud suaminya. "Apa Mas?"

__ADS_1


"Hanya itu yang bisa kau gunakan untuk membujuk suamimu?"


"Lalu apalagi?" Tanya Cindy bingung.


Devon mendekat hingga membuat Cindy mundur. "Mas, mau apa?"


Tanpa memberi jawaban, Devon langsung mencium bibir istrinya. Meraup dengan rakus bahkan tangannya merayap kemana-mana. Cindy tersentak kaget mendapatkan sentuhan yang begitu liar dari suaminya. Namun, ia tak ingin mengelak ia malah menginginkan lebih.


Brak


"Om..." Seketika mulut Ruby bungkam saat melihat adegan dewasa yang dipertontonkan oleh Cindy dan Devon secara live. Lalu ia menutup mata dan berbalik agar tidak lagi melihatnya.


"Arrgh sial, kenapa ada saja yang mengganggu," umpat Devon saat hasratnya sudah di ujung tapi tiba-tiba jatuh begitu saja karena mendengar suara Ruby.


"Ehem," Devon berdehem untuk menetralkan kegugupannya.


"Ada apa Ruby?" Tanya Devon pada anak angkatnya itu.


"Di bawah ada om Bayu yang mencarimu, apa yang harus aku katakan padanya?" Tanya Ruby sedikit tidak enak.


"Suruh tunggu, om akan turun."


Cindy terkekeh melihat suaminya dengan wajah kesal. "Kenapa kamu malah tertawa sayang?" Tanya Devon.


"Hari ini sudah dua kali kita tertangkap basah oleh anak-anak. Lain kali kunci pintu dulu sebelum mengerjaiku," ejek Cindy.


"Semoga pikiran mereka tidak traveling kemana-mana," kata Devon sekenanya.


Setelah itu, Devon turun bersama istrinya. Namun, Cindy menjinjing tas kecil di lengannya.


Bayu mengangguk hormat pada Cindy saat bertemu. "Apa anda akan keluar?" Tanya Bayu dengan sopan.


"Iya, Pak Bayu. Saya akan menyusul istrimu ke toko roti sebentar. Mereka memerlukan saya," jawab Cindy. Bayu mengangguk paham.


"Ada apa Bay?" Tanya Devon sambil menyuruh Bayu duduk.


"Investor mengajak bertemu siang ini Pak," jawab Bayu.


"Owh padahal sudah aku bilang aku ingin cuti saja sehari."

__ADS_1


"Tapi mereka akan kembali ke negaranya Pak besok pagi," jawab Bayu.


"Baiklah, tapi hanya sebentar, aku kurang enak badan hari ini." Bayu mengangguk patuh.


__ADS_2