Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 182


__ADS_3

"Maafkan saya," Bu Susi menangis setelah memecahkan vas bunga di rumah Cindy.


Cindy mengusap-usap lengan Bu Susi. "Sudah Bu tidak apa-apa. Apa yang ibu lakukan subuh-subuh begini?" Tanya Cindy baik-baik.


"Ibu mau ke dapur tapi gelap. Saat ibu berjalan tak sengaja menyenggol vas bunga itu."


"Ibu mau apa ke dapur?" Tanya Cindy.


"Mau masakin buat kalian."


Cindy tersenyum. "Tidak perlu repot-repot, Bu. Sudah ada asisten rumah tangga yang akan menyiapkan makanan."


"Kalau begitu biar ibu yang membersihkan pecahan vas bunga itu," ucapnya karena merasa bersalah.


"Tidak usah, Bu. Biar nanti saya minta tolong asisten rumah tangga yang membereskannya."


Setelah itu Bu Susi kembali ke kamarnya untuk menunaikan sholat subuh. Dia tidak keluar sampai matahari tinggi.


"Ma, nenek nggak ikut sarapan ya?" Tanya Daisy.


"Iya ya, nanti biar mama yang panggil nenek. Kalian lanjutin makannya.


Tok tok tok


"Apa ibu di dalam?" Tanya Cindy.


"Iya," jawabnya lalu membukakan pintu.


"Ayo Bu sarapan," ajak Cindy.


"Nanti ibu beli saja," tolaknya.


"Kenapa harus beli, di sini banyak makanan Bu. Mari kita keluar. Anak-anak ingin berpamitan karena sebentar lagi mereka berangkat ke sekolah." Cindy mencoba membujuk ibunya Alan. Beliau mengangguk.


Meski bukan keluarganya tapi Cindy memperlakukan ibunya Alan selayaknya anggota keluarganya sendiri.


Setelah Bu Susi keluar, Daisy dan Cello meraih tangannya untuk disalami. Hatinya merasa terharu. "Bernagkat dulu ya nek," pamit Daisy dan Cello bergantian.


"Andai saja Alan menikah dari dulu pasti aku sudah memiliki cucu seusia mereka," gumamnya dalam hati.


Setelah anak-anak dan suaminya pergi, Cindy juga akan menyusul. "Bu, hari ini saya mau ke toko sebentar. Kalau ingin sesuatu minta saja pada asisten rumah tangga.

__ADS_1


"Iya."


Cindy berangkat naik taksi. Sesampainya di toko Alan dan karyawan lain menyambutnya. "Apakah ibuku menyusahkan kalian?" Tanya Alan pada atasannya itu.


"Tidak," jawab Cindy berbohong.


"Oh ya kamu nggak ada rencana buat pindah tempat kos yang lebih besar. Bukannya selama ini tabunganmu lebih dari cukup untuk menyewa rumah?"


"Aku masih nyaman dengan tempat kosku yang lama," jawab Alan.


"Nanti sore aku akan menjemput ibuku."


"Untuk apa?"


"Bukankah sebaiknya dia pulang saja?" Tanya Alan meminta pendapat Cindy.


"Dia tuh pengen dekat dengan kamu, Lan. Masa nggak ngerti juga sih?"


"Apa aku nyewa rumah saja ya? Biar aku bisa tinggal bersama ibuku di sini."


"Iya bukankah kamu anak satu-satunya? Ibumu pasti akan senang jika bisa berkumpul dengan keluarganya."


"Baiklah, aku akan mulai mencari rumah sederhana." Alan membulatkan tekad.


Daisy sampai di rumah terlebih dulu. "Nenek," panggil Daisy ketika melihat wanita tua yang menginap di rumahnya.


"Nenek sedang apa?" Tanya Daisy.


"Nenek sedang menyiram bunga," jawabnya sambil memegang selang.


"Kata mama bunga yang itu tidak boleh disiram air banyak-banyak." Daisy menunjuk ke tanaman sukulen dan kaktus milik Cindy.


"Memangnya kenapa? Nanti kalau bunganya tidak disiram bisa layu," jawabnya.


"Gitu ya nek?" Tanya Daisy yang sama-sama tidak mengerti. Bu Susi ikut mengangguk.


Setelah itu, Daisy mengajak wanita yang dipanggil nenek itu ke taman belakang rumahnya untuk melihat ikan koi koleksi Devon.


"Ikannya besar-besar ya, 1 saja cukup untuk dimakan satu rumah. Bagaimana kalau nanti nenek buat pepes kemiri?"


"Itu ikan hias, nek mana enak kalau dimasak," kata Daisy.

__ADS_1


"Eh, siapa bilang? Kakek dulu sering dapat ikan emas di sungai segede ini. Lalu nenek pepes pakai bumbu kemiri lalu dibakar rasanya sedap," ungkapnya.


"Wah kalau gitu, Daisy mau makan ikan pepes."


Setelah itu Bu Susi mengambil satu ekor ikan tanpa sepengetahuan asisten rumah tangga maupun pemiliknya.


Dia menyiangi lalu memotong menjadi beberapa bagian. Setelah itu dia memarinasi ikan koi itu. Daisy kagum melihat Bu Susi memasak.


"Wah nenek sama hebatnya dengan mamaku kalau soal memasak," puji Daisy sambil mengacungkan jempolnya.


"Wah masak apa, Bu?" Salah seorang asisten rumah tangga menanyainya.


"Ikan pepes kemiri," jawab Bu Susi.


"Aromanya menggugah selera. Jadi pengen makan," ucapnya sambil mengelus perutnya yang rata.


"Silakan, masih ada sisa di panggangan," kata Bu Susi.


Setelah itu, satu per satu anggota keluarga di rumah itu kembali ke rumah. Hari ini Devon pulang cepat karena dia habis pulang dari visit ke kantor anak cabang. Jadi dia malas kembali ke kantor.


"Wah aromanya enak sekali." Devon mengikuti bau yang mengundangnya.


"Ayo, pa ikut makan sekalian," ajak Cindy.


"Ikan apa ini?" Tanya Devon.


"Ikan mas yang ada di kolam belakang," jawab Bu Susi tanpa rasa bersalah sedikitpun karena dia tidak mengerti soal jual beli ikan.


Devon melepeh ikan yang sudah masuk ke mulutnya. "Ikan koiku," ucapnya dengan wajah sendu. Bahunya meluruh ketika mendapati kenyataan ikan hias kesukaannya mati dipepes.


Bu Susi masih tidak menyadari kesalahannya. Dia hanya melihat Devon sedih ketika makan. Tapi dia tidak tahu kalau ikan yang dimasak itu adalah ikan berharga sangat mahal.


Cindy menyusul suaminya ke kamar. "Mas aku mohon jangan marah pada ibunya Alan. Mungkin dia tidak tahu dan mengira ikan itu ikan mas biasa."


"Tapi dia sudah keterlaluan. Kamu tahu berapa harga per ekornya?" Tanya Devon pada istrinya agar dia menebak harganya.


"Aku tidak mau menebak harganya. Yang jelas kita masih bisa beli lagi. Apa kamu tega menyuruh orang tuanya Alan mengganti kerusakan yang terjadi di rumah ini? Apa kamu yakin mereka sanggup?"


Devon kembali merenungkan omongan istrinya." Baiklah aku akan melupakan masalah ini." Meskipun Devon berkata demikian tapi di dalam hatinya dia masih tidak bisa diterima.


Usai makan Cindy keluar untuk mencari angin. Matanya tak sengaja menoleh ke tanaman yang hampir busuk. "Siapa yang telah menyiramnya?

__ADS_1


__ADS_2