
...Flashback on...
"Mama tidak boleh menikah dengan om Arya, aku tidak setuju, aku lebih suka mama menikahi Om Devon," kata Ruby.
"Tapi sekarang dia sudah menikah."
"Apa salahnya memiliki dua istri, pokoknya aku tidak setuju mama menikah dengan om Arya titik."
Lalu Siska menemui Arya. "Maaf sepertinya aku harus membatalkan pernikahan kita."
Arya terkejut dengan penuturan Siska. "Kenapa tiba-tiba kamu membatalkan pernikahan kita? Bukankah kita merencanakannya sudah lama?" Arya meminta penjelasan Siska.
"Ruby tidak setuju aku menikah denganmu," jawab Siska.
"Aku bisa membujuk Ruby dan mengambil hatinya pelan-pelan," Arya berusaha meyakinkan Siska.
"Aku tidak yakin," lalu Siska pergi begitu saja meninggalkan Arya. Sejak saat itu wanita tersebut tidak menghubungi Arya sama sekali dia benar-benar memutuskan hubungan mereka.
Arya sangat kecewa dengan keputusan yang diambil Siska secara sepihak. "Sialan kenapa wanita itu malah memutuskan aku," geram Arya karena tidak bisa menguasai kekayaan Siska.
Kemudian Arya mencari tahu kenapa Ruby tidak menyukainya. Pada akhirnya dia tahu kalau Siska ingin kembali pada mantan kekasihnya yang dulu.
"Brengsek aku akan cari tahu siapa laki-laki yang membuat hubunganku denganmu hancur seperti ini?"
Beberapa hari kemudian area mendapatkan laporan dari anak buahnya. "Devon Danz Smith, jadi laki-laki ini yang membuat aku gagal menikahi Siska. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan buat dia mendapat balasan atas kerugian yang aku terima." Arya meremas kertas yang sedang dia pegang.
...Flashback off...
...***...
"Sayang kemungkinan aku akan menjual mobil dan beberapa aset yang aku miliki untuk menutup kerugian perusahaan," kata Devon pada istrinya."
"Kalau itu untuk kepentingan perusahaan aku tidak masalah Mas. Jangan pikirkan aku, yang penting kamu selamatin perusahaan dulu dan jangan lupa cari tahu penyebab kerugian perusahaan. Aku yakin masalah bisa diatasi jika penyebab utama sudah terdeteksi," Cindy memberikan saran pada suaminya
"Kamu benar sayang. Aku akan menyuruh Bayu menyelidiki lebih mendalam lagi tentang masalah perusahaan."
"Papa," Cello berlari ke arah ayahnya.
"Hei kamu belum tidur?" Devon mencubit pipi anaknya.
"Aku ingin cekolah," kata Cello.
Devon tertawa mendengar ucapan anaknya. "Baiklah minta namamu untuk mendaftar ke sekolah besok," Cello sangat senang mendengarnya.
"Sayang bagaimana dengan uang sekolah Cello apa perlu aku carikan sekolah yang murah saja?" Cindy meminta pendapat pada suaminya.
"Tidak, carikan dia sekolah yang terbaik di kota ini."
Keesokan harinya, Cindy meminta sopir mengantarnya ke sebuah sekolah khusus balita.
"Apa di sini tempatnya pak?" tanya Cindy memastikan.
__ADS_1
"Benar Bu."
Lalu Cindy mengajak putranya masuk ke halaman sekolah itu. Cello tampak takjub melihat isi sekolah tersebut.
"Rame, aku cuka," katanya dengan girang.
"Mari kita temui kepala sekolah di sini terlebih dulu, aku akan mendaftarkanmu," Cindy mengajak putranya memasuki sebuah ruangan.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya kepala sekolah tersebut.
"Saya akan mendaftarkan anak saya untuk bersekolah di sini, apakah bisa?"
"Tentu saja mari saya jelaskan secara mendetail."
Setelah mendapat pengarahan dari kepala sekolah, Cello diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan sekolah hari itu juga tapi dengan syarat Cindy harus melunasi uang masuk.
"Sebaiknya kita pulang dulu sayang kita ambil uang besok kita mulai sekolah pagi-pagi, bagaimana?" Cindy berusaha membujuk putranya.
"Tapi Cello maunya sekarang," Cello merajuk. Anak itu lari sampai ke jalan raya.
"Cello awas," teriak Cindy ketika ada motor yang hampir menabrak putranya.
Namun, seseorang berhasil menyelamatkan Cello sehingga anak itu selamat dari bahaya. Cindy segera berlari menghampiri anaknya.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" Tanya Cindy yang cemas lalu ia memeluk anaknya dengan erat.
Setelah itu Cindy menggendong Cello. "Terima kasih telah menyelamatkan putra saya," ucap Cindy pada laki-laki yang telah menolong putranya.
"Oh ya perkenalkan nama saya Arya," laki-laki itu mengeluarkan tangan ke arah Cindy.
Cindy membalas uluran tangan Arya. "Nama saya Cindy dan ini anak saya Cello," ucapnya.
"Apa perlu saya antar pulang?" Arya menawarkan tumpangan.
"Tidak terima kasih saya diantar oleh sopir," jawab Cindy.
"Baiklah kalau begitu saya permisi," pamit Arya. Cindy menganggukkan kepala.
Kemudian Cindy membawa putranya masuk ke dalam mobil. "Jangan diulangi lagi ya sayang, itu berbahaya. Mama sangat khawatir," Cindy menasehati anaknya.
"Iya ma maafkan Cello."
"Kita ke mana nyonya?" Tanya sang sopir.
"Bawa kami pulang saja pak," perintah Cindy kepada sopir itu.
"Baik."
Arya tersenyum licik menatap kepergian Cindy. "Ini baru awal. Kita akan sering bertemu Cindy," gumam Arya. Setelah itu seseorang menghampiri Arya.
Tok tok tok
__ADS_1
Orang itu mengetuk kaca mobil Arya yang tertutup rapat. Arya membuka separuh kaca mobilnya. lalu dia menyodorkan sebuah amplop berisi uang kepada orang itu.
"Kerja bagus," kata Arya. Lalu ia mengibaskan tangannya agar orang suruhannya itu pergi.
"Terima kasih pak."
Setelah itu Arya memakai kacamata hitamnya lalu dia melajukan mobilnya ke arah kantor.
...***...
"Bay, apa kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan terkait masalah perusahaan?" Tanya Devon pada asisten pribadinya.
"Belum, pak."
Devon mengerutkan keningnya. "Apa maksudnya belum?"
"Sebagian besar usaha kita yang anjlok dibeli atas nama Arya," lapor Bayu.
"Arya?" Devon mengingat-ingat nama yang baru disebutkan oleh Bayu.
"Siapa dia aku tidak mengenalnya?"
"Pak Arya ini pemilik perusahaan furniture tapi tidak terlalu besar pak jadi namanya tidak tenar di kalangan kolega bisnis kita," terang Bayu.
"Lalu bagaimana dia tahu kalau saham kita sedang anjlok, apa sebelumnya dia sudah mencari tahu atau dia yang merencanakan kehancuran perusahaanku?"
"Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu pak. Kita perlu bukti yang konkret agar kita tidak salah menuduh orang," Bayu memberikan saran pada atasannya.
"Ya, apa yang kamu katakan itu memang benar. Coba kau cari tahu lebih detail tentang dia aku tidak ingin kita kecolongan." perintah devon kepada Bayu.
...***...
Ketika Devon sampai di rumah, Cindy membicarakan masalah sekolah Cello. "Mas, aku tadi sudah ke sekolahan Cello," lapor Cindy.
"Lalu bagaimana sayang?" Tanya Devon sambil membuka kaos kakinya.
"Untuk masuk pertama kali kita harus membayar uang gedung sejumlah tiga juta."
"Hanya itu?"
Cindy menggeleng. "Selain itu kita harus membayar uang bulanan empat ratus ribu per bulan dibayar di awal semester, uang seragam satu juta dan..."
Devon pusing mendengar omongan istrinya. "Baiklah sayang, akan aku buat semua di muka, tapi aku minta imbalan," Devon menyeringai licik.
"Apa? Pamrih sekali sama istri sendiri," kata Cindy mencebik kesal
"Siapkan air panas! Aku ingin mandi sekarang. Temani aku!" Devon menarik tangan istrinya dan memaksanya masuk ke dalam kamar mandi."
"Tidak mau, aku sudah mandi tadi sore nanti masuk angin," protes Cindy.
"Tidak akan kubiarkan angin masuk ke dalam tubuhmu. Karena aku yang akan menghangatkan tubuhmu."
__ADS_1