Click Your Heart

Click Your Heart
Part 79


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, Tommy menjemput Irene di tempat kosnya seusai dia pulang kerja.


Tin tin


Bunyi klakson itu membuat Irene keluar dari kamar. Ia tampak tersenyum melihat pacar barunya itu berdiri di samping mobil.


Irene keluar dan mengunci kamarnya. Senyum lebar Irene membuat Tommy yang melihatnya seolah merasakan aura bahagianya.


Pakaian Irene yang hanya menggunakan sweeter warna nude dipadukan dengan celana jins panjang membuat Irene terlihat manis. Meski berkacamata Irene termasuk golongan gadis yang wajahnya tak bosan bila diamati.


"Kamu sudah siap?" Tanya Tommy pada saat Irene mendekat. Irene mengangguk cepat.


"Kita mau kemana?" Tanya Irene.


"Jalan-jalan seperti pasangan kekasih lainnya," jawab Tommy bersemangat.


"Mas apa mas tidak keberatan jalan sama aku?" Tanya Irene.


"Kenapa harus keberatan orang badan kamu aja kecil gitu," ejek Tommy diiringi gekak tawa.


"Ihk Mas Tommy," Irene merajuk.


"Mas, tapi aku boleh nggak nyobain din din apa itu yang makan malam romantis?" Tanyanya.


"Candilight dinner maksud kamu?" Tanya Tommy balik.


"Iya pokoknya itu, kalau aku lihat di serial Korea itu keren hehe."


"Tapi waktu itu kan udah pernah aku ngajakin kamu. Tapi kalau mau lagi ayo."


"Eh iya udah pernah ya terus kita mau kemana dong?" Tanya Irene bingung.


"Aku mau ngajakin kamu ke mall aja gimana?" Tommy meminta pendapat.


"Iya deh daripada bingung juga, hehe."


Ketika di mall Tommy dan Irene bergandengan tangan layaknya pasangan muda lainnya.


Dari kejauhan Maya melihat Tommy jalan bersama seorang gadis. Lalu ia mendekat ke arahnya.


"Tommy," panggil Maya. Tommy pun cepat-cepat melepas pegangan tangannya.


"Dia siapa?" Tanya Maya menelisik Irene dari kaki hingga ujung rambut.


"Dia dia teman Tommy Ma." Irene tidak percaya kalau dia hanya menganggapnya sebagai teman di depan ibunya. Padahal di depan umum dia berani memeluk Irene.

__ADS_1


Irene tersenyum saat menatap Maya. "Hallo tante, saya Irene," Irene mengulurkan tangannya dengan ramah.


Maya tak membalas uluran tangan Irene. Irene menarik tangannya kembali. Ada tasa sedih dan kecewa seperti tak dianggap. "Oh ya, nanti pulang secepatnya ya," kata Maya sebelum dia beranjak pergi.


Tommy menghembuskan nafas lega. "Mas kenapa tidak mengakui hubungan kita di depan ibumu?" Protes Irene sambil menahan kesal.


"Aku aku rasa belum saatnya sayang, ini masih terlalu cepat," jawab Tommy.


"Kamu jahat mas, padahal baru sehari kita jadian kamu sudah tak menganggap aku kekasihmu. Kalau dari awal kamu takut tidak mendapat restu, kenapa memilihku menjadi pasanganmu?" Cecar Irene sambil menahan tangisnya.


Tommy meraih tangan Irene dan menggenggamnya. "Yang penting kamu percaya padaku," ucap Tommy sambil menatap ke dalam mata Irene.


"Baiklah, aku beri kamu kesempatan, tapi seandainya kita bertemu lagi dengan ibumu seperti ini, apa kamu akan mengakui aku sebagai pacarmu?"


Sejenak Tommy terdiam. "Tentu," jawabnya singkat. Irene masih belum percaya seratus persen tapi ia tidak mau hubungan yang baru jalan sehari ini kandas.


"Antarkan aku pulang saja, aku ingin beristirahat," Irene merajuk.


"Baiklah," jawab Tommy pasrah.


"Ternyata cintanya masih cethek," gumam Irene dalam hati sambil menatap kekasihnya.


Lalu Tommy membukakan pintu mobil untuk Irene. Irene masih diam saja. Ia kecewa pada Tommy.


Di dalam mobil mereka tak banyak bicara. Tommy akhirnya memulai obrolan "Ren, besok mau aku antar jemput ke tempat kerjamu?" Tanya Tommy menawarkan tumpangan.


Bukannya membujuk Tommy malah menanyakan soal pekerjaan Alan. "Memangnya dia kerja di mana?" Tanya Tommy.


"Di salon sebagai kapster," jawab Irene dengan jujur.


Tommy tertawa terbahak. "Masak kerja di salon sih?" Tommy terkesan meremehkan Alan. Sebagai sahabat tentu dia tidak terima. Namun, Irene mencoba menahan diri agar tidak marah pada Tommy.


"Kenapa? Halal kok," mendengar pembelaan Irene Tommy menghentikan tawanya.


"Bukankah gaji di temlat kerjamu yang sekarang lebih besar kalau dibandingkan menjadi kapster?" Tanya Tommy.


"Tapi Alan suka itu. Katanya dia bisa bekerja bebas dan banyak orang yang bisa dikenalnya. Sebenarnya dia tertekan bekerja di hotel pak Devon. Banyak yang membully dirinya," terang Irene.


Tommy bisa melihat dari cara berbicara Irene kalau mereka memang dekat.


"Sudah sampai," kata Tommy ketika ia menghentikan mobilnya di depan tempat kos Irene.


"Terima kasih telah memberikan kencan pertama yang begitu mengesankan," sindir Irene lalu ia turun.


Tommy menarik tangan Irene. "Maafkan aku," kata Tommy dengan lirih.

__ADS_1


Irene menjadi tidak tega. "Iya, aku maafkan," jawab Irene.


...***...


Malam ini Tommy pulang ke apartemennya. Ia malas jika dia ditanyai oleh sang ibu tentang kencannya hari ini. Tommy juga bosan karena ibunya terus menekan dirinya agar segera mencari pasangan.


"Ternyata cintaku ke Irene todak sedalam cintaku pada Cindy," gumam Tommy sambil merebahkan diri di atas ranjang.


Keesokan harinya Maya menemui Tommy di kantornya. "Kenapa kamu tidak pulang semalam?" Tanya Maya.


"Aku lelah Ma ingin tidur di apartemen," jawab Tommy.


"Apa bedanya kalau kau tidur di rumah?" Tanya Maya lagi sambil bersungut.


"Sebenarnya apa yang membawa mama kemari, aku sedang sibuk, tolong pukanglah jika tidak ada urusan yang penting untuk disampaikan," usir Tommy.


"Berani kamu sama mama?" Maya menjewer telinga anaknya.


Tommy mengerang kesakitan. "Lepaskan Ma, bagaimana kalau bawahanku melihat?" Tanau Tommy.


Ehem


Tania sudah berdiri di ruangan Tommy. Maya lun melepas tangannya dari telinga Tommy. Tommy merasa sangat malu di hadapan Tania.


"Tania tadi kamu lihat apa?" Tanya Tommy.


"Todak lihat apa-apa pak," jawab Tania. Ia tahu Tommy pasti memintanya untuk melupakan kejadian yang memalukan itu.


"Bagus, aku akan menambah bonus gajimu bulan ini," kata Tommy.


"Cih, penyuapan," cibir Maya lalu pergi.


Tommy hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang ibu.


"Ada apa?" Tanya Tommy.


"Anda mendapatkan undangan pernikahan dari pak Bayu asisten pribadi pak Devon, Pak," kata Tania seraya meletakkan undangan di meja Tommy.


Tommy mengerutkan keningnya. "Seingatku dia bertunangan dengan wanita cantik yang bernama Lisa. Tapi kenapa waktu itu Lisa makan malam dengan Devon?" Gumam Tommy dalam hati.


"Pak anda baik-baik saja?" Tanya Tania ketika melihat atasannya itu melamun.


Tommy mengerjapkan mata. Lalu ia memperbaiki posisi duduknya. "Apa? Kapan rencana pernikahannya?" Tanya Tommy.


"Anda bisa baca di dalam undangan itu Pak. Karena saya belum membukanya," jawab Tania lalu pergi.

__ADS_1


"Emm aku makin penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di antara tunangan Bayu dan Devon," gumam Tommy kemudian.


Lalu ia membuka undangan tersebut. Saat ia baca nama pasangan Bayu berbeda. "Irma? Kenapa namanya bukan Lisa? Ah aku ingat sebaiknya aku tanya Irene saja sepertinya dia tahu."


__ADS_2