Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 186


__ADS_3

Tania tahu apa yang dimaksud oleh Alan. Tidak mau berbicara lebih banyak, Tania memilih pamit. "Terima kasih sudah bekerja sama dengan saya. Sekarang rumah itu sudah menjadi milik anda." Tania keluar dari cafe tersebut setelah menyerahkan sertifikat rumah nya.


Alan merasa tidak enak karena Tania pengertian apa yang dia maksud. Tapi sebenarnya dia hanya becanda.


Alan membawa barang-barangnya pindah ke rumah baru. Untungnya besok adalah hari Minggu sehingga dia bisa membersihkan rumah yang akan dia tinggali dalam jangka panjang.


Hari ini Alan sangat lelah setelah memindahkan barang-barangnya. Dia tidur lumayan larut. Itu benar tidur di atas kursi panjang yang ada di ruang tamu karena tidak ada tempat tidur di rumah itu.


Tania membawa beberapa perabot ke rumah barunya. "Mungkin besok aku akan mulai membeli kasur yang murah dulu," gumam Alan sebelum tidur. Dia tidur sambil menutup matanya dengan lengan.


Keesokan harinya Alan mulai membersihkan rumah yang baru dia beli. Dia memindahkan satu persatu barangnya ke tempatnya masing-masing. Dia juga mengecek pintu dan jendela apakah ada yang perlu diperbaiki atau tidak.


Setelah seharian membersihkan rumah dia pergi untuk mencari makan. Alan berjalan untuk membeli makanan di warteg dekat rumahnya.


"Saya baru pertama kali lihat Mas. Mas tinggal di mana?" Tanya ibu-ibu pemilik warung.


"Tidak jauh dari sini Bu. Saya baru pindah semalam," ungkap Alan.


"Tadi saya lihat Mas keluar dari rumah yang ada di ujung jalan sana. Apa Mas tinggal di sana?" Tanya bapak-bapak yang sedang makan di warung tersebut. Alan mengangguk.


"Bukannya itu rumah seorang janda yang diceraikan suaminya karena tidak kunjung hamil?" Orang-orang yang ada di sana mulai bergosip.


"Saya tidak tahu. Yang jelas saya membeli rumah itu dari wanita yang bernama Tania." Alan berkata dengan jujur.


"Bu Tania itu memang seorang janda Mas," kata ibu-ibu pemilik warung.


"Mas ini tidak beli satu gratis satu kan?" Gurau pembeli yang ada di warung itu tapi Alan tidak mengerti.


"Maksudnya Mas ini beli rumah tidak dapat orangnya kan? Seperti yang di berita viral itu loh mas badan rumah yang jual janda dapat jandanya untuk dinikahi," ucapnya sambil tertawa.


Alan tak menggubris omongan mereka, setelah membayar makanan dia langsung pulang.


Dia memakan makanan itu sendirian. "Coba saja aku ini punya istri pasti ada yang masakin," gumam Alan ada sambil membayangkan dilayanip oleh seorang wanita.


Usai makan Alan berganti baju lalu dia menuju ke toko furniture. Alan ingin membeli kasur. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Di tepat yang sama dia bertemu dengan Tania.


"Anda sedang apa di sini?" Tanya Tania.


"Kebetulan saya ingin membeli kasur. Semalam saya tidur di kursi jadi badan saya terasa sakit." Alan mengusap-usap lehernya.


Tania merasa tidak enak karena dia membawa tempat tidur yang baru saja dibeli ke rumah baru. "Maaf saya membawa beberapa furniture yang baru saya beli."

__ADS_1


"Tidak, tidak apa-apa. Saya bisa beli yang baru," jawab Alan. "Anda beli apa di sini?" Tanya Alan.


"Oh kebetulan saya butuh lemari baru jadi karena hari ini libur saya sempatkan membelinya."


"Apakah sudah dapat?" Tanya Alan.


"Sudah, tinggal saya bayar." Tania hendak meninggalkan Alan tapi tiba-tiba tangannya ditarik.


"Bolehkah kapan-kapan kita makan siang bersama?" Tanya Alan memberanikan diri.


Tania mengangguk. "Next time saya kabari lagi," jawab Tania sambil melepas pegangan tangan Alan. Alan tersenyum ketika melihat jawaban Tania.


"Semoga aku selalu dapat kesempatan bertemu dengannya," gumam Alan.


Usai membayar tagihannya, Alan meminta kurir mengirim barang yang dia pesan ke rumahnya.


*


*


*


"Ah nggak Bu, tadi aku nggak sengaja ketemu orang yang beli rumah di toko furniture. Dia bilang badannya sakit karena semalam dia tidur di kursi. Aku jadi kasian karena membawa tempat tidurnya ke sini," kata Tania.


"Dia masih lajang?" Tanya ibunya lagi.


Tania menggedikkan bahu. "Tania nggak tanya. Lagian gak ada urusannya juga kali Bu sama Tania."


"Ada, Tan. Kamu nggak pengen cari pasangan? Siapa tahu kalian berjodoh," kata ibunya.


"Tania belum memikirkan untuk memiliki pasangan lagi Bu."


"Sampai kapan kamu akan hidup sendiri terus. Bagaimana kalau Ibu sudah tidak ada siapa yang akan menjaga kamu?"


"Jangan bicara seperti itu Bu. Ibu harus selalu sehat. Aku tidak mau Ibu pergi ke mana-mana." Yang memeluk ibunya.


"Kamu yang membuat umur Ibu semakin pendek. Kamu tidak tahu setiap hari orang-orang membicarakan tentang kamu. Ibu sebenarnya malu Tan memiliki anak seorang janda. Meskipun tidak ada yang salah dengan statusmu itu tapi kamu tahu sendiri kan orang-orang di luar sana."


"Tidak usah menghiraukan omongan orang lain Bu. Menanggapi omongan mereka tidak akan ada habisnya."


Ibunya mende*sah pelan. "Tapi kamu ini wanita jadi kamu butuh seseorang untuk melindungi kamu."

__ADS_1


"Tania akan dengar nasehat ibu. Doakan saja supaya Tania bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dari mantan suami Tania yang dulu."


"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anak ibu." Sang ibu mengelus rambut Tania yang panjang.


*


*


*


Di waktu yang lain Tommy akan mengadakan rapat kerja hari ini. "Tan tolong pesankan kue untuk rapat nanti siang. Pesan saja di toko Cindy bakery," perintah Tommy pada sekretarisnya.


"Baik Pak."


Lalu Tania menghubungi toko roti milik Cindy untuk memesan beberapa kue yang akan disuguhkan untuk rapat kerja nanti.


"Tolong antarkan setelah jam makan siang ya soalnya nanti rapatnya akan diadakan sekitar jam dua siang." Pinta Tania kepada pegawai toko tersebut.


"Baik bu," jawab pegawai toko setelah itu menutup teleponnya. Dia lapor pada atasannya.


"Bu hari ini kita ada banyak pesanan dan harua diantarkan sebelum jam dua siang ini tapi kurir yang biasa mengantar hari ini tidak masuk bagaimana Bu?"


"Diantar ke mana?" Tanya Cindy.


"Ini alamatnya," pegawai itu menunjukkan alamat yang dia tulis di buku catatannya.


"Oh ini sih kantornya Tommy."


Alan berjalan mendekat. "Kenapa ada masalah?" tanya Alan.


"Ini ada pesanan lumayan banyak tapi pegawai kita tidak berangkat kerja hari ini. Jadi tidak ada yang mengantar kue sampai sana."


"Kebetulan kerjaanku sudah selesai. Bagaimana kalau aku saja yang akan mengantarkan kue-kue itu ke tempat tujuan" Alan menawarkan diri.


"Hari ini aku bawa mobil. Apa kamu mau pakai mobil aku?"


"Jangan bercanda, Bu. Saya kan tidak bisa menyetir mobil," tolak Alan.


"Ya makanya kamu mulai sekarang kursus stir mobil biar kalau lagi dibutuhkan kayak gini kan bisa mengandalkan kamu. Terus misalkan sopir aku tidak bisa jemput aku juga bisa mengandalkan kamu."


Alan berpikir sejenak. Benar juga kata Cindy siapa tahu saja Tania butuh disopiri. "Iya kapan-kapan aku mau ikut kursus setir mobil.

__ADS_1


__ADS_2