Click Your Heart

Click Your Heart
Part 22


__ADS_3

Alan dan Irene memberikan kabar pada Devon bahwa Cindy sudah sadar. Laki-laki itupun meluncur ke rumah sakit. Dia membeli buket bunga yang sangat besar untuk Cindy.


Tok tok tok


Cindy yang mendengar ketukan pintu dari luar kemudian mempersilakan masuk. Seseorang tampak masuk dengan membawa sebuah buket mawar merah. Tapi Cindy tidak bisa melihat orang yang ada di belakang buket tersebut sampai ia membukanya.


"Mas Devon." Cindy terkejut dengan kedatangan Devon. Pasalnya kini dia berpenampilan beda lebih rapi karena memakai setelan jas.


Devon tersenyum pada Cindy dan menyerahkan buket tersebut pada Cindy. "Apa kabar Cin? Apa lukamu sudah membaik?" Tanya Devon.


"Mas Devon apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Cindy yang terlihat bingung.


Devon duduk di tepi ranjang lalu menggenggam tangan Cindy. Cindy sontak kaget. Jantungnya berdegub kencang kala tangannya digenggam oleh laki-laki itu.


Devon menatap mata Cindy. "Cindy bolehkah aku jujur?" Cindy mengangguk. "Selama ini aku hanya berpura-pura miskin untuk mendekati kamu." Cindy hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Devon.


Devon tahu masih bingung. "Cindy mulai sekarang aku janji aku akan menjaga kamu. Aku mencintai kamu."


Gadis itu menganga mendengar omongan Devon yang menembaknya. "Cindy jadilah gadisku" pinta Devon seraya menggengga tangan wanita itu.


"Aku...aku," Cindy gugup.


"Aku tidak akan memintamu menjawab permintaanku sekarang."


Cup

__ADS_1


Cindy memberikan serangan mendadak pada Devon. Devon menarik ujung bibirnya.


"Aku sudah menjawabnya," ucap Cindy pada laki-laki yang ia sukai.


Devon tersenyum licik. Ia menarik tengkuk Cindy dan memberikan ciuman pada wanitanya. Cindy tersentak kaget. Devon mencium bibir itu dengan lembut. Namun, Cindy tidak membalas ciumannya. Devon bisa menebak kalau itu adalah ciuman pertama Cindy.


Devon makin memperdalam ciumannya. Namun, saat mereka sedang menikmati surga dunia itu kedua teman Cindy masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


"Oh My Dad, mata suci gue," umpat Alan.


"Tutupin Lan tutupin elo belum cukup umur," kata Irene sambil menutup muka Alan dengan tangannya.


Devon dan Cindy merasa malu melihat orang lain melihat adegan mesranya. "Ehem, saya keluar dulu, Cindy aku tinggal dulu ya," pamit Devon pada Cindy lalu berlalu begitu saja melewati Irene dan Alan.


Irene dan Alan lalu mendekat ke arah Cindy. "Bagus ya lo, dapat obat mujarab di rumah sakit," ledek Irene.


Irene dan Alan mendekati Cindy. "Jadi kalian udah jadian?" tanya Alan. Cindy hanya mengangguk lalu menutup mukanya dengan bantal.


Irene dan Alan bersorak gembira. "Yess kita bakalan makan enak nih Ren," kata Alan sambil menggenggam tangan Irene.


"Iya gue seneng," balas Irene.


Sementara itu di luar Bayu senyum-senyum sendiri saat melihat bosnya bermesraan dengan Cindy. Devon mengerutkan keningnya. "Ada apa Yu kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Devon sedikit heran.


"Tidak ada apa-apa, Pak," jawab Bayu.

__ADS_1


Setelah kurang lebih setengah jam berkendara mereka akhirnya sampai di hotel Danz Smith yang dipegang oleh Darren.


"Akhirnya kau datang," kata Darren.


"Ada apa Bang?" tanya Devon. Ia pura-pura tidak tahu kenapa abangnya memanggil.


"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba bangkrut tapi lihat dirimu sekarang," sungut Darren yang kesal dengan ulah Devon.


"Baiklah aku jelaskan, sebenarnya aku hanya berpura-pura jatuh miskin untuk mendekati seorang gadis," ungkap Devon dengan jujur.


"Konyol sekali idemu itu, jadi selama ini Bayu tidak merebut perusahaanmu?" tanya Darren meyakinkan dirinya.


"Tidak, ini semua juga atas usulan Bayu, benar bukan?" Devon menoleh ke arah Bayu. Bayu mengangguk.


"Aku menyetujui usulannya untuk memastikan gadis macam apa yang aku taksir, ternyata aku tidak salah pilih, dia gadis yang hebat bahkan dia sudah menolong nyawaku," puji Devon pada Cindy yang telah resmi jadian.


"Menyelematkan nyawamu? Apa yang terjadi padamu?" Darren terus memberondong pertanyaan.


"Ceritanya panjang, Bang. Tapi dialah yang membuatku tak jadi tertusuk belati orang yang berniat mencelakaiku pada saat itu karena dia yang menggantikanku." Devon sedikit menyesal dengan kejadian yang menimpa Cindy. Ia tidak bisa melindungi wanita yang ia cintai.


"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Darren.


"Dia masih di rumah sakit setelah menjalani operasi di bagian perutnya yang tertusuk."


"Wanitamu begitu hebat, jangan sampai kau sia-siakan, aku tahu kau sudah mengalami patah hati dua kali, tapi kali ini apa salahnya mencoba menjalin hubungan dengannya," saran Darren pada adiknya.

__ADS_1


"Terima kasih Bang atas nasehatmu, asal kau ingat saja kalau saja Celine tidak kau nodai lebih dulu mungkin dia akan memilihku," ucap Devon lalu berlalu meninggalkan ruang kerja kakaknya.


"Dasar adik sialan, berani-beraninya berkata seperti itu padaku," umpat Darren.


__ADS_2