Click Your Heart

Click Your Heart
Part 151


__ADS_3

Irma mengajak Irene ke sebuah restoran. "Pesanlah makanan sesukamu hari ini aku yang traktir," kata Irma tak lupa mengulas senyum.


"Tumben."


"Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena mau menemani aku ke dokter. Irene apa aku boleh tanya?" Irma sedikit ragu sehingga ia meminta izin pada Irene.


"Apa? Soal aku yang tidak bisa punya anak?" Irma mengangguk.


"Tapi kalau kamu tidak mau cerita nggak apa-apa." Irma tak memaksa Irene.


"Seperti yang sudah kamu dengar tadi, dokter mengangkat rahimku karena aku kena penyakit kanker."


"Apa tidak ada solusi lain?"


"Entahlah, saat itu aku dalam keadaan tidak sadar. Suamiku bilang dokter menyarankan untuk mengangkat rahimku agar sel kankernya bisa dihilangkan."


Irma memegang tangan Irene. "Aku turut prihatin. Kamu yang sabar ya," ucapnya menguatkan Irene.


"Awalnya aku sangat putus asa karena suamiku juga tidak bisa terima kalau kami tidak bisa punya anak. Aku bahkan sempat mencoba bunuh diri tapi saat itu Alan menyelamatkan aku."


"Alan?" Tanya Irma.


"Iya, kebetulan dia kerja di rumah sakit tempat aku dirawat saat itu. Aku mencoba terjun dari atap gedung." Irene sedikit menyesal mengingat hal bodoh yang pernah ia lakukan.


Irma tidak menyangka Irene seputus asa itu. "Pasti berat sekali bagimu," ucap Irma.


Irene tidak bisa menahan air matanya. Ia menangis. Irma menunggu hingga Irene merasa sedikit tenang. "Mas Tommy sempat ragu dengan pernikahan kami setelah ia tahu kalau aku tidak bisa memberikan keturunan padanya. Yang jelas dia takut orang tuanya menyuruh kami pisah. Aku pun sempat meminta cerai karena dia tak yakin padaku. Namun, takdir berkata lain. Ibu mertuaku tidak marah ketika ia mengetahui kenyataan bahwa aku tidak bisa melahirkan."


Perasaan Irene campur aduk ketika menceritakan hal itu pada Irma. "Beruntung sekali kau punya ibu mertua yang baik."


"Kuharap demikian. Aku tidak mau tiba-tiba dia meminta suamiku menikah lagi. Aku sering baca di novel yang membahas soal rumah tangga ibu mertuanya pura-pura baik pada menantunya karena memiliki niat tersembunyi."

__ADS_1


"Ah kau kebanyakan baca novel seperti itu. Itu hanya tulisan yang dikarang oleh manusia. Di dunia nyata belum tentu terjadi," sanggah Irma.


Irene manggut-manggut seolah dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Irma. "Sudah lupakan semua masalahmu. Yang terpenting kamu harus semangat menjalani hidup ini. Kamu tahu aku juga pernah kehilangan anak pertamaku. Aku juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi dukungan orang-orang di sekitar kita membuat kita makin kuat. Hidup harus terus berjalan. Nikmati apa yang Tuhan berikan pada kita. Meski itu cobaan sekalipun jangan pernah menyerah. Menyerah hanya membuatmu mati secara perlahan."


"Aku tidak tahu kamu kerasukan apa sehingga kamu bisa sebijak ini," ledek Irene pada Irma. Lalu keduanya terkekeh.


"Terima kasih sudah mau mendengar keluh kesahku. Jujur saja aku tidak bisa sebebas ini berbagi kesedihan pada suamiku. Dia selalu pasif dan terkesan dingin. Aku hanya memendam kesedihan ini sendirian. Walau bisa dibilang mertuaku peduli tapi aku belum bisa membuktikan dia tulis atau tidak padaku. Karena kau tahu dulu dia pernah bersikap kurang menyenangkan. Aku memang sudah memaafkannya tapi nyatanya luka ini masih membekas."


"Apa kamu dendam pada ibu mertuamu?" Tanya Irma penasaran. Jujur ia ingin tahu karena ia tak memiliki ibu mertua jadi Irma ingin tahu cara Irene bersikap pada ibu mertuanya.


"Aku sudah membalasnya." Jawaban Irene membuat Irma tercengang. "Caranya?"


"Kamu tahu sendiri aku merawatnya hingga sembuh. Itu membuatnya sangat menyesal karena pernah mengabaikan aku sebagai menantunya. Aku pernah disia-siakan tapi aku diam saja waktu itu. Dan ketika dia tak berdaya aku membalasnya dengan merawat ibu mertuaku hingga sembuh. Kamu tahu apa yang kudapat sekarang?" Irene meminta Irma menebak.


"Dia jadi berpihak padaku. Terbukti ketika aku berkata jujur kalau aku tidak bisa memberikan dia cucu, ibu mertuaku tak mempermasalahkannya. Aku harap dia benar-benar tulus mencintaiku sebagai menantunya. Bukan karena balas budi."


"Aku pun berharap demikian," timpal Irma. "Apa kau tidak ingin mengadopsi anak?" Tanya Irma kemudian.


"Kalau begitu cari asal usulnya yang jelas. Kalau saran aku sebaiknya adopsi yang masih bayi. Karena kamu akan bisa membentuk ikatan ketika dia masih kecil." Irene setuju dengan usul Irma.


"Kami akan bicarakan lagi nanti. Aku juga sudah tidak sabar memiliki anak meski tidak lahir dari rahimku secara langsung. Ini juga sebagai upaya agar suamiku tidak berpaling dariku."


"Ya kamu benar. Hati lelaki mudah goyah. Apalagi jika berhubungan mengenai masalah anak. Banyak yang menginginkan anak yang lahir dari garis keturunannya langsung. Yang merupakan darah dagingnya sendiri."


Usai menyelesaikan makannya sambil berbincang sangat lama, Irene mengantarkan Irma pulang.


Sesampainya di depan pintu apartemen Irma, rupanya Bayu lebih dulu pulang. "Kalian darimana saja, aku sangat khawatir."


"Bohong," ucap Irma sambil mencebik.


"Ah aku pamit dulu, Mas Tommy sudah menungguku di rumah."

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Ren," Irene hanya mengangguk menanggapi ucapan Irma.


*


*


*


Hari ini Tommy meeting dengan klien di luar. "Tania kamu mau pulang bareng atau naik taksi?" Tanya Tommy pada sekretarisnya.


"Saya naik taksi saja, Pak," jawab Tania.


Setelah itu Tommy menuju ke mobilnya. "Ah, handphoneku ketinggalan di dalam." Tommy meninggalkan mobilnya dalam keadaan tidak terkunci.


Ketika dia kembali, ia mendengar suara tangisan bayi. Tommy mencari sumber suaranya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat seseorang meninggalkan bayinya di dalam mobil Tommy.


"Ba-bayi?" Tommy mengucek matanya berharap ia salah lihat. Namun, dia salah. "Bagaimana bisa?" Ia pun bingung bagaimana cara mengembalikan anak itu pada orang tuanya.


Dia bingung jika dia bertanya pada orang-orang di sekitarnya kemungkinan besar mereka tak mempercayai cerita Tommy. Lalu ia berpikir untuk menyerahkan bayi itu ke polisi.


Setelah tiba di kantor polisi Tommy menggendong bayi itu. "Pak, saya menemukan bayi," lapor Tommy pada salah seorang anggota polisi.


Polisi itu berdiri. "Di mana Anda menemukannya?" Tanya polisi tersebut


"Di dalam mobil saya," jawab Tommy dengan jujur. Polisi tersebut ragu dengan pernyataan Tommy kalau anak itu adalah anak hasil buangan.


"Anda yakin ini bukan anak anda?" Tuduh polisi tersebut.


"Atas dasar apa bapak menuduh saya seperti itu?" Tanya Tommy yang tidak terima.


"Saya minta maaf jika saya menyinggung perasaan anda karena banyak kasus mengenai anak buangan. Setelah ditelusuri ternyata sang ibu membuang anaknya pada ayahnya sendiri." Terang polisi tersebut mengaitkan kejadian hari ini seperti kasus-kasus lainnya.

__ADS_1


"Sumpah demi apapun, dia bukan anak saya."


__ADS_2