
Kandungan Irma tinggal menunggu beberapa minggu lagi saatnya melahirkan.
"Mas, aku mau belanja kebutuhan bayi, boleh tidak?" Irma meminta izin pada suaminya.
"Kamu di rumah saja tidak perlu capek-capek belanja, biarkan aku yang membeli semuanya," kata Bayu.
"Tapi aku ingin memilih sendiri baju-baju yang dipakai anak perempuanku, aku sudah tidak sabar untuk memborong banyak baju," kata Irma bersemangat.
Bayu mendesah. "Baiklah, aku temani ya. Aku akan izin pada pak Devon untuk pulang cepat," kata Bayu.
"Iya, janji ya tidak pulang kemalaman."
"Iya." Lalu Bayu mencium bibir istrinya yang sudah menjadi candu untuknya itu.
"Kau tahu tidak jika sudah menyentuh bibirmu ini rasanya aku malas bekerja," kata Bayu dengan suara paraunya.
Irma terkekeh. "Kamu jangan macam-macam. Nanti atasanmu marah jika kamu tidak bekerja untuknya."
"Ya kau benar. Pak Devon tidak bisa apa-apa tanpaku," jawab Bayu sambil terkekeh.
Setelah itu Bayu berangkat ke kantor. "Bay, tolong kamu periksa pembangunan resort yang sedang dikerjakan," perintah Devon pada asisten pribadinya.
"Duh, aku kan sudah ada janji sama istriku," gumam Bayu dalam hati.
Devin mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu melamun Bay? Ini proyek yang sudah lama kita rancang. Kamu tinggal mengecek saja, tidak perlu menginap," kata Devon.
Devon tahu kalau Irma sedang hamil besar dan butuh pendampingan suami. Terlebih jika dia mendadak melahirkan.
"Apa kamu khawatir dengan istrimu?" Tanya Devon.
"Sebenarnya saya sudah janji untuk menemaninya berbelanja kebutuhan anak kami Pak," jawab Bayu dengan jujur.
"Bagaimana kalau besok saja, HPL nya masih lama kan?" perintah Devon.
"Iya, Pak." Bayu terpaksa menuruti perintah atasannya itu.
"Tolong ya Bay, kamu cek proyek kita yang ada di sana. Aku mengandalkanmu," kata Devon sambil menepuk bahu Bayu pelan.
Setelah itu Bayu mengabari istrinya agar menunda acara belanjanya. "Maafkan aku sayang, bisakah besok saja belanjanya? Aku harus keluar kota hari ini," kata Bayu melalui sambungan telepon.
__ADS_1
Irma nampak kecewa. Tapi ia bisa memahami pekerjaan suaminya. "Iya Mas tidak masalah. Kamu hati-hati di jalan ya," pesan Irma pada suaminya.
"Iya, jaga kandunganmu baik-baik ya sayang." Bayu berpesan pada istrinya.
Hati Irma menghangat ketika ia mendengar suaminya memanggil sayang.
Setelah menutup telepon Irma bosan di rumah. Dia benar-benar tidak sabar ingin membeli baju-baju untuk anaknya yang diprediksi akan lahir perempuan.
Wanita hamil itu pun nekad berbelanja seorang diri ke mall. Ketika ia sampai di mall, seseorang yang sedang terburu-buru tak sengaja menyenggol bahu Irma.
Irma yang terjatuh. Perutnya membentur lantai. "Aw perutku," ia memegangi perutnya sambil merasakan sakit yang luar biasa.
Lalu salah seorang wanita tahu kalau Irma pernah bekerja sebagai wanita penghibur. "Dasar wanita ******, biarkan saja, itu karma buat dia karena pernah menggoda suami orang," kata wanita itu pada orang-orang di sekitarnya.
Orang-orang yang melihatnya hanya berkerumun. Kebetulan Lisa tengah mengadakan fashion show di mall tersebut. Karena penasaran ia pun mendekat.
Betapa terkejutnya dia saat melihat istri Bayu tergeletak di lantai. "Kalian ini punya rasa kemanusiaan apa tidak sih? Lihat wanita hamil terjatuh malah bukannya ditolongin malah diliatin doang. Ini lagi bisanya cuma merekam," geram Irma pada pengunjung mall.
"Tolong bawa dia ke mobil saya, biar saya yang bawa dia ke rumah sakit," kata Lisa dengan tegas.
Lisa mengemudi dengan kecepatan tinggi. "Bertahanlah!" Kata Lisa sambil sesekali menoleh pada Irma di kursi penumpang. Yang ia pikirkan saat ini hanya keselamatan Irma dan bayinya.
Bayu yang baru sampai di lokasi yang akan ditinjau mendapatkan telepon dari Lisa tapi Bayu mengabaikannya.
"Sial dia mereject teleponku," geram Lisa. Lalu ia mengirim pesan pada Bayu. Tapi saat itu Bayu malah meninggalkan handphonenya di dalam mobil.
"Dasar laki-laki sombong, awas saja jika kau menyalahkan aku dalam hal ini," geram Lisa. Dia merasa tegang mengingat Irma yang mengalami pendarahan.
"Maaf apa anda saudaranya?" Tanya perawat pada Lisa.
"Bukan kami adalah musuh."
"Apa?" Perawat itu menajamkan pendengarannya.
"Maksud saya, saya tidak mengenalnya. Saya hanya menolong dia sus."
"Pasien harus segera dioperasi, dokter menyarankan untuk mengeluarkan bayinya karena air ketubannya sudah pecah." Mendengar penjelasan suster itu Lisa bergidik ngeri.
Ia panik. "Bagaimana ini, Mas Bayu tidak bisa dihubungi, ah apa aku hubungi nomor Mas Devon saja. Dimana ada Mas Bayu pasti ada Mas Devon.
__ADS_1
Devon siang ini sedang makan siang bersama Cindy. "Aku ke toilet sebentar ya sayang." Cindy mengangguk.
Lalu ia melihat ponsel Devon yang berada di atas meja berdering. Cindy merasa geram ketika dia melihat nama Lisa di handphone suaminya.
"Hiss kenapa Mas Devon masih menyimpan kontak wanita gila itu?" Geram Cindy.
"Ada apa? Kamu berniat mengganggu suamiku lagi hm?" Sungut Cindy.
Lisa menjauhkan ponselnya. "Kenapa harus dia sih yang ngangkat?" Gerutu Irma.
"Jangan salah sangka.Aku hanya ingin meminta tolong pada suamimu agar memberi tahu asistennya karena istrinya sedang berada di rumah sakit,"
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Tidak usah bertanya, sebaiknya suruh suamimu mengabari asistennya," kata Lisa lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Ada apa sayang?" Tanya Devon yang melihat wajah Cindy memucat.
"Mas istrinya pak Bayu sedang berada di rumah sakit. Dimana pak Bayu sekarang, kabari dia secepatnya," kata Cindy.
"Baiklah akan kuperintahkan dia kembali," kata Devon.
Lalu ia mencoba menghubungi nomor telepon Bayu tapi tidak diangkat. "Tidak diangkat, apa dia lupa membawa handphone nya? Sebaiknya aku hubungi pekerja yang ada di sana," kata Devon yang ikut panik.
"Pak Bayu ada telepon dari pak Devon," kata bawahan Bayu. Dia pun memberikan teleponnya.
"Iya ada apa Pak?"
"Kemana saja kamu Bayu? Istrimu sedang dirawat di rumah sakit, pulang sekarang!" Teriak Devon.
Bayu terkejut mendengar berita itu. Ia pun menyerahkan tugasnya kepada bawahannya yang ada di sana. Laki-laki itu memasuki mobil ia melihat ponselnya sudah ada riwayat panggilan berkali-kali dari Devon dan Lisa.
"Arrgh sial aku mengabaikan panggilannya, apakah dia sedang bersama istriku? Awas saja kamu Lisa kalau sampai Irma dan bayinya kenapa-kenapa maka aku tidak segan membalas perbuatanmu."
Jarak yang lumayan jauh tidak bisa membuat Bayi sampai dalam waktu cepat. Suami Irma itu sampai pada malam hari.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Bayu pada Devon dan orang-orang yang menunggui Irma di sana.
"Bayu kamu yang sabar ya," kata Devon pada asistennya itu.
__ADS_1
Bayu tidak mengerti maksud perkataan Devon. "Sebenarnya apa yang terjadi Pak, apa ini karena kesalahan wanita sialan itu yang berusaha mencelakai istriku?" Tuduh Bayu pada Lisa.