Click Your Heart

Click Your Heart
Part 143


__ADS_3

"Apa-apaan kalian?" Geram Ruby karena bajunya basah semua.


"Aku dengar orang tua angkatmu itu bernama Cindy bukan?" Tanya salah seorang gadis yang berasal dari kelas lain.


"Lalu apa kamu ada masalah dengannya?" Tantang Ruby tak terima diperlakukan seperti itu.


Gadis itu mencengkeram dagu Ruby. "Kamu tahu tidak gara2 ibu angkatmu itu, ayahku harus menikahi seorang janda."


"Memangnya kenapa kalau ayahmu yang duda itu menikah dengan janda? Maunya dapat perawan?" Ruby menaikkan intonasi suaranya. Gadis bernama Alana itu semakin menguatkan cengkeraman dagunya.


"Ayahku belum menjadi duda," tegasnya. Lalu ia membuang dagu Ruby.


Ruby tak memperpanjang masalah. Dia memilih pergi walau diperlakukan tidak baik oleh teman satu sekolahnya itu. Tapi tangan Alana malah menarik rambut Ruby. Teman-temannya yang melihat malah meneriaki mereka. Suara riuh pun mengundang perhatian guru.


"Lepaskan dia!" Pak Banu salah seorang guru yang mengajar hari ini menuju ke sumber kegaduhan. "Apa yang kamu lakukan padanya hingga bajunya basah kuyup seperti ini?" Tanya Pak Banu mengintrogasi Alana.


Alana tak menjawab. Dia hanya menunduk karena merasa bersalah. "Kamu ikut saya ke kantor guru. Ruby kamu ada baju ganti atau tidak?"


"Ada, Pak. Kebetulan ada baju olahraga yang akan saya pakai di jam ketiga nanti."


"Baiklah, sementara pakai baju itu dulu." Ruby menuruti perintah gurunya.


Lalu Ruby menuju ke lokernya. Ketika ia membuka pintu loker ia dikejutkan dengan adanya kecoa mati yang diletakkan di lemari tersebut.


Ruby tidak berteriak meski terkejut. Dia hanya membuang kecoa mati tersebut dengan buku yang digulung lalu disapukan pada kecoa mati itu sehingga kecoa itu terjatuh.


Setelah itu ia mengambil baju olah raga yang ada di lokernya. Di sekolah Ruby memang tidak mempunyai banyak teman. Dia selalu dikucilkan dari awal ia masuk sekolah. Tapi hal itu tak membuat Ruby patah semangat. Ia tetap mengikuti kegiatan sekolah dengan baik.


Ruby yang selesai berganti pakaian olahraga kemudian memasuki ruang kelasnya. Semua murid menertawakan dirinya. Namun, Ruby berusaha cuek meskipun seragam yang ia kenakan berbeda dari teman-temannya.


"Ruby kenapa kamu pakai seragam olahraga di jam pelajaran Ibu?" Tanya guru Bahasa Inggris yang mengajar.


"Maafkan saya, Bu. Tadi ada yang mengguyur saya dengan seember air."

__ADS_1


"Elo belum mandi kali," sahut salah seorang teman lelaki Ruby. Ruby hanya melirik ke arah temannya yang meledek itu.


"Apa yang kamu katakan itu benar?" Tanya gurunya. Ruby mengangguk.


"Ya sudah kali ini ibu maafkan, lain kali jangan diulangi ya!" Guru tersebut memberi peringatan pada Ruby.


"Terima kasih, Bu." Ruby pun mulai mengikuti pelajaran yang diterangkan oleh gurunya.


Usai jam pelajaran bahas Inggris selesai, kelas Ruby mengikuti pelajaran olahraga yang diadakan di lapangan indoor milik sekolahnya. Kali ini mereka diminta bermain lempar tangkap bola sebagai awal pemanasan bermain bola voli tapi tidak ada yang mau berpasangan dengan Ruby.


Tapi seorang teman lelaki Ruby prihatin melihatnya. "Mau nggak jadi pasangan aku?" Ucapnya dengan gugup.


Ruby tersenyum. "Ambil bolanya lalu lempar ke arahku." Perintah Ruby pada teman laki-laki berkacamata tebal itu. Anak laki-laki itu pun merasa senang Ruby mau menerima ajakannya.


"Kalau orang udik memang gandengannya sama orang cupu," ledek temannya yang lain.


Lalu Ruby menanggapi omongan mereka. "Kalau kalian termasuk orang apa? Orang-orangan sawah?" Balas Ruby tak mau kalah.


Temannya yang tidak terima ingin maju memukul Ruby tapi Ruby tidak takut ia malah menyodorkan wajahnya. "Apa? Mau pukul? Baru dihina begitu saja kalian ingin memukulku, apa kabar denganku yang kalian hina terus menerus, apa aku pernah membalas kalian sebelum ini?"


"Ruby sedang menghina kami, Pak," adu salah seorang teman Ruby yang tidak menyukainya.


"Ruby apa benar begitu?" Tanya guru olahraganya. Ruby mengepalkan tangan untuk menahan marah. Mereka semua menyerangnya dan tak seorang pun yang membelanya.


"Benar, Pak," sahut teman lelaki yang berkacamata tadi. "Tapi mereka yang menginap Ruby duluan, Pak." Anak laki-laki itu menunjuk orang yang menghina Ruby.


"Sudah-sudah tidak boleh ada yang saling menghina lagi. Mulai sekarang kalian harus saling menghormati satu sama lain, sehingga tidak ada penghinaan untuk siapa pun. Kalian mengerti?" Tanya guru olahraga pada anak didiknya.


"Mengerti, Pak," jawab semua siswa dengan kompak.


Usai pulang sekolah, Ruby tidak langsung pulang karena dia harus menyelesaikan tugas sehingga dia meminjam buku perpustakaan sekolahnya untuk dipelajari. Dia pun harus rela pulang terlambat ke rumah.


Pukul empat sore Ruby keluar dari gerbang sekolah. Dia tengah menunggu taksi online pesanannya. Tiba-tiba hujan deras mengguyur area tersebut. Ruby yang tidak membawa payung akhirnya menepi untuk mencari tempat berteduh.

__ADS_1


Namun, ketika ia berdiri di bawah pohon, seseorang yang membawa mobil lewat di depannya dengan kecepatan tinggi sehingga bajunya basah akibat genangan air yang diterjang oleh mobil itu.


"Yagh, basah lagi kan," gerutunya.


Kemudian seseorang tiba-tiba datang dengan membawakan Ruby payung. Ruby pun mendongak. "Julian?" Julian tersenyum ketika namanya disebut.


"Aku kebetulan lewat dan melihat kamu berdiri di depan sekolahmu, ayo aku antar pulang." Julian menawarkan tumpangan.


"Tidak usah, aku sudah pesan taksi online," tolak Ruby.


"Tapi badanmu basah kuyup nanti kamu masuk angin," desak Julian.


Ruby pun akhirnya menyetujui permintaan Julian. Lalu ketika mereka akan masuk ada sebuah pohon yang jatuh karena angin kencang dan menimpa temannya.


Ruby segera menolong temannya itu dan berusaha membuang ranting pohon yang menimpanya kakinya.


"Ayo aku antar pulang, rumahmu di sana!" Tunjuk anak perempuan itu.


"Bang Jul, jangan diam saja payungi kami sampai ke mobilmu." Teriak Ruby memanggil Julian yang hanya berdiri mematung mengamati ketika Ruby sedang menolong seseorang.


"Apa? Aku hanya harus mengantar?" Batin


Julian.


"Kita bawa ke dokter, Bang" perintahnya. Julian mengangguk cepat. Ia pun memasuki mobil dan mencari tempat praktek dokter terdekat. Julian salut pada Ruby meskipun sedang hujan deras ia masih peduli dengan orang lain. Bahkan ia tak peduli meski badannya sudah menggigil kedinginan.


Tak jauh dari sekolah Ruby ternyata ada dokter yang sedang buka praktek kebetulan sepi pasien karena sedang hujan. Jadi Ruby bisa langsung membawa temannya masuk.


"Bagaimana keadaannya, dok?" Tanya Ruby pada seorang dokter yang buka praktek sore itu.


"Tidak apa-apa kakinya hanya terkilir," jawab beliau. Ruby bernafas lega.


"Terima kasih banyak Ruby kamu telah menolongku Entah bagaimana aku harus membalasmu?" Kata anak itu tidak enak.

__ADS_1


Padahal tadi pagi dia yang menyiram Ruby dengan seember air.


__ADS_2