
Kabar bahagia Alan dan Tania yang akan menikah membuat para sahabatnya ikut bersemangat mempersiapkan pernikahan keduanya.
Cindy sangat antusias hingga dia mengajak Irma dan Irene untuk membuat kebaya yang sama di butik langganannya.
"Aku mau kebaya putih terus bawahan batik gitu gimana menurut kalian?" Tanya Cindy pada Irma dan Irene.
"Emangnya kamu yang mau jadi pengantin? warna selain putih lah," protes Irma.
"Bagaimana kalau warna biru? Bukankah sekarang ini baru warna light blue?" Sambung Irene.
"Janganlah kita pilih warna yang kalem saja," sahut Cindy.
Tania hanya menggelengkan kepala ketika mendengar ketika sahabat Alan berdebat.
"By the way kebaya yang mau dipakai untuk akad apakah sudah selesai?" Tanya Cindy pada pemilik butik.
"Sudah, bagaimana kalau kita coba dulu kalau masalah kebaya kalian bisa menyusul lain waktu, toh warna yang mau disepakati juga belum beres," jawab pemilik butik tersebut.
Tania pun bersiap menuju ke ruang ganti. Beberapa saat kemudian dia keluar.
"Wah cantik sekali kamu Tan," puji Irene.
Sementara para istri sibuk berada di butik para suami sedang sibuk meeting di kantor Devon kecuali Alan.
"Akhirnya orang yang kamu takuti akan merebut istrimu sekarang sudah tidak ada lagi bro," kata Devon pada Tommy.
"Jangan meledekku aku tidak menganggap dia sebagai saingan saat ini. Itu dulu sebelum aku resmi menikah dengan Irene."
"Saya tidak menyangka kalau Alan itu lelaki tulen," ejek Bayu tapi kedua lelaki pria lainnya malah tertawa mendengarnya.
"Aku juga tidak menyangka dia bisa berubah secepat itu? Apa karena naluri kelakiannya," sambung Tommy.
Sebelum resmi menikah dengan Tania, Alan melakukan acara lamaran terlebih dahulu.
Sehari sebelum acara lamaran Tania dan Alan, semua orang sibuk menata seserahan yang akan diberikan kepada Tania.
__ADS_1
Cindy, Irene dan Irma tidak menyangka kalau Alan bisa membelikan banyak barang untuk Tania. Terlebih Tania adalah wanita yang perfeksionis. Dia menginginkan segala sesuatu yang bermerek.
"Ternyata tabungan kamu banyak juga ya," Tanya Cindy.
"Itu dulu dari hasil kerja sambilan," jawab Alan.
"Wah Tania beruntung sekali bisa memiliki laki-laki seperti kamu," puji Irma.
Ketiga sahabat Alan membantu Alan di rumahnya sambil mengajak anak-anak.
"Mama, Daisy nakal nih," Kevin mengadu kepada mamanya. Keduanya bertengkar karena merebutkan mainan.
"Cello, kenapa kamu tidak menjaga adik-adikmu?" Protes Cindy.
"Capek ma, mengikuti mereka yang aktif lari ke sana kemari."
Sebagian keluarga Alan juga sudah datang tapi mereka menginap di hotel. Orang tua Alan saat ini juga sudah berada di rumahnya.
Rumah Alan yang mulanya biasa saja menjadi lebih bersih dan rapi berkat ketiga sahabatnya. Cindy, Irma dan Irene patungan untuk biaya renovasi rumah Alan. Kata mereka itu adalah hadiah pernikahan untuk keduanya.
Setelah malam hari ketika sahabatnya pulang ke rumah masing-masing. "Jangan lupa besok datang tepat waktu," pesan Alan pada ketiganya.
"Kalau dipikir-pikir kita lebih capek daripada calon pengantinnya ia tidak?" Tanya Cindy meminta pendapat kedua temannya.
"Ya mau bagaimana lagi Alan adalah orang yang penting bagi kita. Siapa lagi kalau bukan kita yang membantunya?" Kata Irene.
Hari yang ditunggu-tunggu untuk acara lamaran sekaligus akad nikah hari ini telah tiba. Sedangkan acara resepsi akan diadakan keesokan harinya.
"Kamu siap?" Tanya sang ibu. Alan mengangguk.
Tangan Alan yang dingin menjabat tangan Ayah Tania saat mengucapkan ijab Kabul.
Ayah Tania bercerai dengan ibunya ketika Tania masih kecil. Sebelum Tania melaksanakan pernikahan, dia mengabari ayahnya yang kini telah memiliki keluarga baru.
"Saudara Alan, saya nikahkan Putri saya yang bernama Tania Larasati binti Rahman dengan mas kawin seperangkat kata salat dibayar tunai."
__ADS_1
"Saya terima nikahnya Tania Larasati binti Rahman dengan mas kawin tersebut tunai." Alan menjawabnya dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi?" Tanya penghulu.
Sah
Usai ijab qabul keduanya menandatangani buku nikah. Lalu Tania mencium tangan suaminya. Setelah itu mereka bertukar cincin.
"Kamu sangat cantik," ucap Alan pada wanita yang baru sah menjadi istrinya beberapa saat lalu.
Setelah itu mereka menyalami para tamu yang datang tapi saat ini hanya keluarga dari kedua mempelai yang datang. Sedangkan teman-teman Alan dan Tania diundang pada keesokan harinya ketika resepsi pernikahan.
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi kedua insan yang baru saja menikah. Tania duduk di depan meja riasnya setelah seharian melayani tamu undangannya. Dia tampak kesulitan membuka hiasan di atas kepalanya. Kemudian Alan mendekat setelah selesai berganti baju.
"Sini aku bantu melepaskan," Alan mengangkat hiasan di kepala istrinya kemudian meletakkannya di meja rias yang ada di hadapan Tania.
"Terima kasih, Mas," ucap Tania.
Alan mengangkat bahu Tania setelah itu membalikkan tubuhnya agar sang istri menghadap kepadanya.
"Kamu cantik sekali sayang," Alan menarik pinggang Tania agar istrinya itu mendekat. Kini tubuh mereka tak berjarak. Ditatapnya lekat-lekat wajah cantik sang istri, kemudian menyusuri wajah oval itu dengan jarinya perlahan. Bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir bawah yang tebal membuat Alan tidak bosan menatap gadis yang telah resmi dinikahinya itu.
Mereka saling bertatapan. Sorot mata Alan begitu tulus, dan lembut. Sedangkan Tania mendadak jadi salah tingkah saat Alan menggodanya.
Wajah Tania bersemu merah. Jantungnya juga sudah berdegup kencang berada sedekat itu dengan suaminya. Perlahan Alan mendekatkan wajahnya. Namun Tania menghindar saat Alan akan menciumnya.
"Aku ganti baju dulu ya," Tania mendorong tubuh kekar sang suami.
"Aku bantu ya," Alan menarik tangan Tania saat istrinya itu menghindar. Namun, Tania menepis dengan lembut.
"Sebentar saja," tolak Tania sambil tersenyum.
Alan menunggu di atas ranjang. Tania keluar dengan pakaian tipis yang amat menggoda Alan. Alan bangun dari atas ranjang.
"Kenapa kamu pilih warna merah?" tanya Alan sambil menarik pinggang istrinya.
__ADS_1
"Aku memang sengaja ingin menggodamu," gurau Tania.
"Aku suka sekali melihatmu berpakaian seperti ini, apakah bisa kita mulai ritual malam pertama kita?" tanya Alan meminta izin. Tania mengangguk malu-malu.