Click Your Heart

Click Your Heart
Part 132


__ADS_3

Hari ini Cindy akan melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Devon menyempatkan waktu untuk mengantarkan istrinya periksa. Tak disangka ketika ia akan memasuki ruangan dokter obgyn, ia bertemu dengan seseorang yang dikenalnya.


"Devon," panggil Alma.


Cindy mengerutkan kening. "Bagaimana bisa dia ada di sini? Padahal aku sudah memilih rumah sakit yang berbeda dari tempatnya bekerja," batin Cindy sambil mengepalkan tangan karena menahan amarah.


Satu yang diingat darinya adalah wanita itu pernah menyatakan cinta pada suaminya secara terang-terangan di depannya. Padahal saat itu Cindy terbaring lemah di rumah sakit. Bagaimana mungkin dia tega merebut suami wanita lain?


Devon menatap ke arah istrinya. Cindy tampak tidak menyukai kehadiran Alma. "Kalian ngapain ke sini?" Tanya Alma sok akrab.


"Kami...." belum sempat Devon meneruskan kata-katanya Cindy menyela lebih dulu.


"Kau temani saja dia, aku akan masuk sendiri," ucapnya sambil mencebik kesal.


Devon menarik tangan istrinya. Cindy menoleh ke arah suaminya saat tangannya ditarik. "Kita masuk sama-sama," ucap Devon pada sang istri.


Tanpa mempedulikan Alma, Devon dan Cindy masuk ke ruangan praktek dokter obgyn tersebut.


"Hah, kamu selalu saja begini. Mengabaikan aku dan meninggalkan aku tanpa pamit," gumam Alma dalam hati.


Cindy merasa lebih baik saat Devon memutuskan masuk bersamanya. Ya, suami memang harus menghindari bibit-bibit pelakor seperti Alma, pikirnya.


"Selamat siang, dok," sapa pasangan Devon dan Cindy secara bersamaan.


"Selamat siang. Kita langsung saja ya, ibu bisa rebahan di atas kasur ya!" Cindy menuruti perintah sang dokter.


Lalu asisten dokter tersebut menaikkan atasan yang dipakai Cindy. Ia mengolesi sebuah gel ke perut Cindy. Dokter itu duduk dan menempelkan alat USG.


"Bayinya sehat, Bu. Tapi berat badannya kurang sedikit lagi ya. Ibu harus menambah porsi makan-makanqn bergizi." Saran dokter pada Cindy.


"Dok, apa masih belum keliatan jenis kelaminnya?" Tanya Devon penasaran.


"Insyaallah bulan depan kalau kita periksa lagi sudah kelihatan, Pak," jawab dokter tersebut.


Usai melakukan pemeriksaan, dokter memberikan resep vitamin pada Cindy. Namun, sebelum pamit Cindy mengutarakan keinginannya.


"Dokter, apa boleh saya bepergian jauh?" Tanya Cindy ragu-ragu.


"Sebaiknya jangan dulu ya, Bu. Kandungan di trimester awal masih rentan jadi saya harapkan ibu tidak bepergian jauh atau melakukan aktivitas lain yang menguras tenaga." Cindy nampak kecewa ketika mendengar putusan dokter.

__ADS_1


"Jangan lupa vitaminnya diminum setiap hari ya, Bu," ucapnya sambil tersenyum ramah. Cindy mengangguk.


"Terima kasih banyak, Dok," kata Devon mewakili istrinya.


Setelah itu mereka keluar. Saat baru keluar keduanya terkejut melihat Alma yang terlihat menunggu mereka.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Alma pada pasangan suami istri tersebut.


Suatu kali, Alma datang ke rumah Devon untuk meminta maaf pada Cindy tapi ia hanya bertemu dengan Devon. Waktu itu Devon melarang Alma menemui Cindy karena keadaan Cindy masih belum stabil setelah operasi usus buntu. Dan seolah berhutang maaf pada Cindy, kini Alma dipertemukan dengannya.


Cindy menahan amarahnya. Ia mencoba tenang agar tidak stress. "Mau bicara apa?" Tanya Cindy dengan nada bergetar.


Sungguh ia masih sakit jika mengingat Alma tidak menganggapnya sebagai istri sah Devon dan mengabaikan keberadaannya hingga berani menyatakan cinta di depannya secara langsung.


Dada Cindy bergemuruh tapi ia mencoba sabar. "Kita bicara sambil duduk agar kamu lebih tenang. Aku tidak mau membuatmu stres karena kamu sedang hamil bukan?" Tebak Alma.


"Alma tidak bisakah kamu meninggalkan kami?" Pinta Devon. Ia sangat khawatir jika kedua wanita itu akan berselisih paham.


"Mas, biarkan dia bicara!" Cindy berucap tanpa ekspresi pada suaminya. Devon bergidik ngeri mendengar ucapan istrinya yang terkesan dingin.


"Mari ikut denganku!" Alma mengajak keduanya agar mau mengekorinya.


Kali ini Cindy menurut. Devon juga tidak tinggal diam. Ia mengikuti langkah Alma dan akan melindungi istrinya jika sesuatu yang buruk terjadi.


Cindy dan Devon menyeret kursinya masing-masing. "Katakan! Aku tidak punya banyak waktu," ucap Cindy dengan tegas.


"Maafkan aku!" Ucap Alma sambil meneteskan air mata. Sejak tadi ia sudah menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia merasa bersalah pada Cindy.


"Bukankah kejadiannya sudah lama, kenapa baru meminta maaf sekarang!" Tanya Cindy dengan penuh penekanan.


"Sayang, sebenarnya waktu itu dia sudah datang ke rumah untuk meminta maaf padamu. Tapi aku melarangnya menemuiku untuk sementara waktu," ucap Devon membela Alma.


Cindy menatap tajam ke arah suaminya. "Jadi kamu membelanya?" Tuduh Cindy.


Devon menggeleng. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," kata Devon.


Dada Cindy terasa sesak kalau mengingat perbuatan Alma. Namun, ia tak ingin punya urusan lagi dengan wanita yang ada di hadapannya itu.


"Baiklah, aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat jauhi kami. Anggaplah kita tidak saling mengenal. Aku tidak ingin mengingat rasa sakit yang pernah kau torehkan di hatiku," jawab Cindy dengan tegas.

__ADS_1


Alma menghembuskan nafasnya berat. Meski permintaan Cindy agak berlebihan menurutnya tapi Alam menurut apa yang dikatakan oleh Cindy asalkan dia mendapatkan maafnya. Selama ini dia diliputi rasa bersalah hingga ia tak dapat menjalani hari-harinya dengan tenang.


"Baiklah, aku akan memenuhi persyaratan darimu," jawab Alma dengan berat hati meskipun ia harus pura-pura tidak mengenal Devon.


Setelah itu Cindy bangkit dan pamit pada Alma. "Maaf jika aku terlalu kejam tapi sepertinya ini jalan terbaik agar rumah tanggaku selamat," ucap Cindy sebelum pergi. Alma mengangguk paham.


Devon mengangguk pada Alma saat mereka akan berpisah. Ia memandang tak tega pada teman sekolahnya itu. Tapi keputusan Cindy diambil dengan pertimbangan yang matang tentunya jadi Devon akan mendukung keputusan Cindy.


"Mas, kapan usulanku mengenai rencana penyaluran bantuan itu kamu laksanakan?" Tanya Cindy memastikan.


"Aku belum membicarakan itu dengan Tommy. Nanti akan kuminta Bayu mengurusnya saja," jawab Devon.


"Terima kasih," kata Cindy pada suaminya.


"Tidak usah berterima kasih sudah kewajiban kita untuk membantu orang lain terlebih mereka berasal dari kampung tempat kelahiranmu," jawab Devon sambil mengulas senyum pada istrinya.


"Terima kasih telah mendukung keputusanku," jawab Cindy sambil menatap nanar suaminya. Devon hanya mengangguk.


Setelah itu keduanya masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah.


Di tempat lain, Ruby yang baru keluar dari gerbang sekolah tak sengaja bertemu seseorang ketika ia menunggu taksi pesanannya.


"Hai," suara bariton itu membuat Ruby menoleh.


"Kamu?" Tunjuk Ruby.


"Ternyata kamu sekolah di sini." Dani mengedarkan pandangannya ke sekeliling sekolah Ruby.


"Iya. Kamu ngapain ada di sini?" Tanya Ruby curiga.


"Aku tak sengaja lewat dan melihatmu berdiri di pinggir jalan jadi aku berhenti," jawab Dani dengan santainya.


"Oh," Ruby hanya beroh-oh ria.


"Aku ingin...."


"Dengan mbak Ruby?" Tanya Driver taksi online yang dipesan Ruby.


Ruby mengangguk. "Sorry taksi gue udah datang," pamit Ruby pada Dani.

__ADS_1


"Loh nggak bareng aku aja?" Dani menawarkan tumpangan. Ruby hanya membalas penolakannya dengan senyuman.


Setelah melihat kepergian Ruby Dani tampak kesal hingga meninju udara.


__ADS_2