
Cello tak bisa pulang karena ban sepedanya kempes. Lalu ia bertanya pada satpam. "Pak di mana tambal ban yang dekat dari sini?"
"Sepertinya tidak ada nak, bannya kempes ya?" Tanya satpam tersebut saat melihat ban sepeda Cello.
"Iya."
Lalu tidak ada pilihan lain, dia menelepon mamanya. "Ma, kirim sopir ke sekolah Cello ya, ban sepeda Cello kempes tapi tidak ada tukang tambal ban di sini."
"Iya, nanti mama minta pak Hasan jemput kamu. Tunggu di sana ya jangan kemana-mana."
"Iya." Setelah itu dia menunggu sampai sopirnya datang.
"Lagi nunggu jemputan ya nak?" Tanya Satpam tersebut.
"Iya, boleh saya duduk dulu di sini?"
"Tentu saja."
Tin tin tin
Sopir Mita membunyikan klakson. Lalu Mita menyembulkan kepalanya dari dalam mobil. "Kasian, bannya kempes ya," ejeknya lalu dia tertawa bersama teman-temannya yang berada di dalam mobil.
Cello tak menanggapi omongan Mita. Dia memalingkan muka seolah tak melihat Mita. Mita merasa kesal. Lalu dia menyuruh sopirnya melajukan mobil.
"Jangan diambil hati. Kadang anak orang kaya seperti dia memang sombong." Satpam tersebut menepuk bahu Cello sambil menasehatinya.
"Tidak pak. Saya tidak tersinggung dengan ucapannya," jawab Cello dengan mengulas senyum.
Tak lama kemudian sebuah mobil Alphard berhenti di depan gerbang. "Sepertinya jemputan saya sudah datang, saya pulang dulu pak," pamit Cello pada satpam tersebut. Pemuda itu pun meminta sopirnya untuk memasukkan sepedanya ke dalam mobil.
Satpam itu membulatkan mata tak percaya ketika melihat mobil yang menjemput Cello lebih bagus dari mobil yang ditumpangi oleh Mita.
"Anak yang baik meskipun dia anak orang kaya tapi tidak sombong," puji satpam tersebut.
"Pak boleh kita mampir ke tukang tambal ban sebentar,. Sepeda saya perlu diperbaiki."
"Baik, den." Pak Hasan mengangguk patuh.
__ADS_1
Kemudian pak Hasan menepikan mobilnya di depan tukang tambal ban. Dia pun mengeluarkan sepeda Cello.
"Pak, tolong tambal ini," kata Pak Hasan pada tukang tambal ban tersebut.
"Ya, pak tapi antri," jawabnya. Pak Hasan melihat masih ada toga antrian sepeda yang belum ditambal belum lagi ada motor juga yang mengantri. Lalu pak Hasan menyampaikan hal itu pada Cello.
"Kalau begitu antar saya pulang dulu pak," perintah Cello pada sopirnya. Pak Hasan mengangguk patuh.
Ketika Cello pulang Cindy menyambutnya. "Bagaimana dengan sepedamu?"
"Sedang diperbaiki di bengkel," jawab Cello.
"Kempesnya karena apa? Apa tertusuk paku?" Tanya Cindy penasaran.
"Entahlah, Ma. Oh ya Ma, Cello mau naik dulu, mau mandi badanku bau asem."
"Iya, nanti habis mandi turun ya buat makan, kamu pasti belum makan." Cello mengangguk mendengar omongan ibunya.
Cello pun berpikir bagaimana bisa sepeda yang diam di tempat bisa kempes bannya. Padahal tak seharusnya di sekitar situ ada paku. "Apa ada yang mengerjaiku ya?" Pikirnya.
"Baik, aku akan cari tahu besok," gumam Cello.
Sementara itu Mita dan teman-temannya sedang berada di mall. Mereka kini memasuki toko buku. Salah seorang temannya diam-diam mengambil novel yang sedang laris dari rak buku tanpa sepengetahuan siapapun.
"Berapa, mbak?" Tanya Mita pada kasir.
"Totalnya dia ratus ribu." Mita pun mengeluarkan uangnya dari dompet.
"Kalian nggak beli apa-apa?" Tanya Mita pada teman-temannya. Mereka menggeleng karena mereka hanya berniat menemani Mita. Tapi tanpa Mita ketahui salah satu dari tiga orang temannya yang ikut memasukkan novel tanpa membayar.
Lalu pada saat berada di depan pintu keluar mereka dicegat. "Tolong berhenti," perintah security.
"Kenapa memeriksa kami, Pak?" Tanya Mita.
"Saya curiga salah satu dari kalian ada yang mencuri buku."
Lalu Mita menunjukkan struck pembeliannya. Tapi saat security itu akan menggeledah tas salah satu temannya, dia malah lari.
__ADS_1
"Lho kenapa dia lari?" Tanya Mita pada temannya yang lain. Temannya hanya menggedikkan bahu.
Lalu security itu mengejar anak yang lari tersebut. Nasib sedang tidak memihaknya, dia terjatuh setelah menubruk baju seseorang.
Lalu security itu berhasil menangkap teman sekolah Mita yang mencuri. Mita dan dua orang lainnya menghampiri.
Security mengeluarkan buku yang dicuri teman Mita. "Kamu malu-maluin aku aja. Kalau nggak bisa bayar bilang dong," omel Mita pada temannya yang sedang menunduk karena merasa bersalah.
Dia pun dibawa ke ruang security. Tapi Mita tak mengikutinya. "Ayo kita lanjut shopping."
"Tapi dia bagaimana?"
"Udah tinggalin aja, kita gak usah ikut campur daripada kita dibawa-bawa iya kan?" Teman-temannya mengangguk cepat menyetujui omongan Mita.
"Awas saja kamu Mit, suatu saat aku akan balas kamu," tatap teman Mita yang sedang digelendeng ke pos satpam.
Mita dibesarkan di keluarga kaya. Tapi dia seakan tidak memiliki empati pada sesama karena semua kebutuhannya selalu terpenuhi. Dia seolah tidak butuh orang lain karena dia merasa dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
Mita selalu memandang rendah orang yang lebih miskin. Orang tuanya tak pernah mengajarkan tentang menghargai orang lain karena mereka sibuk bekerja.
Dia selalu mencari teman karena merasa kesepian. Namun, teman-temannya sering memanfaatkan kebaikan Mita. Mita sebenarnya tahu kalau dia sedang dimanfaatkan, tapi dia seolah tutup mata agar dia tidak kesepian. Siapa pun yang berteman dengan Mita selalu mendapat apa yang dia mau karena Mita selalu memenuhi kebutuhan temannya agar tak meninggalkan dia.
Sesampainya di rumah, ayah Mita menyambut kedatangannya. "Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" Tanya ayahnya setengah membentak.
Mita tak menjawab ia berlalu begitu saja dengan melewati ayahnya. Namun, tangannya kemudian ditarik oleh sang ayah. "Dasar anak tidak tahu sopan santun," maki sang ayah.
"Memangnya ayah pernah mengajariku sopan santun, HM?" Tantang Mita.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Mita. Anak gadis itu memegangi pipinya yang terasa panas. Dia menatap ayahnya dengan mata yang memerah karena menahan amarahnya.
"Ayah jahat."
Mita berlari ke kamarnya setelah memakai sang ayah. Ia takut mendapatkan pukulan lagi dari orang tuanya.
Mita menangis sesenggukan di kamarnya. "Selalu saja menyakiti aku," ucapnya lirih lalu ia membenamkan kepalanya di antara lutut.
__ADS_1