
Irma dan Cindy sudah menunggu satu jam. "Kita minta bantuan siapa nih?"
"Sabar ajalah, semoga suamiku membaca pesan yang aku kirim," kata Irma yang mencoba tenang.
Tak lama kemudian ponsel Irma mendapatkan panggilan dari suaminya. "Tunggu sebentar jangan kemana-mana aku dan pak Devon menuju ke sana."
"Syukurlah, suami kita menuju kemari," kata Irma menyampaikan.
Tak lama kemudian datang dua orang anak kecil yang mengamen. Irma dan Cindy merasa kasihan sehingga memberikan uang lebih pada mereka.
"Ambil ini dan pulanglah, tidak baik anak sekecil kalian masih berkeliaran malam-malam begini," Cindy menasehati dengan halus. Keduanya mengangguk paham.
Mata Cindy dan Irma mengikuti kemana keduanya pergi. Tak jauh dari sana mereka bertemu dengan seseorang yang lebih dewasa.
Cindy mengerutkan keningnya. "Kenapa mereka mengambil uang anak itu?" Tanya Cindy pada Irma.
"Sudahlah jangan ikut campur kalau tidak mau bahaya menghampiri. Hidup di jalanan memang keras," kata Irma.
Lalu salah satu dari anak kecil itu menunjuk ke arah Cindy. Setelah itu dua orang laki-laki yang berpakaian punk berjalan ke arah Cindy.
"Ma, mereka mau apa?" Cindy mulai ketakutan.
"Sepertinya mereka mau berniat tidak baik pada kita." Irma mengedarkan pandangannya untuk meminta bantuan pada seseorang tapi tidak ada orang di parkiran mobil saat ini.
"Cin kita masuk ke dalam food court lagi aja mereka tidak akan berani membuat kekacauan di dalam," Cindy mengangguk paham.
Tapi jarak pintu masuk dengan lokasi mereka berdiri saat ini cukup jauh. Saat kedua wanita itu akan berlari, dua orang anak punk itu lebih dulu menghalangi.
"Mau kemana Tante?" Goda anak punk yang terbilang masih remaja itu.
"Cuih, gak sudi gue dipanggil tante sama kalian, emangnya gue ini adik ibu lo," geram Irma.
"Ma, tahan emosi, kita nggak sebanding sama mereka," bisik Cindy.
"Serahkan perhiasan yang kalian pakai!" Gertak salah satu dari anak punk itu.
"Kalau tidak mau bagaimana?" Tantang Irma.
Dengan cepat mereka menarik tangan Irma karena hendak merampas gelangnya. Cindy mau menghalangi tapi dia malah didorong dan terjatuh.
Tak lama kemudian dia bua mobil mewah berhenti di samping mereka. "Berhenti," teriak Devon. Langkahnya dipercepat dan saat ia mendekat Devon memberikan pukulan pada salah satunya.
"Sialan," umpat anak yang dipukul Devon.
Saat mereka akan membalas, Bayu menahan kedua tangannya. Sedangkan yang lain berusaha menyerang Irma. Bayu mendorong anak yang dipegangnya hingga menabrak temannya sendiri.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tanya Devon yang membantu Cindy bangun.
__ADS_1
"Tidak," Cindy hanya menunjukkan telapak tangannya yang lecet karena terkena aspal.
"Nanti kita obati. Bayu serahkan mereka pada pihak keamanan di sini!"
"Baik, pak." Bayu pun menyeret keduanya ke pos satpam yang tak jauh dari sana.
"Bawa mereka ke kantor polisi. Mereka berusaha melukai istri saya," kata Bayu pada satpam yang berjaga di area itu.
"Baik, Pak."
Setelah itu Bayu menghampiri istrinya. "Apa pak Devon sudah pergi?" Tanya Bayu pada Irma. Irma mengangguk.
"Aku sudah menghubungi orang bengkel, jadi naiklah ke mobilku," pinta Bayu dengan halus.
...***...
"Sayang, kita ke rumah sakit dulu," Tanya Devon.
"Jangan berlebihan Mas.Ini hanya luka kecil. Nanti aku kasih obat saja di sini ada kotak obat kan?" Tanya Cindy.
"Iya ada."
"Oh ya Mas, apakah Cello sudah kembali ke rumah? Aku menyesal hari ini meninggalkan dia terlalu lama."
"Dia masih ada di rumah abangku. Sekarang kita susul dia." Cindy mengangguk.
"Kenapa jam segini baru datang?" Protes Celine.
"Kenapa mbak? Cello rewel ya?" Tanya Cindy.
"Nggak, cuma tumben aja kalian jam segini baru jemput."
"Kalian nginep sini aja sekalian, udah malam juga," kata Darren.
"Gimana sayang?" Devon meminta pendapat istrinya.
"Nggak usahlah, kita balik aja Mas," tolak Cindy.
"Ya sudah, Cello ada di kamar Julian."
Devon pun melangkahkan kakinya untuk membawa anaknya keluar. "Kami pamit ya mbak," Cindy tidak bersalaman tapi ia hanya cipika-cipiki dengan kakak iparnya.
"Kabari kalau sudah sampai rumah," pesan Celine. Cindy mengangguk.
Setelah itu Devon pergi meninggalkan halaman rumah Darren. Sang sopir yang setia menunggui anak majikannya itu mengikuti dari belakang.
Sesampainya di rumah, Devon menggendong anaknya dengan hati-hati agar tidak terbangun. Ia menidurkan Cello di kamarnya.
__ADS_1
"Mbak Nana tolong temani Cello tidur ya," perintah Cindy pada pengasuhnya.
"Iya, Bu."
Nana adalah baby sister yang terakhir kali dipekerjakan oleh Cindy. Tapi dia dipanggil kembali setelah keuangan keluarga Devon mulai membaik.
Devon mengajak istrinya masuk ke dalam kamar. "Sayang, siapkan air hangat untukku mandi," perintah Devon pada istrinya.
"Baik, Mas."
"Tunggu, aku lupa kalau tanganmu sakit. Biar aku obati dulu tanganmu."
Devon mengambil kotak obat dan mengoleskan obat luka ke telapak tangan Cindy. Cindy menahan perih. "Apa sakit?" Cindy tak kuasa menahan perih di tangannya hingga meneteskan air mata.
"Aku perban ya biar lukamu cepat kering. Besok kita periksakan ke dokter." Cindy mengangguk.
"Sekarang beristirahatlah, tidak usah menyiapkan air hangat untukku," kata Devon.
Cindy pun menurut. Setelah itu Devon masuk ke dalam kamar mandi. Setengah jam berlalu, Devon keluar dari kamar mandi. Ia melihat istrinya sudah tertidur pulas.
Setelah ganti baju, Devon berbaring di samping istrinya. Ia memandangi wajah Cindy yang cantik. Hidung mancung, mata bulat dengan buku mata lentik serta pipi yang semakin cabi.
"Tunggu, kenapa aku merasa kamu agak gemukan ya sayang," gumam Devon dengan lirih lalu ia mengecup bibir Cindy sekilas. Tak ada balasan Devon pun mengecupnya sekali lagi. Kali ini ia memperdalam ciumannya. Memainkan lidah istrinya meski Cindy tak membalas. Dia sudah berada di alam mimpi sekarang. Setelah puas Devon memeluk istrinya erat seraya memejamkan mata.
"I love you my wife."
Keesokan harinya, ketika ia terbangun Devon tak melihat Cindy di sampingnya. Devon pun beranjak dari tempat tidur.
"Huek...huek..,"
"Sayang, kamu masuk angin ya?" Tanya Devon. Ia memijit tengkuk istrinya.
Cindy tak membalas omongan suaminya. Wajahnya terlihat pucat sehingga membuat Devon khawatir.
"Aku tidak apa-apa Mas. Mungkin karena dari semalam aku belum sempat makan jadi asam lambungku naik," kata Cindy.
"Kita ke dokter ya," Cindy menggeleng.
"Tidak usah, aku harus membangunkan Cello karena sebentar lagi dia akan berangkat ke sekolah."
Devon tidak bisa berbuat apa-apa. Cindy pun berjalan ke kamar anaknya. Ternyata Nana sudah memandikan Cello.
"Pagi sekali mandinya," kata Cindy.
"Iya, Bu. Den Cello sudah bangun dari subuh lalu minta mandi pagi-pagi," kata Nana.
"Owh, pantas saja. Coba sini mama cium," Cindy meminta Cello duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Dah wangi kan ma?" Tanya Cello. Cindy menjawabnya dengan senyuman.