
Jarak rumah Irene dari kota sangatlah jauh sehingga Alan harus mengemudi sangat lama. "Kamu capek Lan?" Tanya Irene.
"Nggak kok," jawab Alan.
"Aku capek Lan, gimana kalau kita berhenti di minimarket bentar buat beli minum sama istirahat?"
"Oke." Alan pun menepikan motornya di area pengisian bahan bakar.
Irene merenggangkan badannya. "Masih setengah perjalanan aku mau minum kopi dulu lah biar nggak ngantuk," kata Irene.
"Gue sekalian mau sholat ashar dulu ya Ren, takut gak sempet di jalan," kata Alan.
Irene jadi tersentuh. "Subhanallah ternyata temen gue masih normal," gumam Irene sambil senyum-senyum sendiri sambil melihat Alan yang berjalan ke mushola yang tak jauh dari situ.
Setelah membeli dua kaleng minuman, Irene menyusul Alan ke mushola. "Udah selesai Lan?" Tanya Irene sambil menyodorkan kopi kaleng dingin pada sahabatnya.
"Terima kasih," Alan menerima minuman itu.
"Kita lanjut jalan atau kamu mau sholat dulu?" Tanya Alan. Irene terpaku di tempatnya.
"Aku mau sholat dulu tungguin bentar ya," Alan mengangguk.
...***...
Di toko roti Cindy
"Bentar lagi kita tutup toko ya," perintah Cindy pada para pegawainya agar bersiap membereskan toko.
"Irma nanti pulangnya aku nebeng ya?"
"Ya boleh, tapi aku mau mampir belanja sih sebenernya," kata Irma.
"Nggak apa-apa aku temani, lagian Cello ada di tempat kakak ipar ku jadi aku nggak khawatir, nanti malam aku minta suamiku jemput dia," kata Cindy.
"Oke."
Selang beberapa waktu kemudian mereka sudah ada di sebuah food court. "Kamu sering masak ya buat suamimu?" Tanya Cindy seraya mendorong troli.
"Iya, suamiku suka kalau aku yang masak," jawab Irma sambil memilih wortel yang akan dibeli.
"Owh, aku jarang masak buat mas Devon semenjak sibuk di toko roti dan memiliki Cello. Kalau dipikir-pikir aku jarang memperhatikan dia," kata Cindy dengan jujur.
"Jangan gitu kamu tahu nggak kenapa suami milih pulang ke rumah lain? Ya gara-gara di rumahnya dia tidak mendapatkan perhatian," terang Irma.
"Kamu benar, aku juga tidak mau jadi janda," gumam Cindy.
"Kalau jandanya kaya kamu mah banyak yang menunggu jandamu."
"Hissh ngomong apa sih?" Cindy mencebik kesal.
"Siapa yang mau jadi janda?" Sahut Tommy dari belakang.
__ADS_1
Irma dan Cindy melempar pandang. "Kamu kok tiba-tiba ada di sini?" Tanya Cindy yang terkejut dengan kedatangan Tommy.
"Tuh nganter mama," tunjuk Tommy ke arah Maya.
Cindy dan Irma beroh-oh ria.
Tak lama kemudian Maya mendekat ketika melihat Tommy sedang mengobrol dengan Cindy dan temannya.
"Kamu di sini juga Cin?" Tanya Maya.
"Iya Tante, saya nemenin Irma belanja sekalian saya nebeng dia." Jawab Cindy sambil tersenyum.
"Cin, gue udah selesai." Irma memberi tahu.
"Tante kita duluan ya, saya mau jemput Cello di rumah kakak ipar saya," pamit Cindy.
"Mau Tommy anterin sekalian?" Maya menawarkan tumpangan.
"Eh, ntar yang ada suami gue curiga lagi," batin Cindy.
"Nggak usah Tante, rumah Irma Deket dari rumah kakak ipar saya," bohong Cindy.
Irma dan Cindy berjalan ke kasir.
"Sayang banget ya kamu nggak jadi memperistri wanita sebaik dan secantik Cindy," gumam Maya.
Sepertinya Maya belum bisa move on dari Cindy sampai dia menolak keberadaan Irene yang pernah menjadi kekasih putranya itu. Tommy hanya bisa mendesah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa demi membela Irene. Ibunya terlalu keras pada keinginannya.
"Jadi elo minta gue nganterin elo ke rumah kakak ipar Lo?" Tanya Irma. Dia bingung karena awalnya Cindy meminta mengantarnya sampai ke rumah.
Irma pun mengerti dengan alasan Cindy. Lalu mereka menuju ke parkiran mobil. Tanpa di duga ban mobil Irma kempes.
"Ya ampun pakai acara ban kempes segala sih," gerutu Irma.
Dari arah lain Maya dan Tommy melihat keduanya masih berada di area parkir mobil. "Mobil kalian kenapa?" Tanya Tommy.
"Bannya kempes," jawab Irma.
"Ya sudah biar Tommy aja yang nganter kamu Cin," lagi-lagi Maya ngotot untuk mengantar Cindy pulang ke rumahnya.
"Eh nggak usah Tante. Saya telepon Mas Devon aja, lagi pula saya nggak mungkin ninggalin Irma sendirian di sini," tolak Cindy secara halus.
"Apa kamu yakin nggak akan menunggu lama? Bukankah Cello perlu dijemput?" Tanya Maya.
"Biar nanti sekalian saya jemputnya sama mas Devon aja," Cindy memaksakan diri untuk tersenyum.
"Ya sudah, kalau gitu kita duluan ya," pamit Tommy menengahi. Jujur dia merasa tidak enak dengan Cindy karena mamanya terus menjodohkan dia dengan wanita yang sudah bersuami itu.
Cindy dan Irma mengangguk pada Maya sebagai tanda hormat.
"Ma, elo telepon pak Bayu deh, gue juga mau telepon mas Devon aja. Gue takut diculik sama Tante Maya," kata Cindy setengah becanda.
__ADS_1
"Ah lo ada-ada saja."
Cindy merogoh ponselnya di dalam tas. "Loh kok nggak ada ya?"
"Ponsel lo ketinggalan di toko kali?" Kata Irma.
"Iya mungkin."
"Coba elo yang telepon Pak Bayu sekalian tolong sampaikan ke Pak Bayu biar nanti diteruskan ke mas Devon kalau gue lagi sama elo di sini."
"Hmm."
Irma mencoba menghubungi nomor suaminya tapi ternyata tidak ada jawaban. "Nggak diangkat, gue kirim pesan aja kali ya," Irma mengetik sebuah pesan untuk suaminya.
"Elo nyimpan nomor telepon suami gue nggak, coba telepon gih!" Pinta Cindy.
"Ya nggaklah, buat apa gue nyimpen nomor suami lo,"
"Yagh nasib kita gimana dong nih?" Cindy meluruhkan bahunya.
...***...
"Cello yakin mau bobok sini? Besok kan masih sekolah nak," kata Celine sambil mengelus kepala Cello yang ada di pangkuannya.
"Iya, Cello mau bobok cini aja aunty." Cello mulai menguap.
"Ma, biarin dia tidur sini. Nanti kita telepon orang tuanya," kata Darren.
Tak perlu waktu lama Cello tertidur. Lalu Darren menghubungi Devon.
"Ada apa Bang?" Tanya Devon melalui sambungan telepon.
"Anakmu ada di sini," kata Darren tanpa basa-basi.
"Sama mamanya?"
"Tidak, dia sama supirnya dari sepulang sekolah. Katanya mau nginep sini."
"Loh, Cindy belum pulang dari toko roti? Biasanya jam segini sudah tutup Bang tokonya."
"Mana aku tahu memangnya aku suaminya," geram Darren lalu menutup sambungan teleponnya.
"Ada apa Pak?" Tanya Bayu yang melihat ekspresi wajah atasannya itu terlihat khawatir.
"Cindy belum pulang, katanya dia mau nebeng istrimu. Coba kau hubungi istrimu!"
Bagus pun membuka ponselnya. Terdapat beberapa panggilan yang masuk dari Irma. Lalu ia membuka sebuah pesan yang dikirim.
"Mereka ada di sebuah food court pak. Mobil istri saya mengalami ban bocor," lapor Bayu.
"Kapan pesan itu dikirim?"
__ADS_1
Bayu melihat waktu yang tertera. "Sejam yang lalu pak."
"Ya ampun mereka menunggu terlalu lama, ayo kita susul!" Devon menyambar kunci mobilnya yang ada di meja.