
Hallo pembaca setiaku.
Aku bawa cerita ini sebagai cerita ringan tidak banyak konflik ya, karena konflik udah banyak di tengah cerita.
Buat yang mau gabung ke grub silakan masuk. Mohon dukungannya ya 🙏 like, dan poinnya sangat othor hargai.
...♥️♥️♥️...
Sore ini Cello ingin mengambil sepedanya. Cello turun dari mobil. "Pak, tidak usah menunggui saya, nanti saya pulangnya naik sepeda aja," pesan Cello pada sopirnya.
"Baik, den." Setelah itu pak Hasan meninggalkan lokasi tambal ban.
Tak disangka Cello bertemu dengan teman sekelasnya di bengkel mobil itu. "Anwar," panggil Cello.
Saat bertemu mereka bertos ria. "Aku nggak nyangka ternyata kamu anak orang kaya," ucapnya sambil geleng-geleng kepala. Sedangkan Cello hanya mengulas senyum menanggapi omongan Anwar.
"Kok nggak pernah cerita?" Tanya Anwar.
"Apa yang mesti diceritakan?" Tanya Cello balik.
"Ya, semua tentang keluargamu. Pantas saja sewaktu Mita mengerjaimu buat bayar jajan anak satu kelas, kamu diam saja. Keren." Puji Anwar sambil mengacungkan dua jempol.
"Ya karena yang kaya itu orang tuaku. Ngapain memamerkan harta mereka? Nanti malah orang mengira kita sombong."
Anwar manggut-manggut. "Benar juga apa kata kamu. By the way aku boleh nggak main ke rumah kamu?"
"Boleh, tapi tunggu sepedaku selesai diperbaiki," kata Cello menanggapi dengan cepat. Dia tidak keberatan kalau ada temannya yang ingin main. Baru kali ini ada temannya yang ingin main karena tidak ada yang tahu kalau dia anak orang kaya.
Usai diperbaiki, Anwar bersepeda bersama Cello ke rumahnya. Baru memasuki halaman rumah Cello, Anwar sudah kagum dengan halaman yang sangat luas.
"Ini rumah apa taman kota?" Gumam Anwar mengagumi kemegahan rumah orang tua Cello.
"Ayo kita masuk," ajak Cello. Anwar mengangguk antusias. Dia penasaran dengan isi rumahnya.
"Jika luarnya aja sebagus ini bagaimana dengan dalamnya?" Batin Anwar.
Anwar terperanga ketika melihat isi rumah yang ditempati Cello.
"Eh ada temannya datang ya?" Tanya Cindy.
"Ini namanya Anwar, Ma. Teman sekelas aku."
"Assalamualaikum Tante, saya Anwar." Sapa Anwar dengan sopan.
"Minta mbok Nah buat siapin minum untuk temannya," perintah Cindy.
"Baik, Ma. Anwar kamu duduk dulu ya." Anwar mengangguk.
*
__ADS_1
*
*
Mereka mengobrol lumayan lama ditemani makanan kecil dan minuman ringan. Tak terasa sudah sore. Anwar berpamitan.
"Terima kasih ya sudah diperbolehkan main ke rumahmu," kata Anwar.
"Sama-sama. Lain kali apa boleh aku main ke rumahmu?" Tanya Cello pada Anwar.
Anwar ragu untuk menjawab. "Tapi rumahku tak semewah rumahmu ini," jawabnya dbil menunduk.
"Tidak apa. Kita kan teman." Anwar berbinar ketika Cello mengakui dirinya teman. Padahal di sekolah dia selalu dikucilkan teman-temannya.
"Aku pamit ya," Anwar melambaikan tangan.
"Temannya sudah pulang ya?" Tanya Cindy sambil menggandeng tangan Daisy.
"Kalian mau kemana kok rapi?" Tanya Cello.
"Malam ini mama mau ke acara kondangan. Kamu mau ikut?" Tanya Cindy.
"Nggak ma, Cello mau ngerjain PR soalnya dikumpulkan besok."
"Ya sudah, nanti mama cuma sebentar kok." Setelah itu, Cindy membawa Daisy pergi dengan diantar oleh sopir.
*
*
*
Cindy membangunkan Cello. "Cello, pindah tidurnya nanti punggungnya pegel," Cindy mengingatkan dengan halus.
Keesokan harinya Cello tidak bisa berangkat ke sekolah menggunakan sepeda karena hujan terlalu lebat. "Sebaiknya kamu bareng papa saja," Devon menawari anaknya tumpangan. Cello mengangguk setuju.
Devon berangkat menggunakan mobil mewahnya untuk mengantar Cello dan Daisy ke sekolah sekalian berangkat ke kantor.
Setibanya di sekolah, Cello turun dari mobil sambil menggunakan payung. Ketika dia baru turun, Cello berpapasan dengan mobil yang mengantar Mita.
Mita melirik ke arah luar. Dia terkejut ketika Cello melambaikan tangan ke arah sebuah mobil.
"Nggak mungkin," Mita menyangkal penglihatannya.
Cello menutup payungnya ketika sampai di koridor sekolah. Lalu dia berjalan ke ruangan kelasnya. Anwar menepuk bahu Cello.
"Kamu tadi naik apa?" Tanya Anwar.
"Diantar sama orang tuaku," jawabnya tak mau sombong.
"Pakai mobil ya?" Tanya Anwar memastikan.
__ADS_1
"Mobil?" Ucap Mita ketika mendengar obrolan Cello dan Anwar. Kedua pemuda itu menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Mita.
"Iya, kamu nggak tahu kan kalau Cello itu sebenernya...." Sebelum Anwar menyelesaikan kalimatnya Cello lebih dulu menyela.
"Eh, aku belum mengumpulkan tugas ke meja guru, kamu mau nganter nggak?" Tanya Cello pada Anwar. Tanpa menunggu persetujuan dari temannya, Cello menarik tangan Anwar.
"Kenapa sih?" Tanya Anwar tidak mengerti dengan perubahan sikap Cello.
"Aku tidak suka pamer. Jangan bilang apa-apa ke orang lain terutama Mita. Aku tidak mau bertengkar dengannya." Anwar manggut-manggut. Dia salut pada temannya itu, meski anak orang kaya tapi dia tidak sombong seperti Mita.
Mita menghadang jalan Cello ketika akan memasuki kelas. "Kamu tadi ke sini naik apa?" Tanya Mita.
Cello tak menjawab pertanyaan Mita dia menerobos masuk begitu saja. Mita menarik kerah kemeja Cello dari belakang. Cello sudah cukup bersabar tapi Mita terus menyulut emosinya. Dia menepis tangan Mita dengan kasar.
"Kamu berani-beraninya memukulku," tuduh Mita. Padahal Mita yang memulai.
"Aw, Aw, tanganku," Mita pura-pura kesakitan karena menyadari guru akan memasuki kelasnya.
"Ada apa ini?" Tanya guru mata pelajaran pertama.
"Dia memukul tangan saya, Pak." Mita menunjuk ke arah Cello.
"Ada buktinya?" Tantang Cello.
"Semua teman sekelas kita menyaksikannya, iya kan?" Mita meminta dukungan pada temannya tapi yang ditanya tidak mendukung. Dia adalah anak perempuan yang kemaren ditangkap di mall.
"Tidak, pak. Mita hanya berpura-pura." Anak perempuan itu memberikan kesaksian. Mita membulatkan matanya. Anak perempuan itu menarik ujung bibirnya. Mita mengepalkan tangan karena kesal.
"Sudah-sudah ayo kembali ke tempat duduk kalian. Kita mulai pelajaran hari ini."
Mita menghentakkan kakinya. Dia menatap tak suka pada Cello dan gadis yang memberikan kesaksian itu.
*
*
*
Usai pulang sekolah, Mita dihadang oleh temannya. "Mau ngapain kalian?" Tanya Mita gugup. Ia memundurkan langkahnya.
"Kenapa Lo malah ninggalin gue kemaren di mall. Lo ngaku temen tapi gak setia kawan," cibir gadis itu sambil tertawa sinis.
"Untuk apa aku menunggui kamu, pencuri."
Plak
Wajah Mita ditampar oleh anak perempuan itu. Mita memegangi pipinya yang terasa panas. "Berani sakali kamu menamparku," bentak Mita.
"Kenapa? Awas ya kalau mulut Lo ngadu ke guru, gue bikin robek dan masuk rumah sakit." Ancamnya hingga membuat Mita menutup mulutnya dengan telapak tangan. Setelah itu mereka pergi.
Jantung Mita berdebar mendapatkan perlakuan yang tak mengenakkan dari temannya. Tiba-tiba seseorang mengulurkan sebotol minuman mineral dari belakang.
__ADS_1
Mita menoleh. "Kamu?" Ia menatap mata anak itu.