Click Your Heart

Click Your Heart
Part 150


__ADS_3

Ban mobil Bayu kempes di tengah jalan. "Hah ada-ada saja," gerutunya. Lalu dia melepas jas yang dia pakai menyisakan kemeja yang digulung sesiku. Setelah itu dia menggambil peralatan untuk mengganti ban.


"Hah merepotkan sekali." Meski terus menggerutu tapi tangannya sambil memegang alat untuk membuka bannya lalu ia menggantinya dengan yang baru.


Di saat ia sedang mengganti ban mobil, tiba-tiba ponselnya berbunyi tapi ia tak dapat menjawabnya karena tangannya sangat kotor.


"Maaf pak bukan saya mengabaikan telepon anda tapi tangan saya sedang kotor," ucap Bayu pada ponselnya yang terus berdering. Ia pun melanjutkan kegiatannya hingga ban terpasang dengan benar.


"Ah, akhirnya." Bayu menepuk kedua tangannya. Karena tak ada tempat cuci tangan ia pun mengambil air mineral untuk mencuci tangannya. Lalu mengembalikan alat-alat yang dia keluarkan.


Setelah itu saat ia mencoba menyalakan mesin, giliran mobilnya yang mogok. "Kenapa hari ini menyebalkan sekali, aku lupa mengisi bensin," umpat Bayu sambil memukul setir mobilnya.


Duarr


Hujan turun dengan lebat. Bayu segera masuk ke dalam mobil. Ia ingin sekali berteriak karena ketidakberuntungan datang terus menerus padanya. Sesaat kemudian Bayu mendapatkan telepon dari Devon untuk kesekian kalinya.


"Kamu ke mana saja?" Bayu menjauhkan ponsel dari telinganya setelah mendengar teriakan Devon.


"Maaf, pak saya benar-benar siap hari ini. Ban mobil saya kempes di jalan, lalu saya lupa mengisi bensin. Di sini juga sedang hujan lebat."


"Banyak alasan, aku mau kamu sampai dalam sepuluh menit ke sini. Aku ingin mengumpulkan beberapa arsip penting yang masih tersisa." Perintah Devon dengan tegas. Lalu dia menutup teleponnya secara sepihak.


"Hah, entahlah. Aku pasrah saja hari ini," kata Bayu.


Devon menunggu Bayu lumayan lama. "Ck, apa benar dia dalam kesulitan?" Devon bertanya-tanya. Karena khawatir dia pun menelepon lagi.


"Kamu di mana?" Tanya Devon.


Usai memberi tahu lokasinya Devon segera meluncur ke tempat Bayu. Devon melaju dengan kecepatan tinggi. "Kamu ini bodoh apa bagaimana Bay, bisa-bisanya mobil kehabisan bahan bakar."


"Pak anda ini menolong ikhlas apa tidak kenapa datang langsung memarahi saya?" Bayu hanya berani membatin.


"Maaf, pak. Saya sudah kehabisan tenaga karena mengganti ban mobil saya yang bocor."


"Ya sudah, semua sudah teratasi sekarang ikuti aku kita harus mengumpulkan berkas-berkas yang bisa diamankan. Komputer dan laptop habis terbakar, pembukuan juga pasti berantakan. Aku pusing memikirkannya."


"Baik, Pak."


Semenjak musibah kebakaran tersebut, beban Devon dan Bayu semakin bertambah. Meski sudah ada bantuan dari Tommy tapi masalah-masalah lain muncul bergantian.


Saking sibuknya mengurusi perusahaan, Bayu sampai lupa mengantar istrinya untuk periksa kandungan rutin ke dokter.


"Mas, kamu bisa nemenin aku tidak hari ini?" Tanya Irma melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Maaf sayang, bisakah kamu ke sana sendiri? Atau minta kakak ipar menemanimu," usul Bayu.


"Ah tidak aku tidak seakrab itu dengan istri kakakmu lebih baik aku ajak Irene saja," tolak Irma.


Setelah itu Irma memutuskan mengajak Irene. Irene mengalihkan tugasnya ke bawahannya. "Tolong jaga toko, saya akan keluar sebentar," pesannya pada salah seorang pegawai.


"Baik, mbak."


Setelah itu Irene mengendarai mobilnya menuju ke apartemen Irma.


Ting tong


"Kamu sudah datang?" Irene mengangguk.


"Apa kita langsung berangkat?" Tanya Irene. Irma mengangguk. Keduanya berangkat menggunakan mobil Irene.


"Kenapa kamu mengajakku?" Tanya Irene penasaran.


"Kamu tahu sendiri kan aku tidak punya saudara," jawab Irma.


"Bukankah kamu punya kakak ipar?"


"Tapi aku tidak akrab dengannya. Kami juga jarang bertemu."


"Tidak bisa aku harus kembali ke toko setelah mengantarmu," jawab Irene.


"Kenapa kamu mau kumintai tolong?" Kali ini Irma yang penasaran kenapa Irene begitu baik padanya.


"Kamu ini aneh, apa kamu senang jika aku menolakmu?" Irma menggeleng.


"Tentu saja tidak, tapi jika kau menolak ajakanku aku tidak apa-apa kalau harus berangkat sendiri," jawab Irma. Irene jadi merasa iba padanya.


"Sudah sampai, ayo turun!" Ajaknya.


Setelah itu keduanya menuju ke poli kandungan. Setelah mendaftar Irma dan Irene duduk untuk menunggu antrian.


"Masih lama ya?" Tanya Irene tidak sabar.


"Kenapa, harus kembali ke toko ya?" Irene mengangguk menjawab pertanyaan Irma.


"Bilang aja sama karyawan buat tutup toko lebih awal," usul Irma.


"Baiklah, aku setuju lagi pula aku merasa kurang nyaman jika meninggalkan toko lama-lama, kamu tunggu sini aku mau telepon mereka."

__ADS_1


Irene beranjak dari kursi lalu mengambil handphone yang ada di tas kecilnya.


Di bangku itu Irma memperhatikan suami istri yang sedang menunggu giliran periksa. Keduanya tampak mesra, Irma merasa iri melihatnya. "Hah, kapan mas Bayu bisa seperti suami wanita itu," gumam Irma.


Tak lama setelah itu Irene kembali. "Belum dipanggil juga ya?" Tanya Irene. "Oh ya apa aku boleh ikut masuk jika kamu dipanggil?" Tanya Irene ragu.


"Tentu saja boleh."


"Ibu Irma," panggil perawat yang bertugas. "Silakan masuk, dokter sudah menunggu anda," ucapnya kemudian. Irene dan Irma masuk ke dalam.


"Selamat siang dok."


"Selamat siang, kita langsung saja ya. Ibu silakan naik ke atas kasur." Perintahnya pada Irma. Lalu Irene mendekat. "Dok apa saya boleh melihat?" Tanya Irene meminta izin.


"Ibu ini siapa?" Tanya sang dokter sebelum mengizinkannya. Irene terdiam.


"Dia itu saudara saya, dok. Adik saya." Sahut Irma agar dokter memperbolehkan Irene melihat hasil USG Irma.


"Oh, silakan. Apa anda sudah menikah?" Tanya dokter pada Irene sambil memeriksa kondisi bayi Irma.


"Sudah, dok," jawab Irene tapi wajahnya tampak sendu. Ia tahu kemana arah pembicaraan dokter itu selanjutnya.


Irene memperhatikan gerakan janin yang ada di layar komputer saat dokter sedang memeriksanya. Ia mengelus perutnya sendiri. "Andai saja aku bisa hamil," batin Irene sambil menahan air matanya agar tidak tumpah. Sungguh dadanya terasa sesak karena dia tidak sempurna sebagai wanita.


Hamil dan memiliki anak adalah bagian dari kesempurnaan wanita. Apalagi jika sudah menjadi seorang ibu maka berlipat ganda kebahagiaan yang wanita itu rasakan.


Dokter menjelaskan hal-hal detail ketika ia mengamati kandungan Irma. Lalu sekilas dokter itu melirik pada Irene. "Apa anda pernah hamil?" Tanyanya.


Irene menggeleng. "Saya infertil dok karena penyakit kanker, rahim saya harus diangkat." Dokter itu dan Irma terkejut mendengarnya.


Irma tak pernah menyangka Irene mengalami nasib buruk. Ia baru pertama kali mendengar berita itu dari mulut Irene langsung. Sebagai sesama wanita Irma bisa merasakan kepedihan yang dirasakan Irene. Ia melihat iba pada sahabatnya itu.


"Pantas saja kamu antusias saat kuajak ke sini," batin Irma ketika memandang wajah Irene.


"Maafkan saya, saya tidak tahu," dokter itu merasa tidak enak.


"Tidak apa, dok."


...***...


...Wanita memang selalu bilang tidak apa-apa tapi di dalam hatinya menyembunyikan kesakitan yang mendalam. Ia hanya berusaha menutupi lukanya agar orang lain tidak bisa melihat....


...Berbagi duka belum tentu orang lain bisa menerima. Maka lebih baik menahan diri untuk tidak memperlihatkan luka....

__ADS_1


__ADS_2