Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 191


__ADS_3

Irene hampir tidak dipercaya dengan omongan Cindy mengenai penggerebekan warga di rumah Alan.


"Ya ampun aku tidak menyangka mereka diperlakukan seperti itu. Alan kasihan juga ya Tania apalagi pasti dia dicap sebagai janda gatal," kata Irene.


"Tanganku ini sudah gatal untuk menyatukan mereka. Kamu tahu kalau kita tidak membantu Alan kapan dia bisa menikah. Dapat janda nggak masalah kalau jandanya secantik Tania," gurau Cindy hingga membuat Irene tertawa.


Setelah lama mengobrol di rumah Irene, Cindy pamit pulang sekalian menjemput anaknya di sekolah.


"Mama," panggil Daisy.


"Habis ini kita mau ke mana?" Tanya Cindy pada anak bungsunya.


"Aku lapar," jawab Daisy bersemangat.


"Let's go! Kita cari makanan enak buat kamu."


Cindy mengajak anaknya masuk ke dalam taksi. Lalu mereka menuju ke sebuah restoran. "Kok ke sini sih ma?" Protes Daisy.


"Katanya mau makan dulu, di sini juga ada es krim lho. Kamu mau?" Tanya Cindy. Daisy mengangguk cepat.


Mereka tak sengaja berpapasan dengan Tommy dan Tania yang selesai meeting. "Kalian," tunjuk Tommy.


"Daisy, salim dulu sama om Tommy dan Tante Tania," perintah Cindy pada anaknya. Daisy pun menurut.


"Anak baik," puji Tommy seraya mengacak rambut anak kecil itu.


"Kami masuk dulu ya," pamit Cindy.


"Oh iya, kami juga mau kerja lagi," jawab Tommy. Tommy melangkahkan kaki lebih dulu.


Cindy tersenyum pada Tania. "Alan merindukanmu," bisik Cindy saat berpapasan dengan Tania. Cindy tersenyum tipis. Wajah Tania jadi memerah hingga mematung di tempat.


"Tania," panggil Tommy.


Suara Tommy membuyarkan lamunan Tania. "Ya, Pak. Saya datang." Tania berjalan cepat menuju ke mobil.


Saat melihat ekspresi wajah Tania, Cindy yakin Tania juga menyukai Alan. "Sabar Lan. Tunggu waktunya saja," gumam Cindy seorang diri.


*


*


*


Hari ini Tommy menyuruh Tania lembur karena akhir bulan. Dia pulang jam delapan lewat. Lalu setelah pulang dari tempat kerja, Tania sengaja menghentikan mobilnya di depan rumah Alan.


"Dia berharap Alan keluar dari dalam rumahnya. Tania ingin sekali menyapa dan mengobrol dengan Alan malam ini. Lima menit kemudian Tania menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Tania melihat motor matic yang dia kenali berada di depan rumahnya. "Ini motornya...." Dia tak menyelesaikan kalimatnya.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya Tania masuk ke dalam rumahnya. "Ada tamu rupanya," kata Tania ketika dia baru masuk.


"Tan, kamu dari mana saja? Alan sudah menunggu kamu dari tadi," sahut ibunya.


Tania mengulas senyum tipis. "Atasanku menyuruhku lembur Ma," jawab Tania.


"Sini gabung!" Ajak sang ibu.


"Tapi Tania bau Ma," bisiknya.


"Kalau menunggu kamu mandi kelamaan. Temani Alan ngobrol dulu, ibu ambilkan minuman lagi," bohong ibunya agar Tania tidak menolak permintaan ibunya."


Ibunya Tania pun bangun dari tempat duduknya lalu berjalan ke dapur. Tania berhadapan dengan Alan. Dia merasa canggung.


"Mas Alan, ada urusan apa kamu datang ke sini?" Tanya Tania hati-hati.


Alan tersenyum. "Nyari kamu," jawabnya singkat tapi bisa membuat jantung Tania berdegup kencang dan menjadikan wajahnya memerah.


"Kenapa diam saja? Tidak boleh?" Tanya Alan. Alan yang sekarang sungguh berbeda dengan Alan yang dulu. Sekarang dia lebih gentle, lebih berani dan tidak penakut seperti dulu.


"Boleh," jawab Tania dengan cepat. Alan mengulas senyum tipis.


Alan bertekad akan memperjuangkan cintanya kali ini. Berbekal pengalaman ketika dia hanya bisa memendam perasaannya pada Irene berakhir menyakitkan karena dia keduluan oleh Tommy.


"Aku tidak menghindar. Aku hanya ingin memastikan perasaanku saja," elak Tania.


"Lalu ap yang kamu dapat?" Tanya Alan.


Tania ingin jujur tapi dia malu mengakui perasaannya lebih dulu pada Alan. Ibunya malah ngintip dari belakang tembok. "Ngomong dong Tan! Dasar pemalu menyatakan perasaan begitu saja tidak bisa," gerutu ibunya.


"Kalau begitu bolehkah aku menyampaikan sesuatu yang penting padamu," kata Alan.


Jantung Tania berdebar kencang. Padahal mantan suaminya dulu juga melakukan hal yang sama tapi jantungnya baik-baik saja.


Brak


Tiba-tiba seseorang membuka pintu rumah tangga dengan paksa. "Tania."


Tania terkejut ketika mantan suaminya datang ke rumahnya. "Mau apa kamu ke sini Mas?" Tanya Tania tidak ramah.


Fikri mengarahkan matanya kepada Alan. "Siapa laki-laki ini, Tan?" Tanya Fikri.


"Bukan urusanmu sekarang keluarlah!" Usir Tania.


"Aku ingin kembali kepadamu aku mohon!" Pinta mantan suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa Mas," tolaknya.


"Kenapa Tan apa kekuranganku dibandingkan dia?" Tunjuk Fikri pada Alan.


"Kamu sendiri yang membuangku kenapa harus memungut kembali?" Sindir Tania.


"Karena saat itu aku terhasut bujukan ibu untuk menikah lagi," bohong Fikri agar mendapatkan simpati dari Tania.


"Dasar laki-laki pembohong. Jauh sebelum kita bercerai kamu sudah selingkuh dengan istrimu yang sekarang," geram Tania.


"Tan, aku permisi. Aku tidak mau mencampuri urusan kalian," kata Alan yang merasa tidak enak karena berada di tengah dua orang yang saling bertikai.


"Mas, tunggu. Bisakah kita bicara lagi besok?" Tanya Tania. Alan mengangguk setuju.


"Kamu juga pulang mas." Tania mengusir mantan suaminya.


"Tidak mau, aku rindu denganmu Tan." Tangan Fikri mulai menyentuh kulit halus Tania.


"Jangan gila kamu mas. Aku bisa berteriak minta tolong," ancam Tania.


"Teriaklah, supaya kita dikira mesum nanti kita bisa dinikahkan lagi." Fikri malah menantang.


"Dasar sinting." Tania mendorong Fikri tapi laki-laki itu malah menarik tangan Tania dan memeluknya.


Bruk


Siapa yang terjatuh? Ikuti kisah selanjutnya di episode berikutnya.


Sambil nunggu bab berikutnya yuk mampir di novel temanku dulu


HASRAT TUAN KESEPIAN


karya author Reni T.


Blurb.


Dikhianati oleh orang yang dicintai yaitu sang istri membuat Louis Gabriel menutup diri dari wanita, dia menjalani hari-harinya dengan begitu kesepian bahkan tinggal di rumah mewah dan besar miliknya tanpa ditemani oleh siapapun.


Dingin, kasar, dan arogan menjadi sifat Louis yang merupakan salah satu pengusaha terkaya di negaranya. Meskipun Luois menutup hatinya akan seorang wanita, namun, tidak dengan nafsu dan birahi yang ada di dalam dirinya.


Sebagai seorang laki-laki normal tentu saja dia tetap membutuhkan kaum wanita untuk memenuhi kebutuhan biologisnya itu, dan Loius selalu menggunakan jasa wanita penghibur untuk memuaskan nafsu birahinya.


Sampai akhirnya, dia bertemu dengan seorang wanita yang cuek, urakan bahkan pecicilan bernama Arista yang mampu membuka hati bahkan mencairkan jiwa yang selama ini membeku.


Seperti apakah pertemuan mereka berdua? akankah Arista menerima cinta dari seorang laki-laki kaya raya, namun, memiliki sifat Arogan dan semena-mena tersebut?


__ADS_1


0pp


__ADS_2