
Devon mendatangi kantor Siska. "Apa kau mengenal orang yang bernama Arya?" Tanya Devon.
"Arya? Apa hubungannya denganmu?" Tanya Siska balik.
"Dia sekarang menjadi pemilik saham terbesar di perusahaanku."
"Apa? Kamu menjual sahammu? Apa kamu sedang kesulitan keuangan Dev? Katakan padaku!"
"Ya aku yakin ini ada hubungannya dengan Arya. Apa dia berniat membalas dendam karena kau tidak jadi menikah dengannya. Siska keputusan bodohmu dulu membuat perusahaanku hancur," geram Devon.
"Maafkan aku Dev. Aku sangat mencintaimu dulu. Saat aku tahu kau kembali aku memutuskan hubungan dengan Arya agar kita bisa bersatu. Aku menyesal Dev."
"Lupakan! Aku hanya ingin kamu mencari tahu apa benar dugaanku itu."
"Lalu apa yang bisa perbuat untuk membantumu Dev?"
Devon tersenyum menyeringai. "Dekati dia dan korek informasi apakah dia benar-benar merencanakan kehancuran perusahaanku?" Perintah Devon pada Siska.
Siska tersenyum licik. "Lalu imbalan apa yang aku terima dari permintaanmu itu?"
"Belilah sahamku yang telah dibeli olehnya, kamu akan tahu jawabannya," Devon berlalu setelah mengatakan hal itu.
Siska berdiri sambil berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Devon. "Berarti kamu memintaku menjadi pemilik saham terbesarmu Dev? Baiklah, aku memang gagal menjadi pasanganmu tapi jika dengan manjadi atasanmu aku bisa mengerjaimu, kenapa tidak?" Siska tersenyum sinis.
Siska mendatangi kantor Arya. Arya terkejut ketika melihat mantan kekasihnya itu tiba-tiba saja mengunjungi kantornya.
"Siska?" Arya mengulas senyumnya lebar.
"Apa kabar mantan?" Tanya Siska.
"Hei, jangan bersikap begitu padaku. Mantanmu ini masih sangat mencintaimu sayang," goda Arya. Tangannya mengelus pipi Siska dengan lembut.
"Lepaskan tangan kotormu itu dari pipiku yang halus ini. Ku dengar sekarang kau lebih sukses dari yang dulu. Apa benar kamu mampu membeli saham milik perusahaan Devon?" Tanya Siska seraya mengelus dada bidang laki-laki itu.
Arya menarik ujung bibirnya. "Darimana kau tahu, apa dia melapor padamu?" Tanya Arya.
"Hei, aku sudah tidak ada hubungan lagi dengannya. Aku tidak mau jadi pelakor," kilah Siska.
Janda satu anak itu terus menggoda Arya hingga Arya mau mengakui kalau dia yang sengaja menghancurkan perusahaan Devon.
Siska duduk di pangkuan Arya. "Apa kau sengaja membeli semua saham Devon yang hancur agar aku kembali padamu hmm?" Tanya Siska. Tangannya tak berhenti mengelus dada Arya. Lalu ia menarik kerah jas Arya.
"Aku rindu ketika kita sedang bercumbu sayang," goda Arya. Sungguh gairahnya memuncak saat Siska duduk di atas pangkuannya membuat miliknya tergesek.
__ADS_1
"Cih, kamu laki-laki sialan yang sering berkencan dengan banyak wanita mana mungkin aku menyukaimu, bodoh," umpat Siska dalam hati.
Siska seolah mengabaikan apa yang ia dengar barusan. "Berapa yang kau inginkan agar aku bisa membeli sahammu?" Tanya Siska.
"Aku tidak membutuhkan uangmu sayang, aku membutuhkan tubuhmu," Arya tak berhenti menggoda Siska.
"Diam, bodoh." Siska mendorong tubuh Arya.
Wajah Arya berubah mimik. "Kau mengataiku?" Geram Arya.
"Aku butuh sahammu itu untuk menghancurkan Devon," kata Siska berpura-pura sekubu dengan Arya.
"Hei, kau bisa mengandalkan ku sayang, asal kau mau menjadi istriku."
"Aku punya caraku sendiri untuk menghancurkannya. Jangan banyak bicara berapa yang kau inginkan, sebutkan saja nilainya!" Desak Siska.
Arya tersenyum licik. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Setelah menghancurkan Devon dia akan menghancurkan Siska dengan mencampakkannya karena berani memutus hubungan secara sepihak.
"Aku tetap tidak akan menjualnya padamu jika kau tidak membayarnya dengan tubuhmu."
Siska menghentakkan kakinya lalu pergi. Di luar gedung dia menelepon Devon. "Terlalu sulit Dev mengambil kembali sahammu, dia memberikan syarat yang tak mungkin ku penuhi," kata Siska melalui sambungan telepon dengan Devon.
"Apa itu?" Tanya Devon penasaran.
"Buahhahaha," terdengar suara tawa yang menggema melalui panggilan telepon itu.
"Jangan meledekku, aku tidak suka," kata Siska dengan tegas.
Lalu ia menutup teleponnya secara sepihak. "Dasar laki-laki dimana-mana sama saja. Sudahlah aku tidak mau menikah dengan laki-laki manapun. Mereka sama breng*seknya," gerutu Siska.
"Jalan pak!" pinta Siska pada sang supir.
...***...
"Aaarrrgh..." Devon melempar semua barang-barang yang ada di mejanya.
"Pak tenangkan diri anda," pinta Bayu.
"Aku benar-benar bangkrut Bay," kata Devon sambil terisak.
Bayu menatap sendu pada atasannya itu. Saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membantu Devon.
"Pak anda tidak pulang? Sudah larut pasti istri anda khawatir," kata Bayu.
__ADS_1
"Kamu pulanglah dulu, mungkin aku akan bermalam di sini untuk mengerjakan pekerjaan yang belum aku selesaikan."
"Apa perlu saya bantu Pak?"
"Tidak, pulanglah! Aku sudah mengabari Cindy." Devon berkata bohong pada Bayu.
"Baiklah pak, apabila anda perlu bantuan saya harap hubungi saya segera." Devon mengangguk.
Setelah Bayu pergi, tinggallah Devon seorang diri di ruangannya. Saat ini dia mengeluarkan wine yang dia simpan di dalam lemari.
"Mungkin dengan meminummu aku bisa melupakan semua masalahku."
Segelas dua gelas ia tuangkan minuman beralkohol itu hingga habis tak tersisa. "Sial kenapa aku masih tidak bisa melupakan masalahku padahal minumanku sudah habis," racau Devon.
Sementara itu di rumahnya, Cindy sedang menunggu kepulangan suaminya. "Kenapa lewat tengah malam dia belum pulang juga?" Cindy sangat khawatir.
Berkali-kali Cindy menghubungi handphone suaminya tapi tidak diangkat. "Kemana kamu mas? Jangan membuatku khawatir."
Lalu Cindy menghubungi Bayu. "Pak dimana suami saya apa and bersama dengannya?" Tanya Cindy.
"Apa pak Devon belum mengabari anda? Dia masih di kantor katanya harus menyelesaikan beberapa file penting."
"Kenapa dia tidak menghubungiku, bisakah anda melihat keadaannya? Saya sangat khawatir, tidak biasanya mas Devon tidak mengabari saya," pinta Cindy pada Bayu.
"Baik."
"Ada apa Mas?" Tanya Irma.
"Pak Devon pulang ke rumah. Padahal dia bilang padaku kalau dia sudah sudah mengabari istrinya." Bayu menyambar jaketnya lalu kemudian meraih kunci mobilnya.
Saat itu Bagas yang lewat depan rumah Bayu tak sengaja melihat adiknya keluar rumah malam-malam. "Mau kemana dia tengah malam begini?" Gumam Bagas.
Karena penasaran dia pun mengikuti Bayu tanpa sepengetahuan dirinya.
"Untuk apa dia ke hotel malam-malam, tidak mungkin kalau dia selingkuh." Untuk menjawab rasa penasarannya Bagas turun dari mobil.
Dia melihat Bayu memasuki ruang kerja atasannya. "Pak, anda tidak apa-apa?"
Bagas langsung menghampiri adiknya. "Apa yang terjadi?" Tanya Bagas.
"Bang, bagiamana kau bisa ada di sini?" Tanya Bayu.
"Itu tidak penting, sebaiknya kita tolong Pak Devon terlebih dulu. Sepertinya dia mabuk berat," kata Bagas.
__ADS_1
Mereka pun memapah Devon dalam keadaan mabuk masuk ke mobil Bayu. "Aku akan mengantarkan dia pulang," Bagas mengangguk.