Click Your Heart

Click Your Heart
Part 139


__ADS_3

Hallo cuma mau ingetin nih novel baruku sudah rilis yuk kawal sampai tamat.



Menceritakan soal laki-laki bernama Zidan yang mengalami kecelakaan saat menghindari seorang anak kecil yang menyeberang di jalan raya.


Ia mengalami kecelakaan. Wajahnya rusak akibat ledakan mobil yang terjadi. Lalu seorang dokter bedah plastik bernama Safa Kamila mengoperasi wajahnya.


Akankah ingatan Zidan kembali dengan cepat? Akankah di antara keduanya tumbuh benih-benih cinta di saat ingatan Zidan belum kembali?


Yuk mampir dan berikan hadiah serta vote untuk karya baruku.


♥️♥️♥️


Bayu sungguh kasihan melihat istrinya terbaring lemas. Tapi bukankah semua wanita hamil mengalaminya, mual muntah di awal kehamilan. Irma sudah menantikan buah hati dalam waktu yang tidak sebentar selepas kepergian anaknya.


Kali ini baik Bayu maupun Irma akan menjaga anak mereka sehingga kejadian di masa lalu tidak terulang lagi.


"Apa kau butuh sesuatu? Biar kubelikan," tanya Bayu pada istrinya.


"Kata orang kurma baik untuk dikonsumsi ibu hamil, aku ingin kau membelikan itu untukku," pinta Irma pada suaminya.


"Baiklah, aku akan kembali dan membawakanmu kurma yang kau mau," jawab Bayu. Ia pun keluar lalu mengendarai mobilnya.


*


*


*


Irene dan Tommy mengunjungi rumah Cindy.


"Hei, kalian," kata Devon saat membukakan pintu setelah mendengar bunyi bel.


Irene dan Tommy tersenyum pada pemilik rumah. "Cindy di mana?" tanya Irene.


"Ada di dalam, masuklah!" balas Devon.


"Siapa yang datang, Mas?" tanya Cindy.


"Hai," sapa Irene.


"Eh kalian, silakan duduk."

__ADS_1


"Aku akan ke belakang sebentar untuk meminta Bi Nah mengirim minuman dan camilan untuk kalian." Devon pun berlalu ke dapur.


Tiba-tiba Irene mengeluh perutnya sakit. "Mas kenapa perutku tiba-tiba melilit begini ya?" Irene mencengkeramkan tangannya ke lengan Tommy. Semua orang yang ada di sana terlihat panik.


"Rebahkan dia atas sofa!" perintah Cindy pada Tommy. Tommy pun melakukannya.


Cindy mengambilkan air minum untuk Irene. "Ini minumkan!" Cindy menyodorkan segelas minuman pada Tommy. Ia membantu istrinya bangun lalu memberikan minum.


"Bagaimana apa masih sakit?" Tanya Tommy.


Irene tidak menjawab dan terlihat pucat. Ia terus meremas perutnya yang sakit.


"Sebaiknya kau bawa dia ke rumah sakit untuk memastikan penyakitnya!" Devon memberikan saran pada Tommy. Lalu dengan sekali hentakan Tommy mengangkat tubuh ringkih istrinya itu.


Devon mengikuti Tommy untuk membantunya membuka pintu mobil. Tommy tak sempat pamit pada pemilik rumah karena ia terlalu panik melihat sang istri kesakitan. Devon dan Cindy memaklumi hal itu.


"Tahan ya sayang!" Ucapnya pada Irene. Irene menangis karena tak tahan.


Tak butuh waktu lama, Tommy sampai di depan rumah sakit terdekat. Lalu ia mengangkat Irene dan menidurkannya di atas brankar rumah sakit.


"Tolong, dia kesakitan," perintahnya pada perawat yang ditemui.


Sementara Irene dibawa masuk ke ruang UGD, Tommy mengurus bagian administrasinya.


"Saya harap anda siap menerima apa yang akan saya sampaikan. Istri anda mengidap kanker rahim. Keadaannya sudah semakin parah."


Dunia Tommy seakan hancur mendengar penuturan dokter itu. Tentu ia tahu resikonya jika rahim Irene harus diangkat. Dia tidak kan memiliki keturunan. Orang tuanya pasti akan menanyakan kapan mereka memiliki anak. Pertanyaan umum dari orang tua yang selalu ditanyakan apabila anaknya yang sudah menikah tak kunjung memiliki buah hati.


Tommy juga tidak bisa membayangkan betapa kecewanya sang ibu apabila mengetahui Irene mandul setelah pengangkatan rahim itu. Tommy terlihat frustasi.


"Lakukan apa yang terbaik untuk menyelamatkan nyawanya, dok." Bahkan saat berkata itu dia tak memandang sang dokter.


Dia yang kesal dan dalam keadaan marah pergi meninggalkan istrinya menuju ke suatu tempat.


Di sini, di sebuah bar yang tak jauh dari rumah sakit itu, Tommy duduk di depan meja bartender.


"Beri aku segelas!" Tommy meminta minuman beralkohol pada bartender yang bekerja di sana.


Tommy meneguk minuman itu dalam sekali teguk. Lalu ia meminta lagi dan berulang sampai beberapa kali.


Seorang wanita penghibur memperhatikannya. "Hai, sendirian saja?" tanyanya dengan nada yang dibuat-buat.


Tapi Tommy tak mengindahkannya.

__ADS_1


Saat ia hendak meneguk kembali minuman yang ada di gelas yang sedang dia pegang tapi tangannya dicekal oleh wanita yang duduk di sampingnya.


"Kamu mau bunuh diri di sini?" ledeknya.


Tommy telah mabuk berat. Dia menjatuhkan kepalanya di atas meja.


"Kamu tahu apa soal aku?" racaunya.


Wanita penghibur itu mengelus pipi Tommy. "Memangnya kamu punya masalah apa? Coba ceritakan!" Wanita itu berkata dengan lembut.


"Istriku tidak bisa punya anak. Aku harus beli anak dimana kalau pabriknya tutup?" Ia sudah berada di bawah pengaruh alkohol.


Wanita yang tak tahu diri itu semakin gencar menggoda Tommy. Ia menarik dasi Tommy sembarangan. "Lupakan masalahmu malam ini. Bersenang-senanglah denganku maka masalahmu akan hilang. Aku jamin." Wanita itu berkata di dekat telinga Tommy sehingga membuat Tommy meremang.


Refleks Tommy merangkul leher wanita penghibur itu. "Siapa namamu?" tanya Tommy sambil memiringkan kepalanya.


"Anita, kau bisa memanggilku nama Anita."


Tommy tersenyum tak jelas. Ia sudah berada di bawah pengaruh alkohol. "Anita apa kau bisa membuat anak? Aku ingin anak darimu." Racau Tommy tanpa sadar mengatakan hal itu pada Anita.


Anita tersenyum menyeringai. "Buatlah anak sebanyak yang kau mau."


Anita memapah Tommy menuju ke sebuah ruangan yang biasa disewa untuk melakukan hubungan intim bagi para wanita penghibur.


Ia merebahkan tubuh Tommy di atas ranjang. Namun, Tommy yang tertidur pulas karena mabuk berat membuat Anita geram.


"Sial laki-laki sialan ini malah tidur begitu saja," umpatnya menahan kekesalan.


Padahal ia ingin sekali merasakan belaian laki-laki tampan seperti Tommy. Jarang-jarang Anita mendapatkan mangsa besar seperti malam ini. Kalau dilihat dari penampilan Tommy, Anita sudah bisa memastikan kalau Tommy adalah seorang eksekutif muda.


"Cuih, minum sedikit saja sudah mabok, tapi ini akan menguntungkan aku. Malam ini aku tak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang."


Anita pun memiliki ide untuk mengeruk keuntungan dari Tommy.


Keesokan harinya Tommy tersadar. Ketika ia mengerjapkan matanya, ia melihat ke sekeliling. "Aku di mana?" Tanyanya sambil memegangi kepalanya yang sakit akibat kebanyakan minum.


"Sudah bangun?" Suara wanita yang ada di sampingnya membuat Tommy terlonjak kaget. Wanita itu dalam keadaan tak berbusana yang hanya ditutupi selimut.


"Siapa kamu?" Tanya Tommy yang merasa tak kenal dengan wanita asing yang seranjang dengannya.


Wanita itu turun sambil menarik selimut untuk menutupi bagian tubuhnya. Ia memungut pakaiannya yang berceceran di lantai.


"Kamu tidak ingat kejadian semalam?" Tanyanya mengingatkan.

__ADS_1


Tommy berusaha memutar ingatannya tapi hasilnya nihil. "Katakan! Apa yang telah aku lakukan padamu?" Anita tersenyum menyeringai.


__ADS_2