
Cindy tak lantas percaya pada foto yang dia lihat di handphone laki-laki asing yang berusaha memerasnya itu.
Cindy tersenyum sinis pada laki-laki itu. "Kamu pikir saya percaya padamu? Memangnya alasannya apa suami saya berselingkuh dariku, apa istrimu lebih cantik dariku?" Tantang Cindy.
Mantan suami Murni itu tak mau mengalah. "Siapa tahu saja dia mencari wanita yang kalem seperti Murni." Dia melihat Cindy sedikit angkuh sehingga dia membuat alasan itu agar Cindy percaya.
"Kamu kira orang kaya seperti kami selevel dengan kalian." Cindy sengaja melebih-lebihkan omongannya agar lelaki asing itu tak lagi membalas omongannya.
"Namanya juga cinta mana ada yang memandang status kaya atau miskin nyonya," balas mantan suami Murni seenaknya.
Cindy mengepalkan tangannya. "Sialan laki-laki ini terus menjawab omonganku," batin Cindy tak terima.
"Apa kamu punya bukti lain? Sebenarnya apa tujuanmu dagang kemari? Kamu ingin memeras saya?" Cindy langsung to the point.
"Tenang dulu nyonya, boleh saya masuk agar kita bisa bicara lebih tenang?" Mantan suami Murni itu rupanya masih berusaha mengambil hati Cindy.
"Pak satpam usir dia. Kalau dia masih mengganggu laporkan saja pada polisi atas dasar perbuatan yang tidak menyenangkan." Cindy hanya melirik lalu pergi meninggalkan laki-laki brengsek itu.
Laki-laki itu tidak terima ketika Cindy mengusirnya. Dia pun menghasut beberapa orang tetangga Cindy yang lewat di depan rumahnya.
Dia menghentikan ibu-ibu yang lewat di depan rumah Cindy. "Bu, kalian tahu tidak, pemilik rumah ini berselingkuh dengan istri saya," ucapnya mengada-ada.
"Masa sih Mas?" Tanya ibu-ibu itu tak percaya.
Mantan suami Murni itu mengulas senyum tipis. "Iya, saya ke sini mau laporin sama istrinya. Eh istrinya malah nggak percaya sama saya." Wajahnya pura-pura terlihat sendu.
"Eh kalian nggak pernah denger ya dulu pak Devon kan juga pernah selingkuh sama wanita lain tapi dia cantik sih. Lah apa istri situ juga cantik?" Tanya ibu-ibu itu penasaran.
"Lah kalau nggak cantik mana mau pak siapa namanya? Dev, Dev...."
"Devon," ucap salah seorang ibu-ibu membetulkan penyebutan nama Devon.
"Ihk malu-maluin aja ya."
"Iya," yang lain menimpali.
Kini tetangga sekitar rumah Devon dan Cindy riuh membicarakan perselingkuhan Devon dengan wanita lain.
"Saya penasaran seberapa cantiknya wanita itu sampai Bu Cindy diselingkuhi. Kalian kan tahu di komplek kita Bu Cindy yang paling cantik."
__ADS_1
"Zaman sekarang kalau service dari istri tidak memuaskan laki-laki bisa cari yang lain."
"Ah masa sih, saya mau jadi selingkuhannya pak Devon," ucapan ibu itu membuat semua orang yang sedang berkumpul tertawa.
Cello tak sengaja mendengar omongan ibu-ibu itu ketika dia lewat di depan warung saat pulang sekolah. Ia merasa sangat malu memiliki orang tua seperti Devon.
Cello masuk ke dalam rumah dengan muka cemberut. "Ada apa kamu nak?"
"Ma, mama tahu tidak orang-orang membicarakan papa di belakang kita."
"Tidak usah dihiraukan sayang, jika orang lain membicarakan kita, diamkan saja selama itu tidak merugikan kita. Jika mereka memang keterlaluan biar mama yang tegur sendiri."
Cindy sebenarnya merasa geram dengan bahan omongan yang semakin hari semakin panas di kalangan tetangganya. Lalu suatu hari ia sengaja mengajak anaknya yang paling kecil untuk mampir ke warung yang tak jauh dari rumahnya.
"Sepertinya saya lihat menyenangkan sekali ibu-ibu ini, pagi-pagi sudah berkumpul di warung, apa kalian sudah memasak Bu?" Tanya Cindy setengah menyindir.
"Kalau saya sih selalu meninggalkan rumah setelah semua pekerjaan saya beres. Nggak tahu deh kalau yang lain,"
"Saya mah kerjaan bisa dikerjakan nanti yang penting ngilangin stres dulu."
"Wah ibu ini terlalu berhemat. Hanya dengan mengobrol lalu menghilangkan stres tapi bikin stres orang yang dibicarakan." Cindy tertawa setelah mengatakan itu.
"Ah tidak apa-apa Bu. Saya paham ko ibu-ibu ini tidak ada kerjaan selain ngomongin orang," ucap Cindy sambil tersenyum.
Seakan di silet pakai belati omongan Cindy sangat menyakitkan tapi lebih menyakitkan lagi perasaan Cindy ketika mereka memfitnah suaminya berselingkuh.
"Saya permisi, Bu. Hari ini suami saya janji untuk mengajak saya berbelanja. Oh iya asal ibu tahu ya, suami saya sama sekali tidak berselingkuh. Jika ada orang yang menyebar fitnah saya doakan semoga keadaan berbalik padanya. Mari ibu-ibu."
"Dih, dia mendoakan suami kita berselingkuh," kata salah seorang yang kesal dengan sikap Cindy.
"Iya, tapi kalau suami saya sih setia."
"Masa sih jeng, setia aja nggak cukup. Perlu juga disayang, kalau dirumah diomelin mulu mana bisa suaminya setia," balas yang lainnya.
Suasana di warung itu menjadi riuh karena perdebatan ibu-ibu yang membahas tentang suami mereka masing-masing.
Sedangkan Cindy merasa puas. Ia tak perlu membalas dengan cara kasar mereka sudah cukup diberi pelajaran.
Cindy berjalan cepat ke dalam rumah. "Mama kamu kenapa Daisy?" Tanya Devon pada putri bungsunya.
__ADS_1
"Habis berantem sama ibu-ibu di warung depan," jawab Daisy dengan entengnya.
Setelah itu, Cindy turun dari tangga dengan membawa tas kecil.
"Mau kemana ma?" Tanya Devon.
"Ke toko roti," jawabnya singkat lalu dia keluar menuju ke parkiran mobil. Cindy mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Alan menyambut kedatangan Cindy. Beberapa tahun terakhir ini Alan setia bekerja di toko roti milik sahabatnya itu.
"Kenapa Bu marah-marah?" Tegur Alan sambil memberikan segelas air minum.
"Aku lagi kesel," jawab Cindy.
"Berantem sama suami?" Tebak Alan.
"Tidak, telingaku lagi panas mendengarkan omongan ibu-ibu yang memfitnah suamiku. Mereka bilang suamiku berselingkuh."
"Tapi kamu yakinkan suamimu tidak berselingkuh?"
"Tentu saja tidak. Tapi ibu-ibu itu dapat gosip darimana sehingga membicarakan suamiku di belakang?" Cindy mencoba mengingat-ingat kembali.
"Apa ini ada hubungannya dengan laki-laki i yang datang beberapa hari lalu ke rumah dan memberikan foto mas Devon dan seorang wanita?" Gumam Cindy seorang diri.
"Memangnya siapa?" Tanya Alan yang mendengar omongan Cindy.
"Entahlah, tapi aku yakin dia tidak berselingkuh. Lagipula tidak ada perilaku yang mencurigakan dari mas Devon misalnya pulang malam atau lembur di hari Minggu."
"Coba cari tahu dulu!"
"Ya kamu benar. Tapi caranya bagaimana?"
Alan menyuruh Cindy mendekat. Dia membisikkan sebuah cara untuk menyelidiki suaminya.
"Idemu itu boleh juga. Aku akan mencobanya."
Kira-kira apa ya ide yang dibisikkan oleh Alan untuk mengetahui kebenaran suami Cindy berselingkuh atau tidak?
Yuk kawal sampai tamat. Terima kasih yang sudah baca sampai bab ini, jangan lupa buat kasih vote, like, dan bunganya ya ♥️♥️♥️
__ADS_1