Click Your Heart

Click Your Heart
Part 55


__ADS_3

"Tidak, aku bisa menghidupi anakku seorang diri meskipun tanpa ayahnya," kata Cindy dengan tegas.


Plak


Celine maju dan menampar Cindy setelah mendengar keputusan Cindy. "Kamu jangan egois!" Bentak Celine pada calon adik iparnya itu.


Devon memijit pangkal hidungnya. Air mata Cindy menggenang. Ia memegang bekas tamparan tangan Celine. "Kenapa anda menamparku?" Tanya Cindy tidak mengerti.


"Kamu jangan merasa dirimu hebat. Pikirkan anakmu, dia juga butuh kasih sayang ayahnya," kata Celine dengan penuh penekanan.


"Apa kamu tidak malu orang lain membicarakan kamu di luar sana?" Tanya Celine.


"Aku sudah terbiasa mendengar hinaan orang lain, aku..."


Celine memotong pembicaraan Cindy. "Tapi apa kamu tega jika anakmu dihina?" Cindy tidak bisa lagi menjawab omongan Celine.


"Cukup Celine jangan memojokkan Cindy!" Perintah Devon pada kakak iparnya.


Celine yang kesal kemudian masuk ke dalam kamarnya. Cindy terduduk dan menangis sambil menggendong anaknya.


Devon membawa Cindy dalam pelukannya. "Maafkan sikap kakak iparku, dia begitu karena dia pernah berada di posisi kamu," ucap Devon.


"Berikan aku kesempatan untuk berfikir!" Pinta Cindy pada Devon.


"Baiklah, aku menunggu jawabanmu sampai kau siap," Devon menatap ke dalam mata Cindy. Dia berharap wanita yang dicintainya itu bisa melihat kesungguhannya. Cindy tak menjawab dia hanya mengangguk lemah.


Lalu Devon mengantar Cindy pulang ke rumahnya. Saat ini mereka sudah berada di teras rumah Cindy. "Aku harap kamu memikirkan tawaranku baik-baik untuk menikah denganku," ucap Devon sebelum meninggalkan rumah Cindy.


Cindy hanya terdiam, dia bingung mau menjawab apa pertanyaan dari Devon. Devon mencoba mengerti keadaan Cindy. Laki-laki itu kemudian memasuki mobil lalu pergi meninggalkan Cindy.


Cindy menidurkan anaknya di atas tempat tidur dengan hati-hati. Ia memandang wajah anaknya yang damai. "Terima kasih Ya Allah sudah memberikan karunia yang paling indah di dunia ini," gumam Cindy.


"Apa Mas Devon sudah menamai anakku ini?" imbuhnya. Dia ragu untuk bertanya pada Devon. Namun, ia juga ingin tahu bagaimana cara memanggil anaknya. Lalu ia beranikan diri untuk menghubungi Devon.


"Hallo," kata Cindy dengan ragu.


"Ya, apa yang ingin kau katakan?"

__ADS_1


"Emm, apakah Mas Devon sudah menamai anak ini?" Tanya Cindy sambil menggigit bibir bawahnya.


Terdengar suara tawa melalui sambungan telepon. "Namanya Cello," jawab Devon singkat.


Cindy mengulas senyum. "Baiklah, aku akan menutup teleponnya."


"Tunggu, aku hanya ingin bilang aku merindukan saat-saat seperti dulu."


Ucapan Devon membuat Cindy menitikkan air mata. "Apakah aku bisa menikah dengan Mas Devon sedangkan ada orang lain yang menungguku setelah sekian lama," gumam Cindy.


Sejak ia keluar dari rumah sakit, Cindy tidak pernah bertemu dengan Tommy. Ia bingung haruskah ia menerima tawaran Tommy agar dia bisa memiliki status ataukah kembali pada Devon yang jelas merupakan ayah dari anaknya itu. Cindy merasa dilema.


Semalaman Cindy tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan tawaran Devon.


Keesokan harinya Devon kembali ke rumah Cindy karena ia ingin sekali melihat anaknya. Sang asisten rumah tangga yang selama ini membantu Cindy membukakan pintu ketika mendengar seseorang menekan bel depan rumah majikannya.


"Silakan masuk, Pak."


"Di mana mereka?" Tanya Devon yang menanyakan keberadaan Cindy dan anaknya.


"Ada di dalam kamar, Pak."


Cindy yang menyadari kehadiran Devon kemudian menghentikan aktivitasnya. Namun, baby Ello malah menangis dengan kencang karena ASI nya dicabut.


"Tidak apa, lanjutkan!" Kata Devon sambil terkekeh.


"Mas, keluarlah dulu aku ingin menyusui anakku," pinta Cindy yang malu.


"Kenapa mesti malu bukankah aku sudah pernah melihat dirimu dalam keadaan polos?" Goda Devon kemudian terkekeh.


"Hish, menyebalkan," Cindy mengerucutkan bibirnya. Ia merasa tidak nyaman karena Devon masih berada di kamarnya.


"Sayang sudah ya, kita main dulu," Cindy mangajak anaknya berbicara. Meski belum mengerti dia berharap Ello segera berhenti menyusu.


"Sepertinya ukuran dadamu bertambah nesar sayang," kata Devon. Ucapan Devon itu sungguh membuat Cindy risih mendengarnya.


"Jangan mesum!"

__ADS_1


"Aku begini karena aku merindukanmu, sayang," ucap Devon setengah berbisik di telinga Cindy.


Cindy memutar bola matanya jengah. "Aku akan menutup kuping anakku agar dia tidak mendengarnya," kata Cindy.


Devon terkekeh. Kemudian raut mukanya berubah serius. "Apa kau sudah memikirkan tawaranku?" Tanya Devon.


Cindy menghela nafasnya. "Setelah aku pikir sebaiknya kita segera menikah tapi dengan cara yang sederhana saja," pintanya.


Devon mengulas senyum lebar di wajahnya. Ia bahagia mendengar tawaran menikahnya diterima oleh Cindy.


"Aku sangat senang kau menerimaku..."


Cindy melirik ke arah Devon setelah meletakkan anaknya yang tengah tertidur. Ia menyela omongannya. "Tunggu, aku melakukannya demi anakku agar dia tidak mendapat hinaan dari orang lain."


Devon mendekat ke arah Cindy. Ia memegang tangan Cindy dan menatap bola matanya. "Apapun alasannya aku tetap mencintaimu, Cindy," kata Devon dengan tulus.


Devin menangkup wajah Cindy yang kemerahan. Ia mencium bibir Cindy yang sangat dirindukannya itu. Cindy tak menolak karena sesungguhnya ia juga sangat merindukan laki-laki yang kini sedang melu"mat bibirnya dengan lembut.


Devon mengusap punggung Cindy dengan lembut. Begitu pula dengan Cindy entah sejak kapan tangannya melingkar di leher Devon.


Devon yang melihat Cindy menyambut ciumannya diam-diam mengulas senyum tipisnya. Ia pun melanjutkan ciumannya itu dengan menggigit bibir bawah Cindy agar ia leluasa mengeksplor ke dalam mulut Cindy.


Sungguh sebuah kebahagiaan uang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Antara Devon dan Cindy merasa saling merindukan. Cindy melepas pagutannya ketika merasakan sulit bernafas.


"Aku igin kembali bermesraan denganmu, aku tahu kau juga merindukanku," kata Devon dengan mata yang mulai berkabut.


Ia mengangkat Cindy ke atas meja. Devon kembali mencium bibirnya. Cindy hanya bisa pasrah dengan perlakuan Devon. Toh sebentar lagi mereka juga akan menikah.


Devon semakin menggila. Ia mulai meuruni leher Cindy yang putih itu. Cindy menggeliat dan m3ndsah tak karuan.


"Mas, hentikan!" Pintanya dengan suara yang serak.


"Kau seperti candu untukku," kata Devon.


Lalu ia memasukkan tangannya perlahan di baju Cindy dan bermain-main di gunungan kenyal milik Cindy. Cindy menjambak rambut Devon yang semakin menuntut lebih.


Namun aktivitasnya tiba-tiba terhenti ketika baby Ello menangis. Cindy membetulkan bajunya yang berantakan lalu menggendong bayinya.

__ADS_1


Devon terlihat frustasi karena ia tidak bisa menuntaskan hasratnya. "Aku boleh pinjam kamar mandi?" Cindy mengangguk.


Ia sangat malu karena melakukan hal-hal di luar pikirannya. Tapi ia terkekeh sendiri saat Devon masuk ke dalam kamar mandi. "Ayahmu sungguh nakal," gumam Cindy.


__ADS_2