
Cindy mengagendakan jalan-jalan bersama anak dan suaminya. "Mas kapan kamu ada waktu kita sudah lama tidak pergi bersama," kata Cindy pada saat sarapan bersama sang suami.
"Memangnya mau kemana sayang?" Tanya Devon.
"Aku hanya ingin quality time saja denganmu," jawab Cindy beralasan. Sebenarnya dia ingin pamer kemesraan pada Lisa. Cindy ingin menunjukkan kalau dirinya lah yang berkuasa atas suaminya. Cindy tak akan membiarkan pelakor masuk ke dalam kehidupannya.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Bali, bukankah kau punya resort di sana Mas?" usul Cindy.
"Sebentar sayang, Bayu sedang menghubungiku," sela Devon. Devon berdiri dari kursinya untuk mengangkaat telepon dari asisten pribadinya.
Cindy mengerucutkan bibirnya karena sang suami mengabaikannya. "Selalu saja sibuk," gumam Cindy sambil mencebik kesal.
"Bagaimana aku bisa menunjukkan kalau hubunganku dengan suamiku baik-baik saja pada Lisa, aku tidak mau dia merasa senang jika melihatku terpengaruh dengan perbuatannya. Ah aku punya ide." Cindy tersenyum menyeringai.
"Sayang aku berangkat kerja dulu ya aku harus menghadiri meeting penting dengan klienku," kata Devon berpamitan.
"Baiklah, emm siang ini aku mau main ke kantormu boleh?" Tanya Cindy.
"Tentu saja, jarang sekali kamu datang berkunjung sebagai pemilik hotel," kata Devon. Kemudian ia mengecup kening sang istri. Lalu ia juga mencium pipi gembul anaknya.
Sesampainya di kantor, Devon melihat Lisa datang pagi-pagi. Devon mengerutkan keningnya. "Kenapa wanita itu selalu muncul di hadapanku," protes Devon.
"Mas, aku membawakan makanan untuk makan siangmu nanti," kata Lisa sambil menyodorkan makanan kepada Devon.
"Bayu buat kamu saja," kata Devon dengan nada dingin.
Lisa mengepalkan tangannya. Ia tak habis pikir susah sekali mendapatkan hati Devon. Lisa menyerahkan makanan itu pada mantan tunangannya. Karena beberapa waktu lalu mereka sepakat mengakhiri hubungan mereka.
"Nih, buat kamu," Lisa menyodorkan makanan yang ia masak untuk Bayu.
"Tidak terima kasih aku sudah makan. Bawa pulang kembali," tolak Bayu. Lisa menjadi geram.
Lisa menghentakkan kaki karena kedua laki-laki itu mengabaikannya. Lalu ia memutuskan untuk pulang. Tapi di lobi ternyata ia bertemu dengan Cindy.
Cindy menatap tajam pada Lisa. "Mau apa kamu ke sini?" Tanya Cindy.
"Apa aku harus laporan dulu mengenai kegiatanku sehari-hari padamu? Apa kau berniat menerimaku menjadi istri kedua suamimu?" Lisa memancing kemarahan Cindy.
__ADS_1
"Tidak usah bermimpi. Aku tahu kau hanya berpura-pura hamil untuk menarik simpati suamiku. Kau kira aku tidak tahu kalau kau ingin mendapatkan harta suamiku saja."
"Kau, jaga bicaramu!" Bentak Lisa. Ia melihat ke sekeliling. Ia menarik tangan Cindy lalu menamparkan ke pipinya.
"Kenapa kau malah menamparku." Lisa berakting agar mendapatkan simpati orang-orang yang menyaksikannya.
Cindy mengerutkan keningnya. "Dasar wanita gila, bisa-bisanya menampar pipinya sendiri tapi menggunakan tanganku. Kau yang menarik tanganku sendiri bodoh!" Kesal Cindy.
Ia tak menghiraukan Lisa. Cindy berlalu meninggalkan Lisa lalu menaiki lift.
"Kalian lihat, nyonya besar kalian yang kalian kira baik hati ternyata tega wanita sepertiku padahal aku sedang hamil," Lisa mengarang cerita. Dan sayangnya sebagian dari mereka percaya pada omongan Lisa.
Cindy menunggu suaminya yang sedang meeting dengan klien di ruangannya. Sedangkan Devon dan Bayu meeting di ruangan lain.
Cindy tidak membawa Cello ke kantor Devon ia menitipkan Cello pada mbak Sari, asisten rumah tangganya.
Sudah dua jam Cindy menunggu tapi Devon tidak juga kembali ke ruangannya. Karena merasa bosan ia memilih berkeliling hotel. Namun, sebagian pegawai membicarakan dirinya diam-diam.
"Sebenarnya apa yang terjadi kenapa orang-orang seperti melihat aneh ke arahku?" Gumam Cindy.
Lalu ia memutuskan untuk pulang dan meninggalkan rantang yang ia bawa di meja Devon.
"Tapi itu bukan seperti milik Lisa pak."
Devon mengerutkan keningnya. "Apa itu dari Cindy?" Gumam Devon.
Lalu ia mengecek CCTV melalui laptopnya. Benar saja Cindy sempat singgah ke kantornya. "Kenapa dia tidak mengabari kalau dia datang?"
Cindy pulang menggunakan taksi. Cindy berpikir keras bagaimana cara membuktikan kalau Lisa hanya memgarang cerita soal kehamilannya. "Aku yakin dia hanya pura-pura hamil."
Lalu dalam perjalanan pulang Cindy melihat Lisa masuk ke sebuah toko. Lalu ia mengikuti Lisa. "Pak berhenti di sini," perintah Cindy pada driver taksi online tersebut.
Cindy menunggu Lisa keluar dari toko itu. Saat Lisa keluar Cindy menjulurkan kakinya. Lisa terjatuh. "Haduh nona anda tidak apa-apa?" Cindy pura-pura peduli. Ia membantu Lisa bangun.
"Kau? Apa yang kau lakukan padaku, bagaimana kalau kandunganku kenapa-kenapa?" Geram Lisa. Ia curiga pada Cindy.
Cindy tersenyum licik. "Nona, apa anda sedang hamil? Oh Tuhan tolong panggilkan taksi. Saya tidak sengaja menabraknya hingga terjatuh. Saya akan membawanya periksa ke dokter," kilah Cindy. Ia sengaja menarik perhatian banyak orang.
__ADS_1
Lisa menjadi panik. Ia takut Cindy mengetahui kebohongannya. "Tidak, tidak perlu, saya baik-baik saja," tolak Lisa.
"Ibu, anda ikut saya untuk menemani nona ini," tunjuk Cindy pada seorang wanita paruh baya. Untungnya wanita itu menurut perintah Cindy.
Cindy, Lisa dan seorang wanita yang ditunjuk Cindy turun di sebuah klinik yang tak jauh dari lokasi tadi.
"Jadi bagaimana dok? Apa kandungannya baik-baik saja?" Tanya Cindy aoda dokter yang memeriksa Lisa.
"Kandungan? Dia tidak sedang hamil," jawab dokter tersebut. Cindy menaikkan sudut bibirnya.
"Jadi dia membohongi kita nyonya," seru wanita yang menemani mereka tadi. Ia merasa sia-sia menemani Lisa ke dokter.
Setelah mereka keluar, Cindy meminta nomor telepon yang bisa dihubungi pada wanita tadi. "Untuk apa anda meminta nomor telepon saya?" Tanya wanita itu.
"Siapa tahu suatu hari saya membutuhkan anda nyonya," terang Cindy.
Lisa meninggalkan mereka karena malu. "Tunggu," teriak Lisa sebelum dia menjauh.
Lisa menoleh. "Kau sudah ketahuan, jangan lagi membuat ulah di depan suamiku atau aku akan membongkar aibmu di depan banyak orang," ancam Cindy. Lisa hanya bisa mengeraskan rahangnya. Lalu ia pergi dengan perasaan kesal.
Cindy merasa menang karena telah berhasil membuktikan kalau Lisa hanya berbohong. "Aku harus melapor pada suamiku, aku tahu wanita itu hanya ingin menjebaknya," gumam Cindy yang senang.
...***...
Lisa menghubungi Devon yang malam itu akan kembali ke rumahnya. "Nomor siapa ini?" Gumam Devon. Ia tak tahu kalau Lisa yang sedang meneleponnya.
Devon mengangkat telepon itu. "Hallo."
"Hallo, Mas Devon datanglah ke rumah sakit aku sedang di rawat. Istrimu berusaha mencelakai aku tadi siang," kata Lisa melalui sambungan telepon.
Devon tidak percaya pada kata-kata Lisa tapi ia ingin melihat sendiri apakah Lisa berbohong atau tidak. Oleh sebab itu, ia datang ke rumah sakit. Di sana Lisa tampak terbaring lemah.
"Apa yang terjadi?" Tanya Devon pada Lisa.
"Aku keguguran mas. Istrimu sengaja menabrakku ketika aku baru keluar dari toko hingga terjatuh," ucap Lisa diiringi tangisan.
"Apa dia tidak berbohong? Kalau dia berbohong mana mungkin dia diinfus segala," pikir Devon. Devon merasa bingung. Ia tak percaya istrinya tega melakukan perbuatan sekeji itu dengan menghilangkan nyawa anak yang sedang dikandung Lisa.
__ADS_1
Lisa tersenyum senang dalam hatinya karena Devon percaya akan sandiwara yang ia perankan.