
Brak
Devon menendang pintu. Ia melihat Cindy dalam dekapan Dio. "Lepaskan dia!" bentak Devon.
Dio mendorong Cindy. Cindy berguling ke tanah. Saat Devon akan menolong gadis itu, Dio menendang Devon. Laki-laki itu jatuh tersungkur.
Cindy berteriak melihat keduanya berkelahi. Devon bangkit lalu membalas tendangan Dio. Dio masih memegang belati di tangannya. ia arahkan belati itu ke Devon. Untungnya laki-laki itu berhasil menyingkir. Lalu Devon menangkap tangan Dio dan mematahkannya.
Dio mengerang kesakitan. Tak berhenti sampai situ, Devon memutar dan menyikut bagian dada Dio. Dio pun tumbang.
Kini Devon mendekat ke arah Cindy yang ketakutan sambil memegang kedua lututnya. Ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Cindy. "Jangan khawatir kamu sudah aman," kata Devon. Cindy tiba-tiba memeluk Devon. Devon membalas pelukan Cindy.
Dio kembali bangkit. Cindy yang melihat Dio mengarahkan belatinya ke arah Devon langsung mendorong tubuh laki-laki itu. Dio yang awalnya ingin menusuk Devon dari belakang malah mengenai perut Cindy. Seketika Cindy terkulai lemas sambil memegangi perutnya yang terluka.
Devon terkejut tak percaya jika Cindy rela berkorban untuknya. Lalu ia bangkit. Devon mengepalkan tangannya dan mencengkeram kerah Dio. "Ba*jing*an," umpat Devon yang geram dengan ulahnya.
Dio malah tertawa. "Dia akan mati," ucap Dio. Devon memukul wajah Dio hingga tersungkur. Tak lama kemudian Bayu datang bersama polisi.
"Pak anda tidak apa-apa?" tanya Bayu.
"Bayu kunci mobilmu mana? Cindy terluka," tanyanya sambil menengadahkan tangan. Bayu segera memberikan kunci mobilnya.
"Biar saya yang menyetir Pak," kata Bayu menawarkan bantuan.
__ADS_1
Devon tak mengindahkan omongan Bayu. Ia mengangkat tubuh Cindy yang sudah tak sadarkan diri. "Aku mohon bertahanlah," ucap Devon di tengah perjalanan menuju mobilnya.
Devon meletakkan tubuh gadis itu di kursi mobil bagian belakang dengan hati-hati. Lalu masuk ke belakang kursi kendali.
Devon menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Di tengah perjalanan dia diikuti oleh polisi lalu lintas karena mobil yang dikendarai Devon sudah melampaui batas kecepatan.
Polisi tersebut terus membunyikan klakson agar mobil yang dikendarai Devon berhenti tapi ia malah menambah kecepatan mobilnya. Akhirnya terjadi kejar mengejar antara mobil Devon dan motor polisi tersebut.
Mobil Devon sampai di halaman rumah sakit. Ia kemudian berteriak agar perawat segera menolong Cindy. Polisi tersebut yang melihat Devon menurunkan Cindy yang terluka parah akhirnya memaklumi.
Setelah Cindy ditangani Devon menghampiri polisi yang masih menunggunya itu. "Maaf Pak, saya tidak bermaksud melanggar peraturan lalu lintas tapi saya mengantarkan calon istri saya yang sedang terluka," bohong Devon menyebut Cindy sebagai calon istrinya.
"Iya Pak, seharusnya tadi anda meminta pengawalan dari saya," tegur polisi tersebut.
"Kalau boleh tahu kenapa bisa terluka separah itu?" tanya polisi tersebut.
Kini Devon menunggu di kursi tunggu depan ruang UGD. "Anda keluarga pasien?" tanya perawat pada Devon.
"Iya sus, pasien mengalami luka yang cukup parah dia harus segera dioperasi, tolong urus administrasinya agar dokter bisa segera mengambil tindakan."
"Berikan perawatan yang terbaik saya akan menanggung berapa pun biaya yang harus dikeluarkan."
"Pak bagaimana keadaan nona Cindy?" tanya Bayu yang baru sampai.
__ADS_1
"Dia harus dioperasi," kata Devon. Ia mengusap wajahnya frustasi.
"Pak saya rasa tidak ada wanita yang sehebat nona Cindy untuk saat ini." Bayu mulai menasehati.
"Apa maksudmu Yu?"
"Jelas Pak, nona Cindy adalah wanita yang tepat untuk anda. Devon masih mencerna omongan asistennya itu.
"Apakah aku masih perku bersandiwara setelah ini?" Devon meminta pendapat Bayu.
"Itu terserah anda Pak," kata Bayu.
...***...
Cindy telah dioperasi. Kini gadis itu dipindahkan di ruang rawat pasien. Gadis itu masih belum sadar. Devon telah menghubungi Irene dan Alan.
"Ya ampun kasian banget mami Cindy," ucap Alan dengan wajah sendunya.
"Semoga dia cepat sadar," harap Irene.
"Ren kamu sudah menghubungi keluarganya?" tanya Devon pada Irene. Kini Devon tak lagi berpura-pura miskin. Ia sudah memakai setelan jas seperti biasanya.
Irene dan Alan masih belum mengerti tentang perubahan Devon. Tapi mereka tidak berani bertanya pada laki-laki itu.
__ADS_1
"Tidak Pak, Cindy hanya memiliki seorang nenek yang merawatnya sejak kecil kami tidak mau membuat neneknya khawatir karena beliau memiliki riwayat penyakit jantung," ungkap Irene.
"Baiklah, tolong jaga dia untukku aku akan kembali ke kantor untuk mengurus pekerjaan, kabari kalau Cindy sudah sadar," perintah Devin pada Irene dan Alan. Mereka mengangguk mengerti.