
"Kita sudah selesai Tom. Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," kata Irene.
"Ren, aku masih tidak mengerti kenapa kamu meminta putus dariku?" Tanya Tommy.
Irene ingin sekali memukul kepala Tommy yang lemot itu. "Aku tidak mau buang-buang tenaga untuk menjelaskan apa yang kamu tidak mengerti. Percuma kalau kujelaskan otakmu tidak menangkapnya," cibir Irene lalu mengibaskan tangannya agar Tommy melepas pegangan tangannya.
"Kamu adalah orang yang sangat berharga dalam hidupku. Bersamamu membuatku merasa bahagia. Namun maaf, jika aku tak bisa melanjutkan hubungan yang telah kita jalin selama ini dengan alasan yang tak bisa kuungkapkan," kata Irene sambil menatap Tommy diam-diam setelah ia masuk.
Tak terasa air matanya menetes. Irene segar menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
"Cinta anak muda memang rumit," gumam Cindy.
"Lah bukannya kalian seumuran ya?" Tanya Irma.
"Aku lebih tua setahun sih dari dia," aku Cindy.
"Kalian ngomongin aku ya?" Tanya Irene.
"Fokus kerja jangan sampai salah perhitungan. Kalau ada uang yang tak terhitung aku akan minta kamu menggantinya," ancam Cindy.
Irene mencebik kesal. "Iya ya."
Pelanggan mulai berdatangan. Tommy yang merasa diabaikan kemudian pergi. "Apa sudah tidak ada kesempatan lagi Ren?" Batin Tommy sebelum melajukan mobilnya.
"Aku bahagia karena selama ini kamu mencurahkan seluruh cintamu untukku. Namun, aku merasa tak pantas untuk dicintai oleh orang sebaik kamu. Mungkin suatu saat akan ada orang lain yang lebih baik dariku yang dapat memberikan keceriaan dan kebahagiaan untukmu," kata Tommy lirih di dalam mobil.
...***...
Cello sudah saatnya pulang sekolah. "Pak antal aku ke lumah kak Jaden," perintah Cello pada supirnya.
Meski omongannya tidak jelas, pak Hasan berusaha mencerna omongan Cello. "Rumahnya dimana Den?" Tanya Pak Hasan.
"Aku nggak tahu," jawab Cello polos. Pak Hasan hanya bisa menepuk jidatnya. Tak lama setelah itu Pak Hasan menelepon Cindy.
"Ada apa Pak?"
"Maaf nyonya, Den Cello mau ke rumah kak Jaden tapi saya tidak tahu alamatnya."
"Owh nanti saya kirim melalui pesan singkat pak," kata Cindy melalui sambungan telepon.
Setelah mendapatkan alamatnya pak Hasan meluncur ke tempat Jaden. Tapi ketika memasuki komplek perumahan yang megah itu mereka bingung. "96A?" Pak Hasan masih menelusuri alamatnya.
"Yang ini bukan Den alamatnya?" Tak ada sahutan. Ternyata yang ditanya malah tertidur.
"Sebaiknya aku tanya saja." Pak Hasan turun lalu bertanya alamat rumah yang dimaksud.
__ADS_1
"Apa betul ini rumahnya tuan Jaden?" Tanya Pak Hasan. Dia belum tahu kalau Jaden adalah remaja berusia enam belas tahun.
"Tidak ada pak penghuni komplek sini yang bernama Jaden. Maaf saya baru di sini," akunya.
"Wah susah ya kalau begitu," keluh Pak Hasan.
Tak lama kemudian Cello menangis karena ia capek baru bangun tidur. Pak Hasan segera menghampiri anak majikannya itu.
Cello minta digendong oleh sang supir. Lalu dari arah lain, Jaden yang mengendarai motor berhenti tepat di depan Cello.
Ia membuka helm fullface yang ia kenakan. "Cello," panggil Jaden.
"Kakak," Cello turun lalu menghampiri Jaden.
Jaden turun dari motor sportnya. Lalu menyamakan tingginya dengan anak kecil itu. "Kamu ngapain di sini?" tanya Jaden sambil mencolek hidung adik sepupunya itu.
"Mau main," rengeknya.
"Pak, ikuti saya!" Perintah Jaden pada orang yang diduga supir pribadi Cello itu.
Cello masuk ke dalam mobil. Sang sopir mengikuti motor Jaden dari belakang. Sesampainya di rumah Jaden sang sopir baru sadar kalau pesan yang dikirim oleh majikannya itu keliru. "Ow rupanya 69A Bu Cindy salah ketik."
Jaden tak menghiraukan omongan pak Hasan.
Jaden turun dari motor lalu menggendong Cello sampai ke rumah. "Hei, kamu kenapa tiba-tiba ada di sini?" Tanya Celine yang terkejut ketika Jaden menggendong adik sepupunya itu.
Celine terkekeh mendengar omongan keponakannya itu. "Memangnya sudah bilang sama mama kamu?" Tanya Celine. Cello mengangguk.
"Ya sudah bobok di kamar kakak oke?"
"Jom." Cello menirukan omongan serial kartun kesayangannya.
"Kamar kak Jaden jolok," komen Cello ketika melihat kamar Jaden yang berantakan.
"Ini baru namanya kamar cowok," kata Jaden dengan bangga.
"Kak Julian kemana?" Tanya Cello yang tak melihat kembaran Jaden itu.
Meski wajahnya sangat mirip, Cello bisa membedakan mana Jaden dan mana Julian.
Jaden menggedikkan bahunya. "Mungkin dia ada tambahan kelas," kata Jaden. Padahal Jaden hari ini bolos setelah istirahat pertama. Tapi Jaden dan Julian tidak bersekolah di tempat yang sama.
"Kakak, pulangnya pagi telus ya?" Jaden terkekeh mendengar omongan anak kecil itu.
"Ayo kita berenang!" Anaknya untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Atu nggak bisa belenang."
"Tenang nanti kakak ajalin," Jaden menirukan cara berbicara Cello.
"L bukan L," Cello membetulkan omongan Jaden.
"Sama aja cadel," ejek Jaden. Lalu Cello mengejar Jaden. Dia berlari kesana-kemari mengejar Jaden karena kesal. Jaden memang sangat suka menggoda anak yang belum genap berumur empat tahu itu.
"Jaden jangan ajak adiknya lari-larian!" Teriak Celine.
...***...
"Apa Cello sudah sampai di rumah Mbak Celine ya?" Cindy bertanya pada dirinya sendiri.
"Mam, aku izin sekarang ya, mau siap-siap juga," kata Irene.
"Oh, iya Ren kamu hati-hati ya di jalan. Oh ya ini sedikit uang untuk bibi di kampung." Cindy memberikan sedikit uang pada Irene.
Mata Irene berkaca-kaca. "Terima kasih banyak."
"Kamu kapan balik?" Tanya Irene.
"Aku di sana hanya sebentar, aku cuma sudah lama tidak pulang ke rumah."
Tin tin
Di luar sudah ada Alan yang menjemput. "Mam, pergi dulu ya," pamit Irene pada Cindy.
"Irma, gue pamit ya gantiin gue jadi kasir." Irma mengacungkan jempol. "Salam buat ibu Lo." Irene mengangguk.
Ketika di lampu merah, Alan dan Irene tak sengaja berhenti di samping mobil Tommy. Tommy menurunkan kaca mobilnya. "Rupanya sudah punya pacar baru?" Ledek Tommy lalu ia menutup kaca mobilnya kembali.
"Dasar mantan laknat, gak terima lo gue putusin," gumam Irene tak mau kalah.
"Kalian putus Ren?" Tanya Alan yang baru tahu.
"Iya, rupanya nggak ada yang bisa gantiin posisi elo di hati gue," goda Irene.
Tapi Alan tiba-tiba gugup. "Dasar bokis banget sih lo." Alan memaksakan senyumnya.
Tanpa Irene tahu kalau Alan sebenarnya menaruh hati pada Irene sejak lama. Meski sikap Alan setengah gemulai tapi dia tetap laki-laki normal.
"Seandainya Lo tahu tentang perasaan gue ke elo yang sebenarnya Ren," batin Alan. Dia hanya bisa mendesah.
..."Kadang cinta tak harus diungkapkan dengan kata-kata. Pembuktian lewat tindakan lebih berarti dari pada sebuah kata cinta yang terucap tapi kemudian tak membekas sama sekali," Othor say....
__ADS_1
"Jalan Lan!" Perintah Irene sambil menepuk bahu Alan.