Click Your Heart

Click Your Heart
Part 112


__ADS_3

Cindy sangat merindukan suaminya. "Apa Mas Devon tidak merindukanku?" Ucapnya dengan wajah sendu.


Lalu ia berpikir untuk menarik perhatian Devon. "Sebaiknya aku masakkan dia lalu kuantar ke kantor saja," sebuah ide terbesit di benak Cindy.


Cindy pun sibuk memasak. Semenjak toko kuenya semakin berkembang dia hanya menjadi owner yah sesekali saja mengunjungi toko. Selebihnya dia menyerahkan urusan toko pada Irene dan Irma.


Cindy mulai mengambil bahan makanan segar yang ada di dalam kulkas. "Ibu mau apa? Biarkan saya saja yang masak," kata Mbok Nah yang ingin mengambil alih apa yang dikerjakan oleh Cindy.


"Saya ingin memasak makan siang untuk mas Devon Mbok. Biar saya kerjakan sendiri. Mbok bisa beristirahat."


Ah, Cindy memang baik pada siapapun tanpa memandang strata. Karena dia menyadari bahwa dia pernah di posisi tersebut.


"Saya permisi, Bu," pamit Mbok Nah. Akhir -kahir ini dia mengeluh sakit sehingga Cindy membiarkannya beristirahat.


Usai memasak Cindy bersiap-siap mengganti pakaiannya. Dia juga berencana mengajak putranya ke kantor Devon.


Cindy mengendarai mobil seorang diri lalu dia menuju ke sekolah anaknya.


"Mama," panggil Cello ketika melihat sang ibu.


"Ayo, masuk! Kita main ke kantor papa," ucapnya sambil tersenyum. Cello terlihat sangat girang.


Tak butuh waktu lama, Cindy sampai di depan lobi rumah sakit. Lalu ia menyerahkan kunci mobil pada seseorang yang bertugas memarkir mobil para tamu yang datang ke hotel yang dibangun oleh suaminya itu.


"Pak, Devon ada?" Tanya Cindy pada seorang resepsionis.


"Anda siapa?" Tanya resepsionis itu.


Cindy tidak hafal pegawai suaminya satu per satu jadi ia hanya menebak kalau wanita yang ada di hadapannya itu adalah pegawai baru.


"Bilang saja Cindy mau ketemu?" Cindy ingin menguji pegawai baru itu.


"Apa sebelumnya anda sudah bikin janji dengan pak Devon?"


"Belum," jawab Cindy dengan santai. Kapanpun dia mau dia bisa datang bukan? Tanpa membuat janji terlebih dulu karena dia adalah istri pemilik hotel itu.


Wanita itu tampak memindai penampilan Cindy. Tampilan Cindy yang tak terlihat formal lebih ke gaya casual tapi santai membuat wanita itu tidak percaya pada Cindy. "Kalau begitu kembali lagi besok, pak Devon sedang sibuk." Dia mengusir Cindy secara halus.


Cindy sudah mengira dia akan diusir. "Kalau begitu sampaikan kalau istrinya datang," kata Cindy mulai angkuh. Ia ingin melihat reaksi resepsionis baru itu ketika dia mengakui kalau dirinya adalah istri pemilik hotel.


Wanita yang duduk di belakang meja resepsionis itu malah mengedarkan matanya seolah mencari seseorang.

__ADS_1


Cindy semakin geram. "Kamu mencari siapa?"


"Tidak ada Bu bos di sini, jadi anda jangan mengada-ada," sentaknya.


Lalu dari arah lain tampak seorang berpakaian keamanan mendekat ke arah suara yang gaduh.


Laki-laki itu mengangguk saat melihat Cindy. "Ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya petugas keamanan tersebut.


"Tidak, saya sudah cukup menguji pegawai baru kita," ucapnya lalu melenggang begitu saja meninggalkan area resepsionis tersebut.


"Pak, kok dibiarkan masuk sih?" Tanya wanita itu.


"Hust, kamu tahu siapa dia?" Tanya petugas keamanan tersebut. Wanita itu menggeleng.


"Dia itu istrinya pak Devon." Penuturan laki-laki itu membuat wanita yang bekerja sebagai resepsionis itu terperangah.


"Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia mengadu pada suaminya? Habislah riwayatku," ucapnya dengan khawatir lalu ia terduduk lemas.


"Makanya kalau ada tamu ditanya yang benar," cibir petugas keamanan itu lalu ia kembali berkeliling.


Cindy menahan tawa saat berhasil mengerjai pegawai baru Devon. Tak lama kemudian lift berhenti di lantai dimana terdapat ruang kerja Devon.


Prank


Cindy menjatuhkan rantang makanan yang ia bawa ketika mendapati seorang wanita yang sedang duduk di pangkuan Devon.


Reflek tangannya menutup mata Cello agar tidak melihat adegan kurang sopan itu.


"Cindy," panggil Devon sedikit berteriak.


Cindy tak menghiraukan panggilannya. Cindy terus saja berjalan sambil menggendong Cello.


Bayu yang berpapasan dengan Cindy jadi bingung ketika melihat Cindy menggendong anaknya setengah berlari disusul oleh Devon di belakangnya.


"Ada apa ini?" Gumam Bayu. Lalu Bayu melihat seorang wanita keluar dari ruangan Devon.


Bayu langsung berjalan cepat ke arahnya. Dia mencengkeram dagu Lisa dan mengintrogasinya.


"Apa yang telah kamu lakukan hingga Cindy dan Devon bertengkar seperti itu?" Tanya Bayu dengan penuh penekanan.


Lisa menarik ujung bibirnya. "Tanyakan sendiri pada atasanmu," jawab Lisa sambil melepas cengkeraman tangan Bayu.

__ADS_1


Bayu hanya mematung. Sedangkan Lisa berjalan meninggalkan Bayu seorang diri.


Sementara itu di depan wanita yang berprofesi sebagai resepsionis tadi melihat atasannya sedang menarik tangan sang istri. Mereka seperti sedang bertengkar, pikirnya.


"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Devon sambil menarik tangan Cindy.


"Lepaskan Mas!" Cindy menatap tajam ke arah Devon.


Cello mulai bingung dan ketakutan sehingga dia menangis. "Aku mohon jangan seperti ini?" Devon sedang membujuk Cindy. Ia pasti salah paham dengan posisinya saat memangku Lisa tadi.


"Salah paham bagaimana? Aku lihat kamu sedang bercumbu mesra dengan Lisa." Devon sudah menduga Cindy akan mengatakan demikian.


"Apa yang kamu lihat itu tidak benar sayang," ucapnya mulai putus asa. Devon bingung bagaimana menjelaskannya jika Cindy tak memberi kesempatan untuk bicara baik-baik.


"Salah paham katamu? Kamu pikir aku buta," teriak Cindy. Cello makin menangis kencang.


"Iya, kamu salah paham."


"Lepaskan tanganmu Mas. Kamu tidak malu menjadi pusat perhatian para pegawainya?" Cindy melirik sekilas ke arah pegawai baru yang sejak tadi mengamati dirinya yang bertengkar dengan sang suami.


Devon mengikuti arah mata Cindy. Pegawai itu langsung tertunduk takut.


Cindy pergi setelah Devon lengah dan melepas pegangan tangannya. Devon ingin mengejarnya tapi sebentar lagi ia harus bertemu dengan klien.


Bayu tiba-tiba menyusul. "Pak," panggilnya. Sedangkan dari arah lain, Lisa berjalan dengan santai meninggalkan dia laki-laki itu. Devon mengepalkan tangannya merasa geram karena kedatangannya membuat Cindy salah paham.


Kalau saja dia tidak merayu dan sengaja duduk d pangkuan Devon, Cindy tidak akan pergi dengan keadaan marah.


"Jangan biarkan wanita culas itu mendekatiku lagi. Aku ingin kau mengatakan pada seluruh petugas keamanan agar melarangnya masuk ke hotel ini lagi," perintah Devon pada Bayu.


"Baik, Pak."


Bayu bisa menangkap kemarahan di wajah Devon. Namun, kali ini Lisa beruntung Devon melepaskannya.


Sejuta pertanyaan timbul di dalam benak Bayu. Sebenarnya apa yang dilakukan Lisa sampai-sampai Cindy berlari keluar dengan terburu-buru. Yang pasti buka sesuatu yang baik.


Di parkiran mobil Lisa yang akan memasuki mobilnya urung masuk karena pintunya diganjal oleh tangan seseorang.


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipinya.

__ADS_1


__ADS_2