Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 174


__ADS_3

Cello sempat melihat para gadis menghadang jalan Mita. Dia pun berjalan cepat ke arahnya.


"Nih, minum dulu," Cello menggoyangkan botol air mineral yang ada di tangannya agar Mita mau menerimanya. Tanpa berpikir panjang Mita menyerobot botol tersebut lalu membukanya. Dia meneguk air mineral itu dengan terburu-buru.


"Pelan-pelan saja minumnya!" Usai mengatakan itu, Cello pergi. Mita menatap punggung Cello.


Mita bum mengucapkan terima kasih. Dia menjadi merasa tidak enak karena Cello bersikap baik padanya. Padahal selama ini, dia begitu angkuh di depan Cello.


Cello menunggu jemputan yang belum juga datang. Tak lama kemudian Anwar berhenti di depan Cello dengan sepedanya. "Mau bareng nggak?" Anwar menawari tumpangan.


"Boleh," Cello menjawab dengan cepat.


Mereka pulang menaiki sepeda. "Aku mau main ke rumah kamu boleh nggak? Lagi pula masih jam segini," kata Cello yang kini sedang berdiri di belakang Anwar.


Anwar agak ragu menjawabnya. "Tapi jangan nyesel ya nanti?" Kata Anwar.


"Enggak," jawab Cello yakin.


Anwar memasuki sebuah gang. Tak lama kemudian Cello dan Anwar tiba di rumah. "Ini rumahku," ucap Anwar. Cello memindai rumah satu lantai yang sederhana itu.


"Ayo aku kenalkan pada ibuku," ajak Anwar. Cello mengangguk.


Anwar menemui ibunya lalu ia mencium tangan sang ibu. "Kebetulan kamu pulang, beliin ibu gas elpiji di warung," perintah ibunya padahal Anwar masih memakai seragam.


"Yagh, Bu nanti sajalah. Ada teman Anwar yang datang," protes Anwar. Ibunya menengok ke arah Cello. Cello mengangguk hormat.


"Bentar doang. Orang deket juga warungnya." Sang ibu tak mau kalah. Akhirnya Anwar meminta izin pada Cello untuk keluar sebentar.


Anwar menaruh tasnya lalu melepas sepatu. Setelah itu dia meminta uang untuk membayar gas pada ibunya.


"Aku pergi ke warung sebentar buat beli gas elpiji, kamu tunggu di sini sendiri nggak masalah kan?" Tanya Anwar. Cello mengangguk.


Sesaat kemudian Anwar mengambil gas elpiji yang kosong lalu keluar ke warung terdekat.


"Kamu teman sekelasnya Anwar ya?" Tanya ibunya Anwar.


"Iya, Bu. Nama saya Cello." Cello memperkenalkan diri sambil meraih tangan ibu temannya itu. Ibunya Anwar tampak senang dengan sikap Cello yang sopan.

__ADS_1


"Ya sudah kamu duduk dulu, ibu buatin minum," ucapnya sambil berlalu ke dapur.


"Tidak usah repot-repot Bu."


"Nggak repot cuma teh hangat saja," ucapnya sambil berteriak.


Tak lama kemudian Anwar datang dengan membawa gas elpiji yang masih tersegel. "Aku taruh ini dulu ya," ucap Anwar ketika masuk ke dalam rumah.


Anwar berpapasan dengan ibunya yang membawakan segelas teh untuk Cello. "Kok cuma satu Bu?" Tanya Anwar.


"Kamu mau?" Anwar mengangguk menjawab pertanyaan ibunya.


"Buat sendirilah," jawab sang ibu. Anwar malah mencibir.


"Diminum, nak. Ibu tinggal memasak dulu ya kamu ngobrol aja sama Anwar."


"Terima kasih banyak m, Bu."


"Ibuku baik tidak?" Tanya Anwar.


"Selama aku pergi tadi kamu nggak diapa-apain kan?" Tanya Anwar curiga. Cello terkekeh mendengar pertanyaan Anwar.


"Emangnya kamu kira aku diapain sama ibumu?" Tanya Cello balik.


"Ibuku tuh galak lho. Tapi kalau sama orang dia manis, heran."


"Kamu jangan membicarakan ibumu di belakang. Nggak baik tahu."Cello mengingatkan temannya.


"Oh ya, kebetulan kamu ke sini. Mau ngajarin aku soal matematika nggak? Ada yang tidak kumengerti," kata Anwar.


"Boleh."


Setelah itu keduanya belajar bersama. Cello mengajari Anwar rumus yang dia belum kuasai.


Setelah agak lama, Cello mendapatkan telepon. "Aku angkat sebentar ya dari orang tuaku," kata Cello meminta izin pada Anwar.


"Ada apa ma?"

__ADS_1


"Kamu dimana? Tadi dijemput pak Hasan di sekolah kok nggak ada. Kata satpam kamu pulang sama temanmu."


"Maaf, Ma. Cello lupa bilang. Cello lagi di rumah temen belajar kelompok."


"Ya sudah kasih tahu alamatnya, nanti biar pak Hasan jemput kamu." Setelah itu Cello menutup teleponnya.


"Kamu dimarahin orang tuamu ya?" Tanah Anwar sedikit tak enak.


"Nggak, cuma nanya aja kenapa gak izin tadi. Mereka nyariin aku lupa bilang kalau aku main ke rumahmu." Lalu Cello memberesi barang-barangnya.


"Aku mau pulang sebentar lagi sopirku jemput."


"Iya, aku panggilin ibuku dulu ya." Setelah itu ibunya Anwar keluar.


"Saya pamit Bu. Sudah dijemput."


"Oh iya nak, tapi ibu nggak dengar suara motornya."


Anwar menyenggol lengan ibunya. "Naik mobil Bu," bisik Anwar di telinga ibunya. Ibunya membulatkan mata. Ternyata teman Anwar anak orang kaya, pikirnya.


Lalu Cello keluar dan memasuki mobil yang sudah terparkir di depan rumah Anwar.


"Wah temanmu itu anak orang kaya ya?" Tanya ibunya Anwar.


"Iya, Bu tapi seperti yang ibu lihat dia tidak sombong."


Di perjalanan pulang ke rumahnya, Cello memikirkan keluarga Anwar yang sederhana. Ternyata tidak semua orang seberuntung dirinya. Anwar sempat bercerita kalau ayahnya pergi entah kemana meninggalkan ibunya.


"Pak, bapak tahu kenapa pasangan suami istri bisa berpisah?" Tanya Cello polos.


"Kenapa menanyakan hal itu den?" Tanya Pak Hasan.


"Ah tidak, saya hanya ingin tahu kenapa ayah Anwar tega meninggalkan ibunya. Dia harus menghidupi Anwar seorang diri."


"Saya kurang tahu den."


Meski kecewa dengan jawaban Pak Hasan tapi Cello berharap supaya Anwar dan ibunya bisa menjalani hidupnya dengan mudah.

__ADS_1


__ADS_2