Click Your Heart

Click Your Heart
Part 128


__ADS_3

Entah apa yang terjadi saat itu, Maya merasa kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali. Bibirnya kelu seolah lidahnya kaku tak dapat berucap. Hanya bola matanya yang bisa digerakkan saat ini.


Ketika suaminya bangun, ia mendapatkan sang istri terbujur kaku dalam keadaan mata terbuka. "Ma, kamu kenapa?" Tanya suami Maya yang panik.


Ia pun memanggil Tommy lalu Tommy menyarankan agar sang ibu dibawa ke rumah sakit.


Saat di rumah sakit, dokter mendiagnosa kalau Maya terkena gangguan stroke


"Masih bisa sembuh kan dok?" Tanya sang suami.


"Kemungkinan bisa sembuh, Pak. Tapi mungkin agak lama," tutur sang dokter.


Setelah itu Maya disarankan untuk rawat inap selama beberapa hari di rumah sakit. "Biar aku yang menjaga mama, kamu pulanglah bersama papa," Irene menawarkan diri tanpa diperintah.


"Apa tidak apa-apa? Biar aku saja yang menunggui mama," kata Tommy. Ia merasa sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga orang tuanya.


"Tidak apa, Mas. Kamu berangkatlah ke kantor. Kamu bisa mengunjungi mama setelah pulang bekerja." Tommy pun menurut perkataan istrinya itu.


Maya benar-benar tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Bahkan berbicara pun ia merasa kesulitan.


Irene mendekat ketika melihat sang ibu mertua bersuara seolah menginginkan sesuatu. "Mama ingin apa? Apa mama ingin minum?" Maya hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan menantunya.


Irene dengan sabar memberikan minum pada Maya. Ia mengangkat sedikit bagian atas tubuhnya agar Maya tidak tersedak saat minum. Itu pun harus dibantu Irene menggunakan sedotan.


Setelah itu Irene menaikkan selimut yang digunakan Maya. Irene keluar sebentar untuk menghubungi Cindy.


"Cin, hari ini aku tidak bisa bekerja. Ibu mertuaku terkena stroke jadi aku harus menjaganya," kata Irene yang meminta izin pada Cindy.


"Aku ikut sedih mendengarnya. Jagalah mertuamu hingga dia sembuh. Dia lebih membutuhkan kamu dibanding aku. Jangan khawatirkan keadaan toko. Aku dan Irma bisa menghandlenya," jawab Cindy melalui sambungan telepon.


"Ada apa sayang?" Tanya Devon.


"Ibunya Tommy masuk rumah sakit karena dia mengalami gangguan stroke," jawab Cindy.

__ADS_1


"Kasian sekali. Apa Irene meminta izin untuk tidak masuk kerja?" Cindy mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.


"Mas, izinkan aku membantu Irma di toko. Aku hanya mengawasi karyawanku saja. Aku janji tidak akan capek-capek." Cindy berusaha meyakinkan suaminya.


Devon berpikir sejenak untuk mempertimbangkan permintaan Cindy. "Tapi ingat kamu tidak boleh menyentuh pekerjaan apapun. Kamu hanya mengawasi saja tidak lebih dari itu," Devon mewanti-wanti istrinya.


Cindy tersenyum mendengar sikap posesif suaminya itu. "Siap pak Bos," jawab Cindy dengan gurauan.


Setelah itu Devon berangkat bersama Ruby sedangkan Cindy berangkat bersama Cello diantar oleh supir.


...***...


Masa-masa sulit telah dilalui oleh Ruby. Meski ia masih trauma tapi kini setelah beberapa hari tidak masuk ke sekolah, Ruby kembali menapakkan kakinya di tempat ia menimba ilmu.


"By, apa kabar? Elo kemana aja selama ini?" Tanya salah seorang temannya.


Tidak ada yang tahu tentang kejadian penculikan Ruby. Devon mengatakan kejadian yang sebenarnya kepada kepala sekolah tapi dia memintanya untuk merahasiakan pada siapa pun. Itu dilakukan agar Ruby merasa nyaman kembali di sekolahnya tanpa harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin dia dengar mengenai hal yang membuat dia trauma.


"Masuk yuk!" Ajak Ruby tanpa menjawab pertanyaan temannya.


Hari ini jadwalnya bertemu dengan Tommy sebagai acara meeting rutin yang diadakan setiap Minggu.


"Aku dengar ibumu masuk rumah sakit?" Tanya Devon ketika menyambut kedatangan Tommy.


"Iya, benar," jawab Tommy lesu.


"Bersabarlah!" Devon menepuk bahu Tommy untuk menguatkan.


"Oh ya aku tidak tahu saat Ruby diculik. Maaf aku baru mengetahuinya ketika Irene bilang padaku," kata Tommy dengan penuh penyesalan.


"Tidak masalah. Semuanya sudah berlalu."


"Jadi ini alasan Bayu tidak masuk kerja, kau berikan dia cuti berapa hari?" Tanya Tommy.

__ADS_1


"Entahlah, aku hanya bilang dia perlu beristirahat untuk menyembuhkan lukanya. Tapi aku tidak mengira kalau dia akan lama di rumah."


Sementara itu di rumahnya, Bayu melarang Irma bekerja. "Tapi kalau aku tidak bekerja kasian Cindy. Aku dikabari kalau ibunya Tommy masuk rumah sakit jadi Irene tidak masuk hari ini. Kamu tahu kan Cindy sedang hamil. Seharusnya dia dilarang suaminya bekerja tapi karena dia ingin menemaniku dia rela membantah suaminya." Irma berbicara panjang lebar agar Bayu mengizinkan dia bekerja.


"Tapi aku akan kesepian jika kamu tidak ada di rumah," rengek Bayu seperti anak kecil.


"Kalau begitu masuk kantor saja. Toh kamu akan gabut kalau di rumah saja." Irma melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku sudah telat," Irma mengecup pipi Bayu singkat lalu menyambar kunci mobilnya.


Bayu melotot tak percaya istrinya itu malah meninggalkan dirinya di rumah dan memilih bekerja. "Padahal aku ingin kita segera memiliki momongan jadi aku beralasan pada atasanku agar mengizinkan aku cuti sementara waktu," gumam Bayu sambil mencebik kesal.


Cindy tiba di toko terlebih dulu setelah dirinya mengantarkan Cello ke sekolah. Ia menyambut Irma dengan senyuman. "Seharusnya kamu tidak perlu datang. Aku takut kamu kecapekan," ucap Irma penuh kecemasan.


"Aku ini tidak sakit kenapa kamu sekhawatir itu padaku?" Tanya Cindy diikuti tawa kecil.


Di saat yang sama seseorang yang mereka kenal masuk ke dalam toko itu. "Lisa?" Cindy mengerutkan keningnya ketika melihat wanita yang sempat menggoda suami-suami mereka tiba-tiba datang.


"Apa kamu ingin membuat masalah lagi?" Tanya Cindy ketus.


"Tidak, aku ke sini untuk meminta maaf secara langsung karena aku banyak melakukan kesalahan. Aku sadar aku sudah merugikan kalian," ucap Lisa dengan sungguh-sungguh. Ia berharap Cindy dan Irma mau memaafkannya.


Belajar dari kesalahannya dulu, ia tak pernah memiliki ketenangan selama ini. Ia terus dihantui rasa bersalah karena kesalahan-kesalahannya di masa lalu.


"Apa yang membuat dirimu berani meminta maaf pada kami?" Selidik Irma.


"Aku banyak merenungkan kesalahan yang telah ku perbuat. Setiap hari aku dihantui rasa bersalah pada kalian. Dimusuhi banyak orang dan tidak dipercaya itu sangat menyakitiku. Aku beranikan diri untuk meminta maaf pada kalian dan orang-orang yang pernah aku sakiti karena aku merasa diriku tak berguna," ucap Lisa dengan wajah sendu.


Irma dan Cindy saling pandang. Mereka belum bisa percaya sepenuhnya pada Lisa. Dia bagaikan duri dalam daging yang bisa kapan saja menusuk ke kulit.


"Aku mohon maafkan aku," ucapnya seraya bersimpuh di kaki Cindy.


"Apa yang kau lakukan?" Cindy merasa tidak enak.


...♥️♥️♥️...

__ADS_1


Apakah mereka akan memaafkan Lisa?


__ADS_2