Click Your Heart

Click Your Heart
Part 54


__ADS_3

Kini Siska tahu setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Devon bersama dengan wanita yang waktu itu datang ke kantornya. Siska ingat betul bagaimana caranya membuat Cindy pergi yaitu dengan mencium Devon di depan mata Cindy.


Siska menunggu di luar ruangan itu sampai Devon keluar. Cukup lama ia berdiri di sana tapi ia bersabar untuk mendengar penjelasan dari Devon.


"Jadi dia kembali ke hidupmu lagi?" Suara itu membuat Devon terkejut ketika laki-laki itu baru saja keluar dari ruangan Cindy.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Devon pada mantan kekasihnya itu. Siska tersenyum kecut. "Jadi ini alasan kamu tidak mau menemui aku kemaren?" Geram Siska.


"Bukan urusanmu," jawab Devon dengan ketus.


"Kamu tidak bisa mengabaikanku, aku rela meninggalkan kekasihku demi mendapatkan hatimu kembali Dev," ungkap Siska. "Aku pikir kamu masih mencintaiku seperti dulu," imbuhnya.


"Kamu salah, saat ini di hatiku hanya ada nama Cindy."


"Apa istimewanya wanita itu, Dev?" Tanya Siska pada Devon.


"Dia adalah ibu dari anakku," jawaban Devon membuat Siska terkejut.


"Jangan bilang kamu menghamili dia di luar nikah."


"Ya kamu benar." Ucapan Devon membuat Siska melotot tidak percaya.


"Keterlaluan kamu Dev, sebesar itu kah cintamu padanya sehingga kamu mau berhubungan badan dengan wanita itu? Ataukah dia yang sengaja menggodamu?"


Devon menatap tajam ke arah Siska. Dia tidak terima dengan tuduhan Siska pada Cindy. "Tutup mulut kamu Cindy bukan wanita murahan seperti kamu bayangkan!" Devon berbicara dengan nada yang meninggi.


Siska memilih pergi dari pada harus berdebat dengan mantan kekasihnya di rumah sakit.


Setelah kepergian Siska, Devon kembali ke rumah untuk menemui bayinya yang dititipkan pada kakak iparnya, Celine.


"Dev, cuci tangan dulu sebelum menyentuh anakmu!" Perintah Celine pada adik iparnya itu.


"Ups maaf aku lupa," kata Devon.


Bayi kecil yang kini berada di pangkuan Celine itu tiba-tiba tersenyum ketika mendengar suara ayahnya.


"Eh dedek Ello senyum, mom," kata Julian saat memperhatikan wajah Ello.


"Dia tahu ayahnya akan pulang," kata Celine seraya menyerahkan Ello pada Devon.


"Apakah hari ini dia rewel?" Tanya Devon pada Celine.


"Tidak sama sekali dia anak yang baik, bagaimana dengan keadaan Cindy apa ada kemajuan?" Tanya Celine.

__ADS_1


"Aku lupa memberitahumu, hari ini Cindy sudah siuman, tapi dokter memberikan suntik penenang ketika dia menangis histeris karena tak menemukan anaknya," ungkap Devon.


Celine merasa prihatin dengan keadaan Cindy. "Kapan dia boleh pulang?" Tanya Celine.


"Kemungkinan besok dia sudah boleh pulang," ucap Devon.


"Biarkan Ello tinggal bersama kita Om," rengek Jaden dan Julian. Mereka sudah terlanjur sayang pada bayi kecil itu.


"Suruh mommymu buat lagi," goda Devon. Celine memicingkan matanya mendengar ucapan Devon.


"Dedek Ello kan masih bayi sayang dia harus selalu dekat dengan ibunya, karena dia masih minum ASI," ucap Celine memberi pengertian pada putranya.


"Terima kasih telah membantuku selama ini, aku banyak merepotkanmu," ucap Devon dengan tulus.


"Tidak masalah, aku senang merawat Ello, oh iya sebaiknya kamu mengajak Cindy tinggal bersamamu, kapan kamu akan menikahi dia?" Tanya Celine.


"Ya kau benar, aku hampir saja lupa kalau kami belum menikah, aku akan meminta Bayu mengurus acara pernikahanku."


"Aku pikir tanya dulu pada Cindy bagaimana konsep pernikahan kalian," usul Celine.


"Jaden kamu kentut ya," tuduh Julian pada saudara kembarnya.


"Enak saja," Jaden remaja mengendus bau, ternyata bau itu berasal dari baby Ello.


"Owh baiklah akan ku ganti popoknya," tukas Celine.


"Ajari aku mengganti popoknya," kata Devon. Celine mengangguk. Ia ingin menjadi ayah yang baik untuk Cello.


...***...


Keesokan harinya Devon menjemput Cindy di rumah sakit. Hari ini wanita itu diperbolehkan pulang oleh dokter. Tapi Cindy menolak pulang bersama Devon.


"Aku tidak mau pulang bersamamu. Kembalikan anakku!" pinta Cindy.


"Akan ku pertemukan kamu dengan bayi kita tapi ikutlah dulu denganku ke rumah kakak iparku. Aku menitipkan dia di sana," terang Devon. Dia mencoba membujuk Cindy.


"Baik, aku akan ikut denganmu," putus Cindy.


...***...


Alan dan Irene mendengar kabar jika Cindy berada di rumah sakit dari para pegawai sahabatnya itu. Mereka terkejut setelah mendengar kabar Cindy. Alan dan Irene sudah satu minggu lebih tidak main ke rumah Cindy karena kesibukan mereka masing-masing.


"Lan, kita susul Cindy ke rumah sakit," usul Irene. Alan mengangguk setuju. Mereka pun menuju ke rumah sakit yang dikasih tahu oleh asisten rumah tangga Cindy, menggunakan motor Alan.

__ADS_1


Ketika mereka sampai di rumah sakit, Alan bertanya pada resepsionis rumah sakit itu tapi mereka bilang kalau Cindy pulang bersama seorang laki-laki.


Alan dan Irene saling pandang. "Ren kamu berpikiran sama denganku?" Tanya Alan pada Irene


"Maksudmu dia pulang bersama Tommy?" Alan mengangguk.


"Aku heran kenapa Tommy tidak mengabari kita saat Cindy di rawat di rumah sakit? Sebaiknya kita tanya dia langsung," usul Irene. Alan hanya menurut saja.


Kedua sahabat Cindy itu bergegas ke apartemen Tommy. Mereka menekan bel unit apartemen milik Tommy tapi tidak ada jawaban. Lalu Irene berinisiatif menelepon ke ponsel Tommy.


"Sedang menerima panggilan, kita coba lagi nanti," kata Irene.


"Jadi kita hubungi siapa nih?" Tanya Alan pada Irene.


"Kita coba lagi besok, nanti aku telepon Tommy lagi kalau udah sampai di kos-kosan," kata cewek berkacamata itu. Alan mengangguk setuju. Lalu keduanya meninggalkan unit apartemen Tommy.


...***...


Devon dan Cindy sampai di kediaman Celine. Devon membukakan pintu mobil untuk Cindy. Cindy turun dari mobil dengan perlahan. "Mau aku bantu jalan?" Tanya Devon dengan lembut.


"Tidak, aku bisa berjalan sendiri," tolak Cindy.


"Di mana anakku?" Tanya Cindy.


"Kita masuk dulu!" Devon mencoba bersabar dalam menghadapi Cindy. Ia tahu bagaimana perasaan Cindy yang takut kehilangan anaknya.


"Duduklah dulu aku akan panggilkan kakak iparku," kata Devon.


Lalu Devon pergi untuk memanggil Celine. Cindy melihat Celine menggendong seorang bayi laki-laki. Mata Cindy langsung berkaca-kaca melihatnya.


"Dia anakmu," kata Celine pada Cindy. Celine memberikan Cello pada ibunya.


Cindy menggendong anaknya dengan posesif. Ia menciumi pipi anaknya. "Maafkan ibu nak," ucapnya merasa menyesal karena tidak dapat merawatnya sejak lahir.


"Aku buatkan minum dulu ya, kalian duduklah sebentar sebelum pulang," kata Celine.


"Tidak mbak, aku pamit sekarang," kata Cindy.


"Lho kamu mau pergi kemana? Apa kamu tidak pulang ke rumah Devon?" Tanya Celine. Cindy menggelengkan kepalanya.


"Kami tidak ada hubungan apa-apa," kata Cindy sambil memandang putranya.


Ini saatnya untuk Devon melamar Cindy. Ia meraih salah satu tangan Cindy lalu menggamnya. "Cindy, aku tahu permintaanku ini terlambat untuk kuucapkan, tapi aku ingin menikahimu," kata Devon dengan percaya diri.

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


__ADS_2