Click Your Heart

Click Your Heart
Part 98


__ADS_3

Lisa sedang mencari mangsa karena tidak ada satu laki-laki baik yang mau dengannya. Ketika dia sedang minum sendirian, ia mendengar percakapan seorang laki-laki yang sedang mabuk dengan beberapa wanita yang mengelilingi dirinya.


"Cih, menjijikkan," umpat Lisa ketika melihat Arya.


Ayo minumlah semuanya aku yang traktir," teriak Arya dalam keadaan di bawah pengaruh alkohol.


"Sayang darimana kau mendapatkan banyak uang?" Tanya salah seorang wanita yang sedang berada di pelukannya.


"Aku menjual sahamku dengan harga yang sangat tinggi. Percayalah hartaku tidak habis tujuh turunan," racau Arya.


"Benarkah hartanya sebanyak itu?" Gumam Lisa seraya menggoyang-goyangkan gelasnya yang berisi alkohol bercampur es batu. Wanita itu menarik ujung bibirnya.


Saat keluar dari bar tersebut. Arya terlihat kesulitan berjalan. Lisa dengan cepat menangkap tubuh Arya lalu memapahnya masuk ke dalam taksi.


"Di mana rumahmu tuan?" Tanya Lisa.


Laki-laki itu tak menjawab. Arya terlalu banyak minum sehingga dia mabuk berat. Lalu Lisa merogoh saku celananya. "Di mana dompetnya?"


Usai mendapatkan dompet Arya ia membuka tanda pengenalnya dan membaca alamatnya. "Antar kami ke alamat ini Pak! Perintahnya pada supir taksi.


"Baik, non."


Kurang dari tiga puluh menit mereka sampai di depan rumah Arya. Lisa membayar uang taksi yang diambil dari dompet Arya. Lalu ia membawa laki-laki yang sedang mabuk itu keluar.


"Benarkah ini rumahnya? Tak sesuai ekspektasiku," gumam Lisa.


Di luar dugaan Arya muntah dan mengenai baju Lisa. Lisa mendorong tubuh Arya hingga terkapar di tanah.


"Dasar laki-laki sialan, kau malah mengotori bajuku yang mahal ini," Lisa sungguh jijik dengan bau dan kotoran yang mengenai badannya.


Lisa mencari keran agar ia bisa membersihkan badannya, tapi ia sama sekali tidak menemukannya. "Tak mungkin aku masuk ke dalam. Lagipula laki-laki ini pasti hanya membual. Bodohnya aku percaya pada laki-laki seperti dia," gerutu Lisa.


Beruntung ada taksi yang lewat, ia langsung menghentikan taksi itu tapi meninggalkan Arya begitu saja di depan rumahnya. Tapi sebelum ia masuk, ia mengambil beberapa lembar uang dari dompet Arya lalu membuang dompet itu ke mukanya.


"Ini sebagai ganti rugi karena kau telah mengotori bajuku, bodoh."


Lisa pun masuk ke dalam taksi. "Jalan, Pak."


Setiap orang yang lewat di depan rumah Arya hanya melihatnya. Mereka cenderung mencibir daripada menolong laki-laki itu.

__ADS_1


Keesokan harinya, Arya mengerjapkan mata ketika matanya silau dengan cahaya matahari yang mengenai wajahnya.


Ia terkejut ketika dirinya tidur di halaman rumahnya. "Sial siapa yang meninggalkan aku di sini?" Arya melihat dompetnya terjatuh. Ia memeriksa isinya. "Kosong, sial apa mereka merampokku?" Gerutu Arya dengan kesal.


Setelah itu ia bangun lalu memasuki rumahnya dalam keadaan sempoyongan. Kepalanya masih pusing terlebih semalaman dia tidur di bawah langit.


...***...


Devon dan Cindy telah melewati banyak ujian dalam rumah tangganya. Mulai dari wanita pengganggu yang datang ke kehidupan Devon. Hingga seseorang dari masa lalu mantannya yang membuat Devon hampir bangkrut berhasil mereka lalui dengan baik.


Kini Cello telah berumur enam tahun. Cello sudah masuk ke jenjang SD dan bersekolah di tempat terbaik di kotanya karena kekayaan Devon telah kembali seperti semula.


Bahkan Cello memiliki supir pribadi yang siap menjaga dan mengantar jemput dirinya kemana dia mau.


"Sayang, nanti jangan mampir kemana-mana ya setelah pulang sekolah. Mama tunggu di toko roti seperti biasa." Cindy memberikan pesan pada anaknya.


"Aku ingin main ke rumah kak Jaden dan kak Julian," rengek Cello.


"Ya sudah boleh, nanti mama bilang sama pak Hasan buat nganterin kamu." Cindy memberikan tas Cello. Setelah bersalaman dengan ibunya, Cello masuk ke dalam mobilnya. Ia melambaikan tangan pada sang mama.


"Ingat pesan mama!" Teriak Cindy melihat mobil yang ditumpangi anaknya semakin jauh.


"Mobil kamu kenapa?" Tanya Devon yang berada di depan kendali setir.


"Aku sedang malas membawa mobil," jawab Cindy.


"Oke baiklah." Cindy masuk ke dalam mobil lalu memasang sabuk pengamannya.


"Sudah siap sayang?" Tanya Devon. Cindy mengangguk.


"Sayang bagaimana penjualan toko rotimu?" Tanya Devon.


"Meningkat pesat, kemungkinan aku akan membuka cabang baru," jawab Cindy bersemangat.


"Oh ya, aku ikut senang mendengarnya." Sesekali Devon melihat ke arah istrinya lalu tiba-tiba berhenti karena seorang anak berseragam SMA hampir saja menabraknya.


Cindy terkejut. "Ya ampun anak sekolah zaman sekarang main kebut-kebutan di jalan raya. Berbahaya sekali," gerutu Cindy.


"Sudah tidak apa-apa sayang. Paling anak itu ngebut karena sudah terlambat masuk sekolah. Tapi aku sepertinya mengenal motor yang dikendarai oleh anak itu," gumam Devon sambil melajukan mobilnya pelan.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka sampai di depan toko roti milik Cindy. "Nanti siang perlu aku jemput apa tidak?" Tanya Devon.


"Tidak usah aku nebeng Irma saja. Suaminya sudah memperbolehkan dia pakai mobil sendiri," jawab Cindy.


"Baiklah." Lalu Devon mencium bibir istrinya sekilas. Setelah itu Cindy keluar dan melambaikan tangan ke arah suaminya.


Setelah itu Cindy masuk ke toko rotinya. "Setengah jam lagi kita buka ya," perintah Cindy pada para pegawainya.


"Mam, nanti aku izin setengah hari ya mau pulang kampung soalnya," kata Irene.


"Owh boleh Ren, kamu sudah lama nggak pulang kampung."


"Iya, nanti pulang bareng Alan. Aku nebeng motornya," kata Irene.


"Lho kamu nggak minta Tommy aja yang nganter?" Tanya Cindy. Irene mengangguk lemah.


"Kenapa?" Tanya Cindy lagi.


"Kami sudah putus seminggu yang lalu," Irene terlihat sedih.


"Ada masalah apa?" Tanya Cindy.


"Ibunya masih belum bisa menerima aku. Lagian Tommy juga tidak pernah membelaku di depan ibunya. Dia hanya diam saat ibunya mengomentari diriku." Irene terlihat kesal saat bercerita.


"Ya sudah lupakan kesedihanmu hari ini. Fokus aja sama kerjaan. Semoga kita hari ini mendapatkan banyak pelanggan oke?" Cindy memberikan semangat pada Irene.


"Nih, kopi buat kamu," Irma menyodorkan secangkir kopi panas untuk Irene.


"Tumben baik," sindir Irene tapi tak serius.


"Udah deh jangan mikirin cowok mulu. Cowok akan mendekat kalau kamu udah sukses. Tunjukin ke mereka kalau kamu baik-baik saja setelah putus. Buat dia menyesal udah mutusin kamu."


"Orang yang mutusin itu gue kok," aku Irene. Irma hanya menggelengkan kepala.


Tak lama kemudian laki-laki yang sedang dibicarakan oleh Irene tiba-tiba datang. "Irene," panggil Tommy ketika keluar dari mobil.


Irene bergegas masuk ke dalam toko roti. Namun Tommy menarik tangannya. "Kasih aku waktu untuk bicara." Tommy setengah memohon.


Cindy dan Irma memilih menjauh agar kedua sejoli itu bisa menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


__ADS_2