Click Your Heart

Click Your Heart
Part 56


__ADS_3

Alan dan Irene mencoba mendatangi rumah Cindy yang biasa ia tinggali. Mereka berfirasat Cindy kembali ke rumah itu.


"Eh mbak Irene dan mas Alan, mari silakan masuk non Cindy ada di rumah," kata Sari yang tak lain adalah asisten rumah tangga Cindy.


Alan dan Irene mengembangkan senyumnya. "Alhamdulillah, akhirnya kita ketemu," kata Irene pada Cindy.


"Maaf membuat kalian khawatir," kata Cindy.


"Apakah dia sudah punya nama?" Tanya Alan saat melihat bayi mungil yang sedang tidur di stroller.


"Sudah, namanya Cello, mas Devon yang memberi dia nama," terang Cindy.


"Padahal aku mau nyumbang nama," kata Alan sedikit kecewa.


"Siapa Lan?" Tanya Irene.


"Cassanova, nanti kalian bisa panggil Nova," kata Alan dengan bangga menyebut nama pilihannya.


Cindy dan Irene terkekeh mendengarnya. "Kenapa kalian tertawa?" Tanya Alan polos.


"Kamu tahu tidak apa artinya cassanova?" Tanya Cindy pada Alan. Ia menebak jika laki-laki lemah gemulai itu tidak tahu artinya. Alan menggeleng.


"Artinya cowok yang suka mainin cewek ogeb," jawab Irene mewakili Cindy.


"Ya ampun gue baru tahu, maaf ya," kta Alan dengan penuh penyesalan.


"Oh iya aku akan menikah dengan mas Devon dalam waktu dekat," kata Cindy memberi tahu Alan dan Irene.


"Aku senang mendengarnya, kau memang butuh seorang pendamping, wanita tidak bisa hidup seorang diri, kita mengaku kuat tapi sebenarnya kita rapuh, kau tahu maksudku bukan?" Irene memberikan nasehat pada sahabatnya itu.


"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Tanya Alan.


"Tanggalnya belum diputuskan, aku juga masih bingung siapa yang akan menjadi wali nikahku," gumam Cindy.


Alan dan Irene saling bertukar pandang. "Bagaimana kalau aku meminta tolong ayahku untuk menjadi wali nikahmu?" Usul Irene.


"Apa beliau mau?" Tanya Cindy balik. Irene hanya menggedikkan bahu.


...***...


"Bayu, bagaimana menurutmu jika Cindy menikah tanpa wali apakah pernikahannya akan sah?" Devon meminta pendapat pada Bayu.


"Sepertinya tidak akan sah, Pak."


"Lalu bagaimana ini? Apa kau punya solusi?" Tanya Devon. Bayu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


...***...


Di hari lain Maya meminta Tommy mengantarnya menemui Cindy. Ia ingin berterima kasih pada Cindy karena telah menolongnya.


"Assalamu'alaikum," Maya memberi salam ketika berada di depan rumah Cindy.


Cindy yang kebetulan berada di ruang tamu bersama anaknya membukakan pintu setelah mendengar orang yang akan bertamu.


"Eh, tante." Cindy meraih tangan Maya dan menciumnya. Maya memeluk Cindy sambil meneteskan air mata. Alhamdulillah kamu sudah siuman, tante khawatir padamu," kata Maya ketika merenggangkan pelukannya.


"Masuk dulu tante, Tom." Cindy menyapa Tommy yang berada di belakang ibunya. Tommy tersenyum pada Cindy.


"Siapa nama anakmu ini?" Tanya Maya yang gemas dengan bayi laki-laki itu.


"Cello," jawab Cindy singkat.


"Nama yang bagus, apa kau yang menamainya sendiri?" Tanya Tommy.


Cindy menggeleng. "Mas Devon yang menamainya," jawaban Cindy membuat hati Tomny terasa perih. Meski ia berusaha melupakan Cindy tapi di dalam hatinya yang paling dalam nama Cindy belum terhapus. Bahkan akan membekas di hati Tommy.


"Oh iya Tom, aku akan menikah dengan Mas Devon," Cindy makin membuat hati Tommy hancur berkeping-keping.


Tommy berusaha tenang mendengar kabar itu. "Oh ya? Kapan kalian akan menikah?" Tanya Tommy basa-basi.


"Ya, keputusan yang kau ambil memang sudah tepat," kata Tommy dengan lemah.


"Maafkan aku Tom. Sekian lama kamu mengharapkan diriku tapi aku akan menikah dengan pria lain."


Tommy tersenyum. Ia berusaha menutupi kesedihannya. "Tidak apa-apa. Takdir tidak memihak kita.


"Tidak, kau tidak perlu meminta maaf. Mungkin aku memang berjodoh dengan orang lain."


"Tante akan bantu persiapannya," kata Maya antusias.


"Terima kasih tante, aku ingin pernikahanku dilakukan dengan sederhana saja, aku tidak mau membuat mas Devon malu karena menikahi wanita yang sudah melahirkan, ah satu lagi aku juga belum memiliki wali nikah, mungkin pernikahan kami menunggu sampai ada yang mau menjadi wali nikahku," kata Cindy dengan wajah yang sendu


"Ah bagaimana kalau suami tante yang menjadi wali nikahmu?" Usul Maya.


Tommy dan Cindy terkejut mendengarnya. Tommy tidak bisa membayangkan jika ayahnya menikahkan wanita yang dicintai dengan orang lain.


Cindy juga memiliki perasaan yang sama pada Tommy. Ia tahu Tommy pasti sakit hati. "Eh, nggak usah tante?" Tolak Cindy.


"Kenapa? Kamu pasti merasa nggak enak kan sama Tommy?" Tanya Maya. Cindy mengangguk. "Tante percaya anak tante laki-laki yang memiliki hati yang lapang dan mengakui kekalahan, iya kan Tom?" Maya meminta dukungan pada Tommy.


"Mama percaya kamu akan mendapatkan wanita yang sama baiknya dengan Cindy," imbuhnya.

__ADS_1


Tommy memeluk mamanya. "Terima kasih ma atas doanya," kata Tommy.


"Mama selalu doakan yang terbaik, nak," balas Maya.


...***...


Setelah mendapatkan surat kuasa untuk menjadi wali Cindy, hari ini ayah Tommy menjabat tangan Devon yang akan mengucapkan ijab kabul.


"Saya terima nikahnya Cindy Fatikasari Binti Abimana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"SAH"


"Alhamdulillah," semua orang berucap syukur lalu naib memanjatkan doa untuk keduanya.


Setelah itu kedua mempelai bertukar cincin. Devon mengecup kening Cindy agak lama. "My wife," ucapnya lirih. Cindy tersenyum malu ketika mendengarnya.


Tommy memberi selamat pada Devon. "Selamat, tolong jaga Cindy dengan baik, jika kau berani membuatnya menangis lagi aku tidak akan segan mengambilnya darimu," ancam Tommy.


Devon malah terkekeh mendengarnya. "Kau tenang saja bro, aku tidak akan membuatnya menangis lagi," kata Devon.


"Selamat brother akhirnya kau mengakhiri masa lajangmu," ledek Darren pada adiknya.


"Mana Celine?" Tanya Devon pada Darren.


"Hei kau sudah punya istri untuk apa menanyakan istriku?"


"Dia membawa anakku, kami menitipkannya pada Celine, dasar be*go," umpat Devon karena kesal. Darren terkekeh dia selalu suka mengerjai adiknya itu.


"Dia sedang bersama adik iparku, lihat ke sebelah sana!" Tunjuk Darren.


"Cantik sekali bukan?" Tanya Darren yang mengacu pada istrinya sedangkan Devon melihat ke arah Cindy yang cantik memakai setelah kebaya warna putih lengkap dengan siger di kepalanya.


"Sangat cantik," lirih Devon.


Di tempat lain ketika Tommy sedang mengambil minuman tak sengaja seseorang menabraknya. Kemejanya pun basah terkena tumpahan minuman yang ia pegang. "Maaf," ucap wanita yang ada di depannya itu.


"Haish, lain kali hati-hati kalau jalan..." Tommy tak meneruskan kata-katanya ketika ia kagum melihat kecantikan wanita yang telah menabraknya itu.


Ia memicingkan mata untuk mengenali wanita itu dengan seksama. "Irene?" Tebak Tommy. Irene mengangguk.


Tommy hampir saja tak mengenali Irene karena ia melepas kacamatanya. Lalu ia juga memakai riasan wajah dan kebaya lengan panjang dan rok batik pendek yang membuat tampilan Irene sangat berbeda dari biasanya.


"Cantik," ucap Tommy dengan lirih.

__ADS_1


__ADS_2