
Arya tersadar setelah beberapa jam tertidur. Ia mulai mengerjakan mata. Dia memegang bagian kepalanya yang sedikit pening. Arya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ternyata wanita yang sempat menemani dirinya sudah pergi.
Tapi tunggu, ia menyadari kalau ada sesuatu yang hilang. Ya, Arya mencari ke seluruh sudut kamar itu tapi ia tak menemukan ponselnya. Lalu apa ini, dompetnya tergeletak begitu saja dengan isinya yang kosong.
"Assial dia merampokku," umpat Arya kesal sambil memukul ranjang.
"Awas saja kau jika bertemu, aku akan memberikan dirimu pelajaran." Arya mengepalkan tangannya karena geram pada wanita yang semalam ia temui.
Setelah itu dia merapikan diri dan keluar dari kamar tersebut. Arya harus kembali mengecek kondisi sandranya. Biasanya dia hanya perlu menelepon tapi karena handphone miliknya hilang jadi dia tidak bisa menghubungi anak buahnya.
Arya mengendarai mobilnya menuju sebuah rumah yang dijadikan tempat untuk menyembunyikan Ruby.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Arya pada salah seorang anak buah yang ia percaya untuk menjaga Ruby.
"Dia masih ada di dalam bos," jawabnya.
Arya berjalan menuju ke ruangan tersebut. "Apa dia tidak mati?" Tanya Arya yang melihat Ruby tergeletak begitu saja. Gadis itu meringkuk dalam keadaan tangan dan kakinya yang terikat. Tak hanya itu mulutnya juga masih tertutup kain.
"Sepertinya dia sedang tertidur bos," jawab laki-laki itu.
Untuk memastikan Arya menendang kaki Ruby dengan pelan. Tapi Ruby tak merespon. Karena curiga Arya mengecek keadaan Ruby dengan membalik tubuhnya. Wajah Ruby terlihat memerah lalu ia menempelkan tangannya ke kening Ruby. "Dia sakit, belikan obat di apotek. Kita tidak boleh membiarkan dia mati." Perintah Arya pada anak buahnya. Setelah itu Arya keluar.
"Apa kau sudah menghubungi mereka?" Tanya Arya pada salah seorang anak buahnya.
"Sudah, Bos. Saya sudah kasih tahu di mana kita akan bertemu hari ini."
"Bagus, pastikan semua aset diserahkan oleh Devon!" Anak buahnya mengangguk paham.
...***...
"Apa kamu sudah dengar berita tentang penculikan anak angkat Cindy?" Tanya Irma pada Irene.
"Apa? Aku tidak dengar. Mas Tommy tidak cerita padaku," jawab Irene yang terkejut. Ia merasa kasian pada sahabatnya itu banyak cobaan yang dilalui di hidupnya. Irene jadi sedikit berpikir untuk bisa sekuat Cindy.
Kalau diingat kelakuan mertuanya yang menyebalkan tak seberapa dibandingkan dengan kesakitan yang dialami Cindy. "Ah, aku harus tegar mulai sekarang. Aku harus bisa menaklukkan wanita tua itu," gumam Irene dalam hati.
Tepukan di pundaknya membuyarkan lamunan Irene. "Diajak ngobrol kok malah melamun?" Tanya Irma seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah maaf aku malah tidak fokus begini, tadi kamu ngomongin apa?" Tanya Irene pada Irma.
__ADS_1
"CK, dasar."
...***...
Cindy terus menanyakan kabar Ruby pada suaminya. "Mas, bagaimana perkembangannya?" Tanya Cindy pada sang suami. Ia sungguh khawatir pada anak angkatnya itu.
"Kita menunggu informasi dari Bayu dulu sayang. Aku akan pergi ke kantor untuk meeting kamu jangan banyak pikiran. Ingat kamu sedang hamil sayang," pesannya pada sang istri. Ia mencium bibir Cindy sekilas lalu pergi.
Devon menemui Bayu ketika sampai di kantor. "Bagaimana Bay? Ini sudah terlalu lama kita harus segera menyelamatkan Ruby. Aku takut terjadi sesuatu padanya." Desak Devon.
"Saya punya ide, Pak."
"Apa? Sampaikan saja idemu itu." Devon benar-benar tidak sabaran.
"Saya sudah mengantongi alamat orang yang dihubungi oleh Arya dari hasil penyelidikan Julian. Kita akan bergerak lebih dulu."
"Lakukan! Aku mau terima beres," kata Devon dengan penuh penegasan.
Lalu Bayu tidak menunda waktu untuk menyergap para kawanan penculik Ruby. Ia menuju ke lokasi persembunyian mereka. Bayu dan beberapa anak buah yang diajak diam-diam mengepung tempat itu.
"Kalian hati-hati, jangan sampai ada yang terluka," kata Bayu setengah berbisik pada anak buahnya.
Bayu menoleh tapi ia tetap bersikap tenang. Orang itu mempercepat langkahnya dan menyerang Bayu. Bayu menangkis tangannya lalu ia mendorong orang itu hingga terjerembab.
"Hanya segitu kemampuanmu?" Bayu meremehkan lawannya.
"Kurang ajar," umpat laki-laki itu. Ia kembali menyerang Bayu.
Mendengar keributan yang terjadi di luar, teman-teman penculik itu kemudian menghampiri sumber suara. Mereka maju untuk menyerang Bayu.
Anak buah Bayu juga mendekat dan membalas serangan mereka. Di saat yang sama Bayu mundur dan memilih menyelamatkan Ruby seorang diri.
Bug
Bug
Bug
Terdengar suara perkelahian dari ruangan yang ia duga menjadi tempat penculik itu menyembunyikan Ruby. Lalu ia melihat secara langsung ternyata Jaden ada di sana untuk menyelamatkan Ruby. Namun, ia harus rela kena pukul saat melawan penjahat yang tak sebanding dengan tenaganya.
__ADS_1
Ketika orang itu akan melayangkan pukulan ke arah Jaden, Bayu menangkisnya. "Lawanmu bukan dia tapi aku," tantang Bayu.
"Om," panggil Jaden.
"Pergilah selamatkan Ruby, biar di sini aku yang kendalikan situasi di sini," perintah Bayu pada Jaden. Jaden pun menurut. Dengan sigap ia melepas ikatan tangan Ruby tapi ia sedikit kesulitan karena ikatannya terlalu kuat. Tak banyak pikir Jaden pun menggendong Ruby yang tak sadarkan diri ala bridal style tanpa melepas ikatannya.
Julian tengah menunggu di mobil. Ia mengamati keadaan makin kacau. Julian harap-harap cemas menantikan kedatangan Jaden. Saat ia melihat Jaden menggendong Ruby, Julian keluar dari mobil dan bersiap membukakan pintu untuk saudara kembarnya.
"Apa dia pingsan?" Tanya Julian.
Jaden mengangguk. "Ya, kita langsung bawa dia ke rumah sakit. Serahkan kuncinya biar aku yang mengemudi." Julian pun melempar kunci ke arah Jaden yang dengan tepat ditangkap oleh adik kembarnya itu.
Sementara itu dari arah yang berlawanan Arya datang dan melihat kekacauan di lokasi itu. "Sial, ini di luar dugaan," umpatnya seraya turun dari mobil dengan membawa pemukul basball.
Bug
Bug
Bug
Tongkat itu ia arahkan ke Bayu saat Bayu tak menyadari kedatangannya. Bayu jadi tersungkur dan merasakan sakit di bagian punggungnya.
Semua orang berhenti berkelahi saat melihat kedatangan Arya yang merupakan bos besar sekaligus dalang dibalik penculikan Ruby.
"Kau berani menghancurkan rencanaku?" Arya menginjak kaki Bayu. Bayu mengerang kesakitan. Ketika anak buah Bayu hendak maju, Arya menodongkan tongkat baseball nya ke arah mereka.
"Maju selangkah kalian akan mendapati bos kalian ini mati kupukul," ancamnya.
Bayu tersenyum sinis. "Bunuh saja aku!" Kata Bayu pada laki-laki yang masih menginjak kakinya itu.
"Hahaha," Arya tertawa nyaring. "Kau memang tidak ada gunanya. Bodoh kau diperalat oleh Devon sedangkan dia hanya duduk manis di kursinya," ucap Arya yang sesuka hatinya mencibir sikap Devon.
Dor
Dor
Dor
...♥️♥️♥️...
__ADS_1
Wah siapa yang nembak nih? Seru nggak? Kalau kurang seru tambahin dong di kolom komentar kira-kira adegan actionnya seperti apa. Jangan lupa klik favorit ya.