Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 175


__ADS_3

"Murni, Murni," teriak seorang laki-laki malam-malam.


Murni yang tak lain adalah ibunya Anwar keluar dari dalam kamarnya. Begitupun Anwar yang sedang bermain game ikut beranjak dari atas kasur ketika mendengar teriakan laki-laki yang ia kenali.


"Ada apa kamu teriak malam-malam begini? Malu sama tetangga," ucap Murni penuh penekanan.


"Bagi duit." Laki-laki berpenampilan acak itu menengadahkan tangannya.


"Duit apa? Kamu minta duit terus sama aku. Apa kamu tidak sadar siapa yang seharusnya memberikan nafkah?" Bantah Murni.


"Arrgg." Tangan laki-laki itu mengayun ke pipi Murni. Murni jatuh tersungkur.


"Jangan pukul ibuku!" Teriak Anwar sambil membantu ibunya bangun.


"Anak kecil tidak usah ikut campur," racaunya. Laki-laki itu setengah mabuk. Bisa dilihat caranya berdiri yang sedikit sempoyongan.


"Keluar dari rumahku!" Murni mendorong tubuh mantan suaminya. Tapi tangannya malah dicengkeram.


"Beri aku uang dulu!" Bentaknya hingga membuat Murni terkejut.


"Laki-laki tidak tahu malu, kamu pikir siapa kamu?" Tantang Murni.


"Aku masih suamimu?" jawabnya sambil berteriak.


"Suami macam apa yang sudah menelantarkan anak dan istrinya. Lagipula aku sudah mengurus surat gugatan cerai." Murni tak mau kalah.


Laki-laki itu menangkup dagu Murni. "Jangan banyak bicara dan membantah. Beri aku uang lima juta dalam dua hari atau aku akan mencelakai anakmu," ancamnya lalu menarik tangan Anwar dan membawanya pergi.


"Anwar, Anwar." Teriak Murni tapi mantan suaminya membawa anaknya semakin jauh.


Murni pun hanya bisa pasrah dan berdoa agar mantan suaminya tak menyakiti Anwar.


Keesokan harinya Cello tidak melihat Anwar ada di dalam kelas. "Kalian tahu nggak kenapa Anwar tidak masuk hari ini?" Tanya Cello pada teman sekelasnya. Mereka saling melempar pandang satu sama lain lalu menggedikkan bahu.


Cello jadi khawatir karena Anwar tidak izin pada guru hari ini. "Tidak biasanya dia membolos."


Lalu Cello putuskan mampir ke rumah Anwar sepulang sekolah. Dia menaruh sepedanya di halaman rumah Anwar.


"Assalamualaikum," tidak ada jawaban lalu Cello mengeraskan suaranya. "Assalamualaikum," teriaknya sambil mengetuk pintu.


"Kamu? ngapain ke sini?" Tanya Murni.


"Saya mencari Anwar. Hari ini dia tidak masuk ke sekolah Bu tanpa izin jadi saya khawatir. Apa dia sakit?" Tanya Cello.


Murni tiba-tiba menangis sehingga membuat Cello bingung. "Kenapa Bu? Apa terjadi sesuatu dengan Anwar?" Tanya Cello.

__ADS_1


"Dia dibawa ayahnya pergi," jawab wanita yang kini duduk di kursi teras rumahnya.


"Kemana Bu? Apa ibu tahu alamatnya? Biar saya cari."


"Jangan nak, berbahaya. Ibu tidak tahu kemana dia membawanya. Dia mengancam tidak akan mengambilkan Anwar jika dalam dua hari ibu tidak memberikan uang kepadanya."


"Berapa uang yang ibu butuhkan?" Wanita itu menatap ke dalam mata Cello.


"Ibu akan cari pinjaman dari saudara jauh ibu."


"Saya mau bantu Bu. Katakan berapa yang dibutuhkan Bu agar Anwar dibebaskan ayahnya?" Desak Cello.


"Lima juta," jawabnya ragu-ragu.


"Baik, ibu tunggu di sini." Cello meninggalkan wanita itu lalu mengendarai sepedanya. Dia mencari mesin ATM yang ada di sekitar daerah itu. Ketika dia menemukannya, Cello berbelok. Lalu ia mengambil kartu ATM miliknya yang ada di tas.


Dia menarik uang lima juta sekaligus dari mesin ATM. Lalu dia memasukkan uang itu ke dalam tasnya. Beruntung tak ada orang yang mengantri sehingga dia aman dari pencurian.


Cello mengayuh sepedanya ke rumah Anwar. Lalu ia mengetuk kembali pintu rumah temannya itu ketika sampai di depan rumahnya.


Murni membukakan pintu. "Ada apa lagi?" Tanya Murni.


"Boleh saya masuk?" Cello meminta izin.


Murni mempersilakan masuk. Lalu Cello mengeluarkan uang sejumlah lima juta dari dalam tasnya. Uang itu berupa lembaran yang tidak diikat karena diambil langsung dari mesin ATM.


"Ini uang lima juta untuk menebus Anwar. Tolong gunakan dengan baik."


"Tapi bagaimana saya mengembalikannya? Penghasilan saya sebagai buruh cuci tidak seberapa nak."


"Tidak usah dikembalikan Bu. Yang penting Anwar bisa kembali ke sekolah."


Murni merasa terharu dengan kebaikan Cello. Setelah itu, Cello kembali ke rumah.


Keesokan harinya, mantan suami Murni datang kembali ke rumahnya. "Mana uang yang aku minta?" Dia menengadahkan tangannya.


Murni mengambil uang yang diberikan oleh Cello padanya kemaren. Dia setengah tak rela memberi mantan suaminya uang sebanyak itu hanya untuk berfoya-foya dan menghidupi diri karena mantan suaminya tidak bekerja. Sehari-hari hidupnya selalu berada di meja judi dan berakhir dengan mabuk-mabukan.


Mantan suaminya itu menghitung uang yang diberikan Murni. Wajahnya terlihat sumringah ketika memperoleh uang yang diinginkan.


"Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?" Tanya mantan suami Murni.


"Kamu pikir aku tidak bekerja selama ini?" Jawab Murni dengan ketus.


"Rupanya ku menyimpan banyak uang."

__ADS_1


"Jangan banyak bicara. Sekarang serahkan Anwar. Di mana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Murni dengan mata yang memerah.


"Dia ada di rumahku, nanti akan kusuruh dia pulang. Tapi ingat kamu harus memberikan uang setiap aku menginginkannya. Kalau tidak, kau akan lihat anakmu menderita," ancamnya.


*


*


*


Di hari lain, Devon yang mengetahui kalau anaknya pernah menarik uang sebanyak lima juta beberapa hari yang lalu. Ia membaca rincian pengeluaran kartu ATM yang dipegang oleh Cello.


"Untuk apa dia menggunakan uang sebanyak ini tanpa meminta izin terlebih dulu?"


Devon pun ingin mengintrogasi putranya ketika sampai di rumah. "Ma, bisa panggilkan Cello," perintah Devon pada istrinya.


"Ada apa pa?" Tanya Cindy curiga.


"Tolong panggilkan saja dulu. Papa ingin bicara sama dia."


Cindy pun menuruti perintah suaminya. "Cello dipanggil papa."


Cello beranjak dari kursinya. Dia berjalan mengikuti ibunya keluar kamar.


"Ada apa pa?" Tanya Cello


"Apa benar kamu menarik uang lima juta?" Tanya Devon pada anak lelakinya.


Cello tertunduk. "Cello kamu dengar pertanyaan papa?" Kini giliran Cindy bertanya pada anaknya.


"Iya," jawabnya singkat.


"Untuk apa uang sebanyak itu? Apa untuk membayar uang sekolahmu?" Tanya Devon.


"Bukan." Cello terlalu takut untuk jujur pada kedua orang tuanya.


"Tidak apa? Kamu tidak akan memarahi kamu asalkan beri kami penjelasan yang masuk akal."


"Sebenernya aku memberikan uang itu pada orang tua temanku," akunya.


"Memberikan secara cuma-cuma?" Tanya Cindy yang tidak jelas dengan penuturan Cello.


Cello mengangguk. Devon menghembuskan nafasnya berat. "Untuk apa?"


"Untuk menebus temanku Pa. Dia dibawa ayahnya dengan paksa. Ibunya diancam jika tidak memberinya uang maka dia tidak akan melepaskan temanku."

__ADS_1


"Apa kamu yakin dengan itu? Kamu yakin mereka tidak memanfaatkan kamu bukan?" Tanya Cindy memastikan.


Cello tidak bisa menjawab tapi hati kecilnya tidak bisa membiarkan temannya dalam kesusahan.


__ADS_2