
Merasa tak dihiraukan oleh Devon, Lisa kembali mendatangi laki-laki itu. Kini ia nekat datang ke rumah Devon.
Cindy membukakan pintu rumahnya ketika mendengar suara bel dari depan. Ia terkejut ketika melihat wanita yang ia duga sebagai pelakor itu datang malam-malam ke rumahnya.
Awalnya Cindy pura-pura tidak tahu menahu soal perselingkuhannya dengan sang suami. "Nona Lisa ada apa malam-malam datang kemari? Apa anda mencari Pak Bayu?" Tanya Cindy basa-basi.
Lisa memasang wajah sendu. "Bukan, saya ingin bertemu dengan suami anda," ungkapnya dengan jujur.
"Nekad sekali wanita ja*lang ini," batin Cindy sambil menatap Lisa dengan tatapan muak.
"Ada urusan apa sehingga anda ingin menemui suami saya?" Tanya Cindy sambil menahan emosi.
"Bolehkah saya masuk?" Lisa menerobos masuk ke dalam rumah Cindy.
"Tidak sopan," gerutu Cindy.
"Mas Devon," teriak Lisa.
Cindy menjadi geram karena Lisa berteriak di rumahnya. "Nona tidak bisakah anda bersikap sopan di rumah orang lain?" Sindir Cindy tapi Lisa tampaknya tak menghiraukan omongan wanita itu.
"Mas," Lisa masih saja memanggil.
"Lisa," bentak Cindy yang makin kesal karena keberadaannya tak dianggap oleh Lisa. Padahal Cindy adalah pemilik rumah itu.
"Maaf nyonya Cindy, saya mencari mas Devon."
"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Devon yang baru saja keluar kamar.
Lisa berlari ke arah Devon. Tiba-tiba ia bergelayut manja di lengan laki-laki yang berstatus sebagai suami Cindy itu.
Cindy geram melihat Lisa makin kurang ajar di depannya. "Lepaskan tanganmu dari suamiku!" Sentak Cindy.
Devon menyadari kalau istrinya itu terlihat murka. Ia berusaha melepaskan tangan Lisa tapi wanita yang mengenakan pakaian seksi itu makin mengeratkan pelukannya.
"Sialan wanita ini dia membuatku terpojok, Cindy bisa ngamuk," gerutu Devon dalam hatinya.
__ADS_1
Lisa tersenyum senang karena berhasil membuat Cindy kesal. "Aku akan membuatmu membenci suamimu sehingga suamimu yang tampan ini bisa jatuh ke tanganku," gumam Lisa dalam hati.
"Sial, dia semakin membuatku kesal." Cindy ingin sekali berteriak lalu menjambak rambut Lisa tapi urung ia lakukan.
"Dasar pelakor," umpat Cindy yang muak melihat wajah Lisa.
"Jaga ucapanmu! Aku tidak berniat menjadi pelakor seperti yang kau pikirkan, kalau saja suamimu tidak meniduriku malam itu dan membuatku hamil seperti sekarang ini aku tidak akan meminta pertanggung jawabannya," Lisa membela diri.
Devon memijit pangkal hidungnya. Ia merasa pusing melihat dua orang wanita yang sedang memperebutkan dirinya. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Mata Cindy mengembun ketika mendnegar penuturan Lisa. Ia tak menyangka Devon benar-benar meniduri wanita lain. "Mas, apa benar yang dikatakan oleh wanita itu?" Tanya Cindy dengan nada bergetar.
Devon memejamkan mata sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Cindy menarik napasnya panjang. "Bagaimana awalnya kalian bisa dekat? Jelaskan padaku!" Sentak Cindy hingga membuat Devon tersentak kaget.
"Sayang percayalah padaku aku tidak tahu bagaimana kejadiannya, pagi hari ketika aku terbangun aku sudah berada di kamar hotel bersamanya," ungkap Devon.
"Atau mungkin dia sengaja menjebakmu?" Cindy memberikan tatapan tajam pada Lisa.
Lisa sama sekali tidak gentar. "Mana mungkin kau ingat, kau dalam keadaan mabuk Mas," bohong Lisa untuk menguatkan alibinya.
Cindy mencoba mendengarkan penjelasan suaminya. "Kalau wanita ini benar salah sasaran seperti yang dikatakan oleh Irene, aku harus bisa membuktikannya," gumam Cindy dalam hati.
"Kau dengar sendiri kan kata suamiku? Aku hanya percaya pada omongan suamiku dibanding pelakor sepertimu," ejek Cindy.
Lisa tersenyum kecut. "Percuma saja meyakinkanmu, yang jelas aku ke sini untuk meminta pertanggungjawaban dari suamimu yang telah menghamiliku."
"Aku tidak percaya itu anak suamiku," Cindy masih beradu argumen dengan Lisa.
"Cukup, anda pulanglah ini sudah malam, kami juga ingin beristirahat," usir Devon.
"Tapi mas...." Devon menyela ketika Lisa belum menyelesaikan omongannya.
"Aku harap anda cukup tahu diri di sini, ini rumah kami jadi jangan harap kamu berulah di sini," imbuh laki-laki itu dengan mimik wajah yang tegas.
Lisa menuruti perintah Devon tanpa perlawanan. Devon mengantarkan Lisa sampai ke depan pintu. Cindy yang muak tak sekalipun melihat tampang Lisa.
__ADS_1
"Tolong jangan abaikan aku! Aku sekarang sedang mengandung anakmu," kata Lisa sebelum berpamitan.
Devon merasa dejavu karena dulu Cindy juga hamil di luar nikah karena dirinya. Dan malangnya nasib Cindy harus melewati masa kehamilannya tanpa suami. Devon menjadi iba pada Lisa. Jika benar itu anaknya ia tak boleh menelantarkan Lisa.
"Pulanglah, kita bicara besok," kata Devon pada Lisa. Lisa mengembangkan senyumnya. Ia seperti mendapatkan harapan dari Devon.
Setelah itu Devon menyusul Cindy yang masuk ke dalam kamarnya. "Sayang bukain pintu," teriak Devon dari luar ketika mendapati pintu kamarnya terkunci.
"Nggak, kamu tidur di luar sana, aku jijik sama laki-laki yang sudah tidur bersama wanita lain," jawab Cindy dari dalam kamar.
Devon meluruhkan bahunya. Ia tak bisa melawan Cindy. Untuk kedua kalinya ia tidur di luar. Devon membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang televisi.
Ia sedikit kedinginan karena Devon tidur tanpa memakai selimut. Cindy melihat ke luar kamar ketika mendapati tak ada suara lagi dari suaminya.
Wanita itu melihat suaminya tertidur meringkuk di sofa. Cindy yang tak tega melihat suaminya merasa kedinginan akhirnya mengambilkan selimut untuknya. Ia menyelimuti tubuh Devon.
Ketika Cindy hendak beranjak, tangannya ditarik oleh sang suami. Cindy menoleh. "Lepaskan!" Perintah Cindy yang berucap dengan lirih tapi dikatakannya dengan tegas.
Devon tak melepas tangan snag istri, ia justru menarik Cindy hingga ia terjatuh ke atas dada bidangnya. "Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu sayang," goda Devon.
"Simpan gombalanmu itu, aku tidak mau mendengar bualan dari mulutmu," kata Cindy sambil memalingkan mukanya.
"Kau terlihat cantik ketika sedang marah," kata Devon seraya mengelus rambut panjang Cindy.
"Oh ya cantikan mana aku atau Lisa?" Tanya Cindy kemudian.
"Tentu saja cantikan kamu," jawab Devon.
"Kalau cantikan aku kenapa harus bermalam bersamanya di hotel? Aku servisku kurang memuaskan?" Tanya Cindy kesal.
Devon tersenyum licik. "Aku tidak bisa berkomentar jika aku tak mencobanya terlebih dulu," jawab Devon.
Cindy beranjak dari tubuh Devon. "Itu sebabnya kau mencoba tubuh wanita ****** itu?" Kesal Cindy sampai ia melempar bantal sofa ke wajah suaminya.
"Salah lagi," gerutu Devon.
__ADS_1
Cindy melangkah pergi lalu masuk ke dalam kamar. Devon mendengar istrinya itu membanting pintu kamar karena kesal.