Click Your Heart

Click Your Heart
Part 53


__ADS_3

Di lain hari Tommy mengantar sang ibu untuk menjenguk Cindy. "Semoga dia segera sadar dari koma," kata Maya yang melihat Cindy terbaring dengan banyak selang infus di tubuhnya.


"Kita berdoa sama-sama ya Ma," kata Tommy.


"Oh iya aku belum melihat anaknya, Tom. Antarkan aku menengok bayi Cindy!" pinta Maya pada putranya itu.


Tommy mengantar sang ibu ke ruang perawatan bayi. Ternyata sudah ada Bayu yang berdiri di sana sedang berdiskusi dengan dokter. Tommy penasaran karena tak dapat mengetahui apa yang mereka bicarakan.


Ketika Tommy sampai tepat di samping Bayu barulah ia bertanya. "Ada apa pak Bayu anda datang kemari? Sepertinya ada hal serius yang anda bicarakan dengan dokter," tebak Tommy.


"Saya membawa surat kuasa untuk mengambil anak nona Cindy," terang Bayu.


Maya dan Tommy terkejut mendengarnya. Terutama Maya ia menyangka Bayu adalah laki-laki yang menghamili Cindy. "Apa dia ayah bayi itu?" Tanya Maya sambil berbisik di telinga anaknya.


"Bukan, Ma. Dia asisten pribadinya," jawab Tommy.


Tommy tidak bisa mencegah Bayu karena Devon memang berhak atas anak itu. Apabila membiarkannya di rumah sakit sampai Cindy sadar pun tak mungkin, bayi itu butuh kasih sayang dari keluarganya. Banyak hal-hal yang dipikirkan oleh Tommy.


...***...


Devon berhasil membawa pulang putranya nerkat bantuan Bayu. Sementara waktu, ia menitipkan anaknya pada Celine yang tak lain adalah kakak iparnya sampai Cindy sadar.


"Percayalah padaku, aku akan menjaga anakmu dengan baik," kata Celine sambil menggendong bayi mungil yang belum diberi nama itu.


"Siapa nama adikku ini om?" Tanya Julian.


"Aku menamainya Cello Genandra Felix," kata Devon.


"Nama yang bagus om, aku panggil dia dedek Ello ya," kata Jaden.


"Setuju, panggilan yang bagus untuk bayi kecilku ini," Devon mengelus pipi putranya.


"Aku pamit ya," ucapnya pada Celine.


"Tunggu," teriak Darren. Devon menghentikan langkahnya.


"Kita berangkat bersama Bagas belum menjemputku," putus Darren.


"Ck, merepotkan saja," tutur Devon. Lalu Darren merangkul leher adiknya. Setelah itu keduanya memasuki mobil Devon.

__ADS_1


"Kamu belum bercerita padaku, kapan kamu mengetahui keberadaan Cindy?" Tanya Darren yang penasaran.


"Waktu itu aku membuntuti Tommy," kata Devon.


"Pantas, lalu apa kau sudah pernah bertemu dengan Cindy?" Tanya Darren.


"Sudah, tapi Cindy menolakku," ucap sang adik.


Darren mengerti apa yang dirasakan oleh adiknya itu karena ia juga sempat mengalami penolakan dari Celine, istrinya dulu.*


*Kisah Darren dan Cellin bisa dibaca di novelku yang berjudul Mr. Playboy ya 🙏


Sesampainya di depan hotel Danz Smith yang sekarang menjadi milik Darren, Devon menepikan mobilnya.


"Thank you bro udah nganterin gue," kata Darren sebelum ia turun. Devon menaikkan kedua alisnya untuk menjawab ucapan sang kakak.


Sebelum melajukan mobil, Devon mengambil ponselnya untuk menghubungi sang asisten. "Bayu, tolong handle kantor sebentar, aku akan menjenguk Cindy di rumah sakit," titah Devon pada Bayu melalui sambungan telepon.


"Baik, Pak," jawab Bayu.


Devon menyalakan mobil lalu menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ia masuk ke ruang ICU atas seizin perawat yang berjaga. Ia duduk di samping Cindy. "Sayang, apa kabar? Aku datang menjengukmu, ku mohon sadarlah, anak kita sedang menunggumu," ucap Devon sambil meneteskan air mata.


Untuk pertama kalinya dia menangis di depan Cindy yang sedang terbaring lemah. Sesekali Devon mengecup tangan Cindy yang sedang ia genggam. Cindy seolah mendengar ucapan Devon. Nampak air mata keluar dari pelupuk matanya.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya, denyut jantung dan tekanan darahnya sudah mulai normal, kami harap dia segera sadar," kata dokter tersebut pada Devon.


Ia sedikit merasa lega. Setelah itu ia pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. "Apa ada masalah?" Tanya Devon pada Bayu ketika ia sampai.


"Nyonya Siska ingin bertemu dengan anda, Pak," kata Bayu.


Devon mengerutkan dahinya. "Untuk apa dia meminta aku bertemu dengannya?"


"Maaf Pak saya kurang paham," jawab Bayu.


"Bilang saja tidak bisa aku sedang sibuk mengurusi Cindy dan anakku," balas Devon.


"Baik pak akan saya sampaikan pada Nyonya Siska," Bayu pun undur diri untuk memenuhi perintah atasannya.


...***...

__ADS_1


"Kenapa dia menolak bertemu denganku?" Tanya Siska pada Bayu.


"Pak Devon sedang sibuk dengan calon istrinya yang sudah terbaring di rumah sakit," jawab Bayu dengan jujur.


"Calon istri yang mana?" tanya Siska yang merasa bingung, seingatnya Devon tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun.


"Maaf saya tidak bisa memberitahu ini di luar pekerjaan," tolak Bayu memberitahukan identitas Cindy.


"Baiklah akan aku cari tahu sendiri," gumam Siska yag merasa cemburu.


Siska menyewa orang untuk membuntuti Devon. Wanita itu ingin tahu apa saja yang dilakukan oleh laki-laki yang pernah menjadi kekasih yang dulu.


Keesokan harinya orang suruhan Siska mengirimkan beberapa foto melalui ponsel. Devon tampak masuk ke rumah sakit pada foto yang anak buahnya kirimkan. Orang suruhan Siska juga berhasil yang memasuki ICU.


"Sepertinya aku pernah melihat wanita itu," gumam Siska sambil mengingat-ingat. Tak berpikir panjang menghampiri Cindy di rumah sakit.


...***...


Sementara itu di rumah sakit, Cindy mulai siuman. Wanita itu melihat ke sekelilingnya. Kala ia menyadari dirinya terbaring di rumah sakit, Cindy maraba perutnya. "Di mana anakku?" Gumam Cindy dengan suaranya yang terdengar serak.


Lalu ia mencopot infus yang ada di tangannya. Dia juga melepas alat bantu pernapasan yang terpasang di hidungnya. Cindy mulai menurunkan kaki. Dia berniat berjalan keluar untuk mencari anaknya.


Sayangnya tenaga sendi belum pulih. Hari ini Devon datang menjenguk Cindy seperti biasanya. Dia terkejut ketika melihat sudah berada di lantai.


"Sayang apa yang kamu lakukan?" Devon berjongkok kemudian mengangkat tubuh Cindy lalu memberikannya di atas tempat tidur.


"Aku ingin mencari anakku, katakan di mana anakku sekarang!" tanya Cindy sambil meneteskan air mata.


"Tenanglah, anak kita ada di rumah kakakku, aku menitipkannya di sana, dia aman bersama kakak iparku," ungkap Devon.


"Tidak, kembalikan anakku aku ingin menyusuinya, tolong kembalikan jangan ambil anakku."


Melihat Cindy yang menangis hhisteris, Devon meminta suster segera datang. Setelah itu, dokter da seorag perawat masuk. Ia memberikan suntikan penenang pada Cindy. Cindy menjadi tertidur.


"Kami akan memindahkan nona Cindy ke ruang perawatan pasien jika memungkinkan besok anda boleh membawanya pulang," kata dokter yang berjaga.


"Baik, Dok. Terima kasih atas bantuannya," kata Devon pada dokter tersebut.


Devon kembali mendekat ke arah Cindy dan menggenggam tangannya. "Maafkan aku, aku tahu kamu kecewa padaku sampai membuatmu ketakutan seperti ini," kata Devon.

__ADS_1


Perasaannya bercampur aduk antara rasa bahagia, sedih, kecewa dan penyesalan. Bahagia karena akhirnya Cindy siuman setelah dinyatakan koma selama hampir seminggu. Sedih dan kecewa melihat Cindy yang kembali menolak kehadirannya. Namun, ia menyesal dulu telah mengabaikannya.


Sementara itu di luar ruangan itu Siska mengamati dari luar.


__ADS_2