
Bayu pulang ke apartemennya. "Ada apa mas? Kamu tidak seperti biasanya pulang selarut ini?" Tanya Irma.
"Anak Nyonya Cindy kecelakaan." Perkataan Bayu membuat istrinya terkejut.
"Apa? Bagaimana ceritanya?" Tanya Irma.
Bayu menghela nafas. "Entahlah, tidak ada yang bersuara sebab semua orang sedang bersedih melihat keadaan bocah malang itu." Bayu merasa kasihan saat melihat keadaan Cello yang terbaring lemah di rumah sakit.
"Apakah dia baik-baik saja?"
"Tangannya patah." Irma menutup mulutnya tak percaya. Ia bisa membayangkan perasaan Cindy. Irma sampai memegang perutnya sendiri.
"Kamu kenapa?" Tanya Bayu ketika ia melihat sang istri memegang perutnya.
"Aku hanya merasa iba pada Cindy. Pasti dia sangat bersedih melihat anaknya terbaring tak berdaya," kata Irma. Bayu kemudian memeluk Irma.
"Kita hanya bisa mendoakan kesembuhan anaknya."
Irma bisa merasakan kehangatan seorang suami pada diri Bayu. Dia menyesal kenapa tidak dari dulu menikah kalau bisa merasakan perlindungan senyaman ini.
Namun, masa lalu telah terlewati. Apa yang telah terjadi dia berharap bisa menjadi suatu pelajaran berharga dalam hidupnya. Dia janji untuk tidak kembali ke dunia kelam itu lagi. Karena yang ia dapat hanya kerugian meski ia dibayar dengan uang berjuta-juta.
...***...
"Sari membawakan makanan dan pakaian untuk Cindy. Cindy sama sekali tidak mau meninggalkan rumah sakit karena ia tak mau kehilangan pandangan sedetik pun dari Cello.
Hatinya terasa perih mendapati balitanya terbaring tak berdaya dengan selang infus di lengannya. Belum lagi tangannya yang patah akibat kecelakaan tersebut.
"Bu Cindy, makanlah dulu," kata Sari. Ia terus melayani nyonyanya di rumah sakit. Ia kasian melihat Cindy yang terus menangis.
Devon sudah kembali sejak kemaren. Ia menunggui Cello sampai malam lalu dia pulang beristirahat.
"Kapan dia akan sadar?" ucap Cindy dengan lirih sambil memegang tangan mungil anaknya. Tenaganya hampir habis karena terus-terusan menangis.
Sesaat kemudian Tommy datang berkunjung. "Cindy," panggilnya.
Air mata Cindy kembali mengembun. "Tom."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Cello?" Tanya Tommy pada Cindy. Cindy hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Belum ada perubahan. Dia masih belum sadarkan diri."
Tommy memperhatikan mata Cindy bengkak dan penampilannya tak terurus. Ia merasa iba. "Bersabarlah dan terus berdoa," ucapnya dengan lembut. Tommy yang tak tega pada Cindy akhirnya memberikan pelukan agar wanita itu tegar.
Devon melihat keduanya berdekatan dari kejauhan. Ia mengepalkan tangannya karena geram. "Bisa-bisanya dia menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Cindy lagi," gumamnya. Devon pun urung menjenguk Cello. Ia kembali ke kantor.
Sesampainya di kantor, Devon tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. "Arrrgh," teriak Devon geram.
"Pak, anda baik-baik saja?" Tanya Bayu yang merasa khawatir.
"Bagaimana Bay, apa kau sudah menemukan orang yang bergolongan darah sama dengan anakku?" Tanya Devon.
"Sudah pak, tapi hanya dua orang," jawab Bayu.
"Bawa mereka ke rumah sakit agar dokter bisa mengambil darah mereka. Darah yang diambil dari ibunya kemaren tidak cukup." Perintah Devon pada Bayu.
"Baik, Pak."
...***...
Cello telah mendapatkan pendonor yang cukup untuk dirinya. Devon membayar dua orang yang mendonorkan darah untuk anaknya itu dengan upah lima juta per orang.
"Sudah lebih baik pak, untuk tangannya yang selesai dioperasi mungkin akan sembuh lebih cepat karena tulangnya masih dalam masa pertumbuhan."
Mendengar penjelasan dari dokter Devon merasa lega. Lalu ia beranjak ke ruangan Cello. Ia mendengar suara tangisan yang nyaring dari sana.
"Ada apa ini?" Tanyanya dengan suara yang tinggi.
"Cello merasakan sakit pada tangannya makanya dia menangis," jawab Cindy.
"Kamu nggak bisa tenangkan dia, hm?" Devin terkesan meremehkan Cindy.
Bayangkan saja, anak sekecil itu bukankah wajar jika menangis. Tapi suami hanya bisa menyalahkan istrinya jika terjadi sesuatu pada anak.
Cindy menarik nafas dalam-dalam. Ada rasa perih di hatinya yang ia tahan. Terus menerus disalahkan Devon pada situasi yang menyebabkan kecelakaan Cello, menjadi tekanan tersendiri pada Cindy.
"Aku sudah coba, aku rasa dia hanya butuh pelepasan untuk menyalurkan rasa sakitnya. Anak sekecil ini belum bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan." Cindy mencoba memberi tahu keadaan Cello pada suaminya.
__ADS_1
Cindy tak ingin terus disalahkan oleh Devon. Bagaimana pun ia sudah berusaha menjadi ibu yang baik.
Tidak ada wanita yang sempurna di dunia ini. Jika kamu mencari wanita semacam itu maka kamu tidak akan menemukannya. Kamu tahu kenapa? Karena kamu sendiri tidak sempurna jadi mustahil mengharapkan kesempurnaan dalam hidup.
"Aku mau pulang, aku capek," kata Devon acuh.
"Kamu pikir aku tidak capek mas. Tidurku bahkan hanya dua jam dalam sehari. Kamu hanya capek fisik tapi aku lebih dari itu," batin Cindy dengan menahan tangisannya.
Cindy membiarkan suaminya pulang. Ia akan lebih fokus mengurus anaknya jika suaminya tak ada. Devon terus saja memberi tekanan padanya. Itu membuat Cindy tidak nyaman.
Sudah berhari-hari Cindy berada di rumah sakit. Ia tampak kurus karena makannya tak teratur. Matanya juga cekung dan memghitam karena kurang tidur. Cello terus saja menangis ketika ia merasakan sakut di bagian tangannya.
Hati Cindy terasa perih setiap kali melihat anaknya menangis. Namun, Cindy mencoba untuk tidak menangis di depan Cello. Ia tak mau melihat anaknya bersedih.
...***...
Di hari lain Tommy mengajak Irene ke rumah sakit. Irene merasa iba melihat keadaan Cindy. "Sudah ada perkembangan?" Tanya Irene.
"Sudah lebih baik, tapi dia belum diperbolehkan pulang," jawab Cindy dengan wajah sendu.
"Apa Devon tidak menemani kamu di sini?" Tanya Tommy setiap kali ia datang tidak pernah sekalipun melihat keberadaan Devon di rumah sakit.
"Ia hanya sesekali datang tapi dia akan pulang setelah berkunjung," jawab Cindy.
Tommy memejamkan matanya mendengar penuturan Cindy. "Kenapa dia seolah tidak peduli?" Batin Tommy menggeram kesal.
...***...
Setelah menyelidiki kejadian yang menimpa Cello. Devon murka ketika tahu Sari lah yang lalai dalam menjaganya. Ia langsung memecat Sari setelah memberikan gaji bulan ini.
"Pulanglah ke kampung halamanmu, kamu tidak berguna lagi di sini!" Usir Devon.
Sari berderai air mata. Tapi ia sudah bersyukur karena Devon hanya memecatnya tidak sampai memukul seperti apa yang dia lakukan pada Cindy.
"Saya minta maaf Pak. Waktu itu saya sudah berusaha mengejarnya tapi motor itu lewat lebih dulu," Sari masih membela diri.
Devon tak mengindahkan omongan Sari. Ia meminta Bayu untuk mengeluarkan Sari dari rumahnya.
__ADS_1
Setelah itu Devon menjambak rambutnya karena frustasi. Ia sudah salah waktu itu pada Cindy. Terus menerus menyalahkan dia padahal Cindy tidak tahu apa-apa.
"Aku harus meminta maaf pada Cindy. Aku telah dibutakan amarah." Devon terduduk di kursi kerjanya.