
Cindy telah sampai di depan kampus. Ia turun dari mobil. "Pak Bayu bisa kan antarkan barang-barang ini ke apartemen saya?" Bayu mengangguk.
"Baik, Nona. Kalau begitu saya pergi dulu. Apakah nanti siang dulu saya jemput?"
"Tidak usah, Pak Bayu. Saya belum tahu jam berapa saya pulang dari kampus."
Setelah itu Bayu memasuki mobil lalu ia pergi meninggalkan Cindy.
"Gue nggak nyangka di kampus kita ini ada ayamnya," sindir salah seorang mahasiswi yang menyamakan Cindy dengan ayam kampus.
Cindy memberikan tatapan tajam pada mahasiswi itu sekilas. "Ngapain lu lihat-lihat gue?" sungut Dira, teman satu kelas Cindy.
"Nggak usah ikut campur urusanku gue. Satu hal lagi, kamu pasti sudah tahu siapa di sini yang ayam kampus," sindir Cindy tak kalah menyakitkan.
Perkataan Cindy seolah menikam Dira. Dira menghentakkan kaki. "Sialan tuh cewek," umpatnya kesal. Ia bahkan sampai mengepalkan tangannya.
Cindy berlalu meninggalkan Dira. Dia berjalan menuju ke ruangan dosen. Ia akan menyelesaikan urusan kampus lalu kembali ke apartemen.
Cindy selesai pukul 11.00 siang. Kini ia berada di pinggir jalan raya untuk memesan taksi.
Saat ia membuka pintu taksi yang ia hentikan, Dira kembali berulah. "Biasanya juga naik ojek online. Eh sekarang sudah bisa bayar taksi. Berapa sih bayaran lo semalam?" Sindir Dira.
Tapi Cindy tidak menghiraukan omongan kurang penting itu. Ia memilih masuk ke dalam taksi daripada membuat keributan bersama Dira.
"Dasar breng*sek!" Umpat Cindy di dalam mobil.
"Maaf non jika saya melakukan kesalahan."
"Kenapa supir taksi tersebut tiba-tiba meminta maaf?" batin Cindy. Sesaat kemudian ia baru menyadari kalau ia baru saja mengumpat.
"Oh bukan anda yang brengsek Pak tapi teman saya tadi." Cindy merasa tidak enak pada supir taksi tersebut.
"Kita ke mana non?"
"Ke gedung apartemen Bougenville," jawab Cindy.
"Baik."
__ADS_1
Di tengah perjalanan menuju ke apartemennya dia melihat dua sahabatnya sedang makan di pinggir jalan. "Pak saya berhenti di sini saja."
"Tapi kita belum sampai ke alamat."
"Saya ingin menghampiri teman saya." Cindy menunjuk ke arah Irene dan Alan.
Setelah membayar uang kepada sopir saksi tersebut Cindy berjalan mendekat ke arah sahabatnya.
Alan menepuk bahu Irene sedang makan. "Apaan sih Lan, gue kan baru makan ntar keselek loh," protes Irene.
"Mami Cindy noh," Alan menunjuk dengan dagunya.
Irene menghentikan acara makannya. Gadis terlihat senang saat bertemu Cindy.
"Ya ampun dicari kemana-mana tahunya ketemu di sini," cibir Irene.
"Iya mam, kita cari mami kemana-mana tapi tidak ketemu. Kita juga sempat cari mami Cindy ke apartemen." Kini giliran Alan bersuara.
"Iya aku minta maaf karena aku tidak mengabari kalian. HP aku hilang jadi aku tidak bisa menelepon kalian."
"Lalu kalian tahu dari mana aku tinggal di apartemen?"
"Kita tanya sama pacar mamilah. Habis waktu itu kita sudah ke kosan mami tapi tidak ada yang tahu."
"Oh ya, aku sudah punya handphone baru kalian bisa nyimpan nomor aku," Cindy menunjukkan handphone merk apel tergigit keluaran terbarunya.
Mata Alan dan Irene menjadi silau saat melihatnya. "Ya ampun itu HP kalau dibeliin motor dapat satu," seloroh Alan. Cindy terkekeh mendengarnya.
"Pasti dibeliin sama ayang bos ya?" tanya Irene. Cindy mengangguk. "Tapi beneran bukan aku yang minta dia yang mengembalikannya sendiri padaku." Cindy membela diri supaya dia tidak kelihatan matre di depan teman-temannya.
"Iya mam kita percaya kalau mami orang baik kok," kata Irene sambil tersenyum.
"Ya udah makan sepuasnya kali ini aku yang bayar." Perkataan Cindy membuat Irene dan Alan senang.
"Besok-besok lagi ya mam," goda Alan.
Dari kejauhan seseorang mengamati Cindy dan teman-temannya. "Gadis itu kan yang diajak oleh Devon ke pesta," gumam Tommy. Pemuda itu baru saja lewat di depan Cindy. Tapi dia tidak menyadarinya karena banyaknya mobil yang berhara lain di jalan raya itu.
__ADS_1
"Aku semakin penasaran dengan gadis itu," Tommy tersenyum licik.
...***...
Bayu baru saja tiba di kantor. "Bayu dari mana saja kamu?" tanya Devon.
"Setelah mengantarkan ponsel yang anda kirimkan untuk Nona Cindy saya pergi ke kosannya dan..."
"Ngapain kamu ke kosannya Cindy? Jangan-jangan kamu..." Devon tidak meneruskan perkataannya.
"Ihk, si bos mah curigaan mulu," umpat Bayu dalam hati.
"Saya hanya ingin membantu Nona Cindy mengambil barang-barangnya yang tertinggal di tempat kos kemudian saya antarkan ke apartemen, Pak."
"Oh saya pikir kamu mau mengkhianati saya." Devon jadi merasa tidak enak.
"Hari ini kita ada jadwal apa saja?" tanya Devon kemudian.
"Jam 02.00 siang kita ada acara pertemuan dengan Tommy dari perusahaan Angkasa di restoran ayam geprek milik Bu Celine, Pak," kata Bayu.
"Benarkah, bagus kalau begitu aku sudah lama tidak bertemu dengan kakak iparku yang cantik itu," kata Devon sambil tersenyum.
...***...
Pukul dua siang Devon menuju ke restoran ayam geprek milik istri abangnya. "Celine," panggil Devon. Celine menoleh.
"Hai ada urusan apa kemari?" Celine menjawab dengan suaranya yang lembut.
"Sebentar lagi aku akan meeting dengan kolegaku di sini."
"Oh baiklah, silakan duduk aku akan ke belakang sebentar," pamit Celine.
Devan dan Bayu hamil duduk di tempat yang agak sepi. Restoran milik Celine itu memang sangat besar dan terkenal. Wanita itu juga memiliki cabang restoran di mana-mana.
"Oh ya Devon tolong berikan ini pada kekasihmu, itu hadiah dariku." Celine menyerahkan sebuah kotak pada Devon.
Tommy yang baru sampai melihat Devon tersenyum pada wanita lain. "Bukankah dia sudah memiliki Cindy kenapa dia berselingkuh dengan wanita lain?" Tommy menarik kesimpulan yang belum dipastikan kebenarannya.
__ADS_1