Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 170


__ADS_3

Cindy menyiapkan pesta kejutan untuk suaminya. Devon masuk ke dalam rumah. Dia merasa ada yang aneh karena lampu rumah tidak dinyalakan. Dia meraba dinding untuk menemukan saklar.


Semua anggota keluarga meneriakkan kata 'surprise' ketika Devon baru menyalakan lampu. Laki-laki itu kaget sekaligus senang. "Dalam rangka apa ini?" Tanya Devon.


"Papa ini ulang tahun sendiri lupa," cibir sang istri.


Ruby membawa kue ulang tahun untuk ayah angkatnya. Devon makin melebarkan senyum di wajahnya.


"Papa tidak lupa, papa cuma pura-pura lupa," guraunya.


Satu persatu memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk Devon. Hari ini adalah adalah ulang tahun Devon yang ke-35.


"Terima kasih sayang sudah menyiapkan pesta kejutan untukku," ucapnya pada sang istri.


"Jangan hanya berterima kasih kepadaku berterima kasih juga kepada anak-anak," balas Cindy.


Lalu Cello menyerahkan sebuah kotak kepada ayahnya. Devon menerima kotak pemberian putra sulungnya. "Seharusnya tidak usah repot-repot memberikan hadiah padaku. Aku cukup bahagia memiliki keluarga seperti kalian."


"Sampai kapanpun kita akan saling membahagiakan. Kita sudah banyak melewati cobaan dalam berumah tangga. Aku harap hubungan keluarga kita makin harmonis."

__ADS_1


"Aku pun berharap demikian. Menikah denganmu serta menghasilkan anak-anak yang lucu-lucu adalah sebuah anugerah yang tak ternilai untukku." Devon berbicara sambil memegang kedua tangan Cindy.


...Kebersamaan keluarga menjadi sempurna, manakala senyuman tiap orang di dalamnya penuh dengan keikhlasan dan saling menyayangi....


"Tidak masalah seberapa besar rumah kita, yang penting bahwa ada cinta di dalamnya." Devon memeluk Cindy dan ketiga anaknya secara bersamaan.


Tujuh tahun kemudian


Cindy sibuk mengurus keperluan Cello dan Daisy. Usai sarapan Cello berdiri dari tempat duduknya. "Mama, Cello berangkat dulu ya," pamit Cello seraya meraih tangan Cindy untuk dicium.


Cello telah memasuki jenjang SMP. Daisy baru masuk SD. Sedangkan Ruby dia sudah bekerja. Semenjak Ruby lulus kuliah, dia memutuskan untuk mandiri dan kembali ke rumahnya yang lama.


"Ini mama sudah siapkan bekal untukmu." Cindy memasukkan kotak bekal ke dalam tas Cello.


"Gak apa-apa kali aja nanti siang kamu nggak sempet keluar jajan karena males jalan," Cello mengulas senyumnya.


"Hati-hati di jalan ya," pesan Cindy pada putranya.


"Iya, Ma," jawabnya dengan lembut.

__ADS_1


Cello tumbuh menjadi pemuda yang ramah dan lemah lembut dalam bersikap. Meskipun dia laki-laki tapi sikapnya begitu tenang. Tidak pernah sekalipun berbuat kasar.


Cello juga sederhana. Meskipun dia bisa naik mobil tapi dia selalu menolak. Katanya naik sepeda lebih menyehatkan. kebetulan jarak sekolah dan rumahnya tidak begitu jauh jadi tidak akan membuatnya kecapekan.


Cello mengayuh sepedanya perlahan karena dia selalu berangkat pagi. Menikmati keindahan kota di pagi hari sambil bersepeda sangatlah menyenangkan. Ada hiburan tersendiri ketika bisa melihat orang yang hiruk pikuk berangkat kerja.


Ia dapat melihat jelas setiap orang memiliki profesi yang berbeda-beda. Yang jelas terhadap siapapun kita harus saling menghormati. Apapun profesinya asalkan bekerja di tempat yang halal pasti akan mendapatkan rejeki yang barokah.


"Selamat pagi, Den," sapa satpam penjaga sekolah Cello.


Cello menghentikan sepedanya dan memarkir sepedanya di tempat biasa. "Saya titip ya, Pak," ucapnya pada satpam tersebut.


"Siap, Den." Satpam tersebut menautkan jari telunjuknya dengan ibu jari membentuk huruf O.


Cello mengambil kotak makannya lalu menyerahkan kotak tersebut pada satpam. "Ini untuk bapak."


"Eh nggak usah, Den," tolak satpam itu karena merasa tidak enak.


"Makan saja pak dari pada mubadzir. Saya sudah sarapan tadi," ucapnya meyakinkan satpam agar dia mau menerima pemberiannya.

__ADS_1


Tin tin tin


Sebuah klakson mobil menghentikan langkah Cello.


__ADS_2