Click Your Heart

Click Your Heart
Part 31


__ADS_3

Hari ini Tommy kembali ke apartemen untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Namun, ia tidak menyangka ketika pintu lift terbuka, Tommy melihat dua orang mesum berciuman di dalam lift yang terbuka itu.


Tommy mengepalkan tangannya ketika menyadari siapa keduanya. Sedangkan Devon dan Cindy merasa malu ketika orang lain memergoki mereka sedang berciuman. Terutama Cindy, ia sampai menyembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya.


Devon mencoba bersikap biasa saja ketika berpapasan dengan Tommy. Ia cenderung mengerutkan kening saat ia mengetahui Tommy satu lantai dengan kekasihnya.


Akan tetapi Devon tak ambil pusing. Ia memilih masuk ke unit apartemen Cindy begitu saja tanpa bertanya apa-apa terhadap Tommy. Ia menyadari hubungannya dengan Tommy hanya sebatas rekan bisnis.


Tommy sempat melihat Devon menurunkan Cindy lalu memencet nomor sandi unit apartemen itu dengan fasih sebelum menutup lift. "Dasar playboy," umpat Tommy dalam hati.


Sementara itu, Devon mengajak Cindy masuk. Bi Mona mendekat. Ia terkejut ketika melihat noda darah di baju yang dikenakan oleh Cindy. "Non, perut anda...?"


Cindy menyela. "Tidak apa-apa, Bi," sahutnya ketika Bi Mona menunjuk bagian perutnya.


"Bi, tolong buatkan saja dua cangkir teh hangat untuk kami!" Perintah Devon pada asisten rumah tangga Cindy. Bi Mona mengangguk paham. Dia pun menuju ke dapur.


"Hati-hati sayang," ucap Devon ketika Cindy berjalan menuju sofa.


Tiba-tiba handphone milik Cindy berbunyi. "Mas, aku angkat telepon dari nenek aku dulu ya?" Devon mengangguk.


"Hallo, nek."


(....)


"Iya, Cindy baik-baik saja nek. Nenek sehat kan?"

__ADS_1


(....)


"Nenek tidak usah khawatir Cindy bisa jaga diri di sini, jaga kesehatan ya nek! Assalamu'alaikum." Cindy menutup panggilan telepon dari neneknya.


"Jadi, kamu hanya memiliki nenekmu?" Tanya Devon penasaran. Ia ingin bertanya kapan orang tuanya meninggal dan karena apa tapi ia tahan agara dirinya tidak bersedih ketika mengingat kedua orang tuanya.


"Iya, beliau yang membesarkan aku dari kecil. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajah orang tuaku. Mereka meninggal ketika aku masih bayi." Tak terasa air mata Cindy lolos begitu saja ketika menceritakan tentang orang tuanya.


Devon menyentuh pipi kekasihnya itu dengan lembut lalu mengusap air mata yang lolos di pipi Cindy dengan ibu jarinya. "Jangan bersedih, masih ada orang-orang yang sayang padamu contohnya saja aku," gurau Devon. Cindy tersenyum.


"Ah mas Devon mah bisa saja, oh iya terima kasih udah nganter aku pulang dengan selamat, aku nggak tahu mau berterima kasih dengan cara apa sama mas," ucap Cindy.


"Cukup dengan ini." Devon mengetuk bibirnya dengan satu jari. Wajah Cindy memerah karena malu.


"Permisi, Pak. Silakan diminum tehnya," kata Bi Mona. Setelah itu Bi Mona kembali ke belakang. Keduanya menjadi canggung.


"Tunggu mas, apa di kantor mas apa lowongan pekerjaan?" Tanya Cindy kemudian.


Devon mengerutkan keningnya. "Untuk siapa?" Tanyanya penasaran.


"Untuk Alan dan Irene, aku kasian melihat mereka menganggur selama kantor biro jodoh aku tutup. Bisakah mas Devon membantuku?" Cindy meminta dengan muka memelas.


"Baiklah, akan aku tanyakan di bagian HRd. Secepatnya akan aku kabari." Devon mengecup kening Cindy dengan singkat lalu pergi.


...***...

__ADS_1


Di tempat lain Alan mengantar Irene kembali ke kosannya. "Istirahat lo baik-baik ya Ren!" Pesan Alan pada sahabatnya.


"Iya, Lan. Makasih udah nganterin gue dengan selamat. Eh elo beneran gak apa-apa tadi?" Tanya Irene khawatir.


"Sebenarnya kaki gue sedikit terkilir tapi nggak apa-apa nanti gue bawa ke tukang urut," jawabnya tak mau membuat Irene cemas.


"Iya gih bawa ke tukang urut biar baikan."


"Gue pulang ya Ren," pamit Alan sambil menyalakan mesin motornya.


"Iya."


Sesaat kemudian seseorang memanggil Irene ketika ia akan masuk ke dalam. "Eh tunggu!" Kata Irma memberikan perintah.


"Kamu siapa?" Tanya Irene yang merasa tidak kenal dengan Irma.


"Gue Irma dulu gue tinggal satu tempat kos sama Cindy, kalau nggak salah elo temannya kan? Gue boleh tahu dimana ia tinggal sekarang, soalnya gue mau ngembaliin dyit yang gue pinjam," kata Irma beralasan agar dirinya bisa bertemu Cindy atau sekedar mengetahui tempat tinggalnya sekarang.


"Owh gue belum pernah ketemu lagi sama dia," bohong Irene. Gadis berkacamata itu tidak orang lain mengetahui dimana Cindy tinggal sekarang. Irene hanya ingin melindungi sahabatnya.


"Lagipula hubungan kita gak begitu akrab jadi aku tidak pernah berbalas pesan dengannya," imbuh Irene agar Irma percaya.


"Oh ya?" Irma sedikit ragu dengan apa yang dikatakan Irene tapi dia tidak bisa membuktikannya.


"Baiklah, aku akan pergi," kata Irma pamit undur diri.

__ADS_1


Irene pun memilih masuk ke dalam tempat kosnya. Sedangkan Irma menaiki motornya pulang dengan perasaan kecewa tidak bisa menemukan tempat tinggal Cindy.


Ia hanya ingin membuktikan apa yang diomongkan oleh ibu kosnya itu benar atau salah bahwa Cindy seorang wanita murahan yang naik kelas menjadi kalangan elite. Tapi rasa penasaran itu tidak terpecahkan.


__ADS_2