Click Your Heart

Click Your Heart
Part 59


__ADS_3

Cindy tinggal di rumah Devon semenjak mereka menikah. Devon akan mengembalikan kunci rumah yang dipegang oleh Cindy pada Tommy. Ia tak mau membiarkan laki-laki lain berjasa dalam kehidupan istrinya lagi.


"Sayang, berikan kunci rumah yang terakhir kau tinggali," perintah Devon pada istrinya.


"Baik, Mas akan aku ambilkan di laci kamarku," kata Cindy kemudian berjalan ke kamarnya.


"Terima kasih sayang. Mulai sekarang kebutuhan kamu aku yang tanggung jadi meminta pada orang lain." Devon mengingatkan.


"Iya, Mas. Ya sudah berangkat sana!"


"Apa Cello belum bangun?" Devon menenyakan keberadaan anaknya.


"Dia sedang dimandikan sama mbak Sari," jawab Cindy.


Devon mencium kening istrinya lalu berangkat bekerja. Ia mengendarai mobil sportnya yang berwarna merah.


...***...


Siang ini Devon mengadakan meeting dari perusahaan Tommy. Mereka memang sudah lama bekerja sama bahkan sebelum mereka terlibat cinta segitiga dengan Cindy sebagai wanita yang diperebutkan.


Usai acara meeting itu Devon menyerahkan sebuah kunci pada Tommy. "Terima kasih telah banyak membantu istriku, aku rasa aku harus mengembalikan kunci rumah ini padamu," Devon meletakkan kunci di depan Tommy.


Tommy tak mungkin menolak kunci rumah yang sempat ditempati oleh Cindy tersebut. Ia tahu Devon akan tersinggung. Ia ingin menyampaikan kalau dirinya juga mampu menghidupi istrinya saat ini, begitu kira-kira pikiran Devon. "Baiklah, aku akan menerimanya."


"Sudah tidak ada harapan lagi, Tom. Berhenti memikirkan wanita yang kini telah menjadi istri orang," batin Tommy.


...***...


Di tempat lain, Siska sedang geram karena mendengar Devon yang telah menikahi Cindy. Padahal ia berharap bisa kembali pada laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya itu.


"Sialan kamu Dev, aku rela memutuskan pacarku demi kembali bersama kamu, tapi kamu mengkhianati aku," geram Siska.


"Baiklah, aku akan membuat rumah tanggamu berantakan," gumam Siska dengan tersenyum sinis.


Siska pun datang ke kantor Devon unguk meminta bantuan pada laki-laki itu. "Dev, bisakah aku meminta tolong padamu?" Tanya Siska basa-basi.

__ADS_1


Devon menghentikan aktivitasnya yang sedang mengetik. "Minta tolong apa?" Tanya Devon.


"Aku akan ke luar negeri sebentar bisakah aku menitipkan Ruby padamu?" Tanya Siska.


"Apa? Jangan mengada-ada Siska, kau tahu aku baru saja menikah, mana mungkin aku mengurus anak orang lain?" Sungut Devon.


"Tapi aku tidak memiliki kerabat Dev, aku takut meninggalkan dia seorang diri, apalagi dia sudah beranjak dewasa, kamu tahu kan pergaulan anak zaman sekarang?"


Devon menghela nafas. "Berapa lama kamu akan pergi?" Tanya Devon.


"Dua minggu," jawab Siska.


"Apa? Kamu gila, Cindy bisa marah kalau kamu pergi selama itu, dia akan berpikiran yang tidak-tidak padaku," tolak Devon.


"Ayolah, Dev. Aku meminta tolong sekali ini saja, kalau perlu aku yang akan meminta izin pada Cindy agar dia memperbolehkan Ruby tinggal sementara di rumahmu," kata Siska sambil memohon.


"Baiklah, tunggu kabar dariku saja aku yang akan meminta izin pada Cindy, aku tidak mau dia bertengkar denganmu."


Siska menarik ujung bibirnya. Dia berharap Ruby membuat ulah hingga membuat pernikahan Devon dan Cindy hancur.


...***...


"Mama pergi ke sana buat kerja apa pacaran sama kekasih mama?" Tuduh Ruby yang kini meninjak usia 16 tahun.


"Jaga omongan kamu, Ruby. Selama mama pergi kamu harus tinggal di rumah om Devon," putus Siska.


"Nggak mau, om Devon kan sudah menikah ma, apa tidak akan merepotkannya?" Tanya Ruby.


"Tidak, om Devon setuju dengan permintaan mama, lagipula mama khawatir dengan pergaulanmu jika mama meningalkan kamu di sini sendirian."


Siska mulai mengeluarkan baju-baju putrinya dan mengemasi barang-barang Ruby ke dalam koper.


...***...


Devon pulang ke rumahnya. Cindy telah menyambut kedatangan suaminya dengan senyum yang merekah di wajahnya.

__ADS_1


"Selamat datang suamiku," ucapnya menggoda.


Devon terkekeh mendengarnya. Ia hanya mengacak rambut putranya yang sedang digendong oleh istrinya. Kini usia baby Cello sekitar 3 bulan. Belum bisa berbuat banyak kecuali hanya tidur di pangkuan ibunya.


"Mas sudah makan?" Tanya Cindy pada suaminya. Devon menggeleng. "Aku snegaja tidak ikut makan di luar karena aku ingin mencicipi masakan istriku," goda Devon.


"Ah mas bisa saja," jawab Cindy.


Ketika keduanya akan memasuki rumah, sebuah mobil berhenti di pelataran rumahnya. "Mobil siapa ya mas?" Devon tidak menjawab omongan Cindy karena ia tahu itu mobil Siska.


Ketika Siska turun bersama seorang gadis remaja, Cindy menganga tidak percaya. Ada urusan apa mereka datang ke rumah malam-malam begini?" Lagi-lagi Devon tidak menjawab pertanyaan istrinya.


"Selamat malam, maaf Dev keberangkatanku diajukan malam ini, aku bisakan titip Ruby di sini?" Tanya Siska.


Cindy menoleh ke arah suaminya dan memberikan tatapan tajam padanya. "Jelaskan padaku, Mas!"


"Maafkan aku sayang, aku tidak berniat menyetujui permintaan Siska, tapi tidak ada yang menjaga Ruby, aku baru mau bilang ke kamu," Devon beralasan. Dia sungguh kecewa dengan Siska. Padahal dia akan menyetujui jika Cindy juga setuju. Tapi mengapa dia tiba-tiba mengubah jadwal keberangkatannya.


"Maafkan aku Dev, pesawatku berangkat satu jam lagi aku harus bergegas ke bandara," Siska meninggalkan putrinya begitu saja.


Devon tidak dapat mencegah Siska sedang Cindy lebih dulu masuk ke dalam rumah lalu mengunci kamarnya di kamar sang anak.


Devin membuntuti langkah istrinya. Sayang jangan ngambek, aku mohon dengarkan penjelasanku!" Pinta Devon sambil menggedor pintu kamar anaknya.


"Tidak, mas menjauhlah aku ingin sendiri dan tidur bersama anakku malam ini," tolak Cindy. Ia sudah berderai air mata. Bagaimana bisa dia mengizinkan orang lain masuk ke dalam rumahnya.


Bahu Devon meluruh. Ia meninggalkan kamar itu. Percuma jika membujuk istrinya dalam keadaan seperti sekarang ini maka Devon putuskan memberinya waktu untuk memenangkan diri.


Devon menemui Ruby yang masih berdiri di luar. Sebenarnya ada rasa tidak enak harus tinggal di rumah Devon. "Om aku akan tinggal di rumahku sendiri saja." Ruby hendak menarik pegangan koper tapi Devon melarangnya.


"Tidak, ibumu akan khawatir jika kamu tinggal sendirian, sementara tinggallah di sini meski istriku tidak menyukaimu, aku harap kamu bisa akur dengannya mulai besok," perintah Devon dengan nada lembut pada gadis itu.


Ruby mengangguk mengerti. Devon mengantarkan dia masuk ke dalam kamar tamu. Ruby melihat ke sekeliling. "Aku suka kamarnya," puji Ruby.


"Beristirahatlah besok kamu harus masuk ke sekolah kan?" Ruby hanya mengangguk patuh.

__ADS_1


__ADS_2