
Keesokan harinya Irene izin pada Cindy untuk tidak masuk kerja.
"Lho kenapa lagi Ren?" Tanya Cindy. melalui sambungan telepon.
"Aku tidak bisa menjelaskannya di telepon. Mulai hari ini aku cuti untuk sementara waktu."
"Baiklah, kamu hutang penjelasan padaku. Hari ini aku yang akan ke toko," putus Cindy.
"Ada apa sayang?" Tanya Devon pada sang istri.
"Irene izin tidak masuk hari ini. Aku akan ke toko, apa boleh Mas?" tanya Cindy meminta izin suaminya.
"Baiklah, titipkan saja anak-anak pada pengasuhnya. Tapi jangan lama-lama sayang, ingat baby Daisy membutuhkan ASI mu," Devon memperingatkan istrinya.
"Iya Mas aku tahu."
Lalu Cindy bersiap untuk berangkat ke toko roti miliknya. "Apa aku boleh memakai mobil sendiri?" Cindy meminta izin lagi pada suaminya.
"Boleh asalkan hati-hati ingat kamu sudah lama tidak memakai mobil."
"Iya Mas. Jangan khawatir."
Setelah itu Cindy mengeluarkan mobilnya dari garasi. Devon telah berangkat kerja lebih dulu. Cindy menyusul setelah berpamitan pada bayinya. Sedangkan Ruby dan Cello sudah berangkat sebelum jam tujuh tadi.
Cindy sampai di toko setengah jam kemudian. "Bu Cindy tumben datang ke toko?" Sapa salah seorang pegawai Cindy.
"Mulai hari ini Irene meminta cuti, aku tidak tahu kenapa. Hari ini aku akan visit sebentar setelah itu kamu gantikan kasir ya," perintah Cindy pada pegawainya.
Lalu setelah memeriksa kesiapan toko, Cindy ke rumah Irene. Ia tak tahu apa alasan Irene tidak masuk karena tidak menyebutkan alasannya.
Ting tong
Cindy menekan bel rumah Irene. Irene membukakan pintu untuk tamu yang datang ke rumahnya. Ia terkejut saat melihat Cindy berada di depan pintu. Cindy pun tak kalah terkejut saat melihat Irene menggendong bayi.
"Anak siapa Ren?" Tanya Cindy sambil menunjuk bayi laki-laki yang sedang tertidur di gendongan Irene.
"Ayo masuk dulu aku jelaskan nanti." Cindy pun masuk dan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Kamu sendirian di rumah?" Tanya Cindy yang mengamati rumah Irene tampak sepi.
"Mama sedang berbelanja kebutuhan Kevin."
"Kevin? Jadi anak ini kamu namai Kevin? Aku makin tidak mengerti." Cindy benar-benar bingung.
"Semalam mas Tommy membawa pulang anak ini. Anak ini ditinggalkan orang tuanya di mobil suamiku." Ungkap Irene. Cindy merasa seperti sedang berada di dalam novel.
"Wah kisahmu ini sangat menarik. Aku biasanya hanya menyaksikan di televisi orang tua yang membuang bayinya. Sekarang aku menyaksikan secara langsung bayi yang telah dibuang ibunya."
"Mungkin ini solusi masalahku. Aku tidak punya anak lalu Tuhan mengirim anak padaku meski caranya aku kurang suka."
"Tidak ada yang tahu rencana Tuhan. Lalu apa kalian berencana mengadopsinya?" Tanya Cindy lebih lanjut.
"Belum bisa. Jika orang tua anak ini ditemukan oleh polisi, tentu saja aku harus mengembalikan pada orang tuanya." Ada rasa kecewa yang tersirat di wajah Irene. Rasa tak rela jika anak itu kembali pada orang yang telah membuangnya.
"Hissh mana bisa begitu. Bukankah bayi ini sudah dibuang kenapa diminta kembali?" Geram Cindy. Sesungguhnya dia senang melihat Irene bahagia. Ia sangat mengerti perasaan Irene. Cindy bisa mengamati wajah Irene yang tampak bahagia.
"Tak apa, kita tunggu saja bagaimana selanjutnya. Semoga Tuhan tidak memberikan harapan palsu padaku. Aku ingin sekali merawat Kevin." Irene mencium pipi bayi laki-laki itu.
"Ya sudah aku harus pulang. Mungkin aku akan cari penggantimu sementara waktu untuk mengurus toko." Cindy bangun ia berniat pulang.
Cindy mengulas senyum. "Tidak apa-apa. Nikmatilah masa-masa menjadi ibu meski hanya berlangsung sementara. Aku harap Kevin berjodoh denganmu hingga kalian bisa bersama hingga dia dewasa nanti."
Setelah itu Cindy pamit pulang. Ia harus kembali ke rumahnya. Lalu ia meminta bantuan Bayu untuk mencarikan karyawan yang mampu mengurus toko rotinya.
"Pak, tolong ya saya sangat membutuhkan karyawan tambahan yang mampu mengelola keuangan toko saat ini. Irene mengundurkan diri karena alasan yang tidak bisa saya sebutkan." Cindy berbicara pada Bayu melalui sambungan telepon.
"Baik, saya akan usahakan secepatnya," jawab Bayu.
"Baiklah terima kasih banyak. Maaf saya banyak merepotkan Anda." Sejujurnya Cindy merasa tidak enak pada Bayu karena menambah tugasnya.
"Ada apa Bay?" Tanya Devon.
"Istri anda meminta bantuan saya mencarikan karyawan baru pak. Katanya Irene mengundurkan diri tapi istri anda tidak menyebutkan alasannya." Devon. Mengerutkan keningnya ketika mendengar laporan dari Bayu.
"Baiklah sebaiknya kamu kerjakan perintah istri saya. Saya akan berikan bonus padamu jika kerjamu memuaskan."
__ADS_1
"Baik pak. Saya akan kerjakan secepatnya."
Tak mengulur waktu, setelah dia menyelesaikan tugasnya Bayu memasang iklan lowongan pekerjaan di media sosial berbayar agar banyak yang melihat iklan lowongan kerja tersebut.
Lalu Bayu mengabari Cindy. "Maaf Bu saya menggangu. Saya sudah memasang iklan lowongan pekerjaan di media sosial. Dan saya mencantumkan nomor anda agar anda bisa menyeleksi mereka secara langsung."
"Baik. Tidak masalah bagi saya. Terima kasih banyak pak Bayu."
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk mengerjakan perintah atasan saya," jawab Bayu.
Pada pukul delapan belas Bayu tiba di rumahnya. "Mas, baru sampai ya?" Irma meraih tangan suaminya lalu menciumnya.
Setelah itu Irma mengambil tas suaminya lalu menaruhnya di kamar. Tak lama kemudian Irma membawa secangkir kopi panas untuk suaminya.
"Kopi susu spesial buatan aku," ucapnya.
"Terima kasih. Oh ya hari ini Bu Cindy meminta aku untuk mencari pegawai yang akan menggantikan Irene."
"Irene? Kenapa dia berhenti?" Tanya Irma.
Bayu menggedikkan bahunya. "Entahlah Bu Cindy tidak bilang alasan Irene berhenti. Apa dia tidak bilang padamu?" Tanya Bayu pada sang istri.
"Tidak. Aku jarang berkomunikasi dengan Irene kecuali kita saling butuh. Terus terang aku tidak begitu akrab dengannya."
"Bukankah kemaren kamu meminta dia mengantarmu ke dokter?" Tanya Bayu memastikan.
"Benar tapi aku mengajaknya karena tidak ada orang lain lagi yang bisa kuandalkan. Mas apa kau tahu Irene tidak bisa punya anak." Irma bercerita pada suaminya.
"Apa? Kenapa?"
"Dia menjalani operasi pengangkatan rahim karena penyakit kanker."
"Kasian sekali dia. Setahuku Irene wanita yang baik. Semoga keluarga Tommy bisa menerimanya." Bayu ikut prihatin mendengar ucapan sang istri.
"Aku harap begitu. Dia juga bercerita padaku tentang reaksi suaminya yang sempat ragu mempertahankan pernikahan mereka. Irene bahkan mencoba bunuh diri saat itu. Aku benar-benar terkejut mendengar cerita Irene."
"Apa sampai segitunya? Sepertinya dia sedang mengalami masalah berat sehingga ia memutuskan untuk berhenti bekerja." Bayu menebak alasan yang tidak disebutkan oleh Cindy.
__ADS_1
"Semoga dia tidak mengalami nasib yang buruk."