
"Eh hp mana ya?" Cindy baru menyadari kalau dirinya kehilangan ponselnya.
Bi Mona datang membawakan camilan untuk Cindy. "Silakan dicicipi non," kata Bi Mona yang memberikan satu toples camilan dan secangkir teh hangat untuk majikannya.
"Bibi saya ingin beristirahat, kalau udah selesai bibi boleh beristirahat," kata Cindy dengan ramah.
"Baik, Non."
Cindy berjalan dengan pelan karena luka di perutnya lumayan dalam jadi perlu waktu penyembuhan yang agak lama.
Cindy pun mulai memejamkan matanya, menikmati kasur yang begitu mewah dan empuk daripada yang biasa ia tempati di kos-kosannya.
...***...
"Kenapa ponsel Cindy tidak bisa dihubungi?" Gumam Devon ketika mencoba menelepon ponsel Cindy tapi tidak tersambung.
Laki-laki itu pun memutuskan untuk menemui kekasihnya di apartemen. "Pak apa sudah tidak ada lagi perintah?" seloroh Bayu yang melihat bosnya akan keluar dari ruangan.
"Tidak, kau pulanglah!" Perintah Devon pada asistennya.
"Baik, Pak." Bagus menunduk hormat.
Devon pun melajukan mobil sport berwarna merah itu ke apartemen Cindy. Kurang dari satu jam Devon sampai di gedung apartemen itu.
Bi Mona membukakan pintu saat mendengar bunyi bel yang dipencet. "Selamat malam Tuan, nona Cindy sedang beristirahat," kata Bi Mona ketika berhadapan dengan Devon.
Devon berjalan menuju ke kamar kekasihnya. Saat ia akan membuka engsel pintunya, ternyata pintu kamarnya dikunci. Lalu Devon mengetuk pintu kamar Cindy.
Cindy mendengar suara ketukan pintu dari luar."Sebentar," teriaknya. Ia pun turun dari ranjang dan berjalan perlahan untuk membukakan pintu.
Cindy terkejut saat melihat Devon di depan kamarnya. "Mas Devon?"
__ADS_1
"Aku ke sini cuma mau bertanya kenapa ponselmu tidak aktif?" tanya Devon.
"Kemungkinan hilang saat aku diculik," jawab Cindy.
"Owh baiklah, lebih bagus kalau kamu tidak punya ponsel."
"Kenapa begitu mas?" tanya Cindy yang heran.
"Karena setiap kali aku merindukanmu aku bisa langsung mampir ke sini," goda Devon yang membuat Cindy tersipu malu.
Tangan Devon naik mengelus pipi Cindy lalu ia menempelkan bibirnya ke bibir kekasihnya yang ranum itu. Jantung Cindy berdebar saat menerima perlakuan manis Devon. Sesaat kemudian Devon melepas pagutannya. Ia menempelkan keningnya dengan kening Cindy.
"Aku tidak tahan untuk tidak menciummu," kata Devon dengan suara yang terdengar serak.
Devon membawa Cindy masuk ke dalam kamar. Cindy pasrah akan perlakuan Devon. Devon menghimpitnya di tembok. Lalu ia kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini mereka melakukan ciuman yang panas. Devon menggigit bibir bawah Cindy agar gadis itu membuka mulutnya.
Devon mengulas senyumnya ketika ia melihat Cindy membalas ciumannya. Tangan Devon mulai masuk ke dalam baju Cindy. Ia mengusap-usap bagian punggungnya. Cindy meremang, ada rasa yang tidak bisa ia ungkapkan. Begitu menyenangkan dan ia sangat menikmatinya.
"Baiklah sayang aku tidak mau menggodamu lebih jauh, sembuhlah dulu baru kita bermain yang lebih panas dari ini," kata Devon sambil berbisik di telinga Cindy.
"Dasar mesum," Cindy memukul dada bidang Devon. Devin terkekeh.
"Aku akan kembali ke rumahku, beristirahatlah!" perintah Devon kemudian ia mengecup kening Cindy singkat lalu keluar. dari kamarnya.
"Bibi, tolong jaga nona muda."
"Baik, Tuan." Bi Mona menunduk hormat.
...***...
Devon kembali ke kediamannya. Saat ia berada di dalam kamar ia melonggarkan dasinya. Devon memejamkan mata sejenak lalu mengingat momennya saat berciuman dengan Cindy. "Kamu seperti candu bagiku, aku tidak sabar memilikimu," gumamnya sambil tersenyum.
__ADS_1
...***...
Keesokan harinya Alan dan Irene tidak tahu kalau Cindy sudah diperbolehkan pulang. Mereka ke rumah sakit tapi tidak menemukan Cindy. Lalu keduanya mencoba menghubungi nomor Cindy tapi tidak aktif.
"Kita cari kemana nih Ren?" tanya Alan.
"Kita ke kosannya," usul Irene. Alan mengangguk setuju.
Mereka pun menaiki motor berboncengan menuju ke kosan Cindy. Sesampainya di kosan Cindy, Irene dan Alan menanyakan keberadaan Cindy pada Ibu Kos tapi dia bilang sudah seminggu Cindy tidak pulang.
"Kok bisa sih, terus kita cari dia kemana ya Ren, aku jadi khawatir sama mami Cindy," ucap Alan yang merasa risau.
Irene berpikir sejenak. "Apa kita coba tanya sama Pak Devon aja mereka kan udah jadian pasti dia tahu kemana perginya Cindy," usul Irene.
"Ide bagus Ren." Alan menunggu Irene menelepon Devon.
"Ha,halo," kata Irene dengan terbata-bata. Irene menjauhkan ponselnya sejenak. "Jangan dorong-dorong napa?" protes Irene pada Alan. Irene kembali menempelkan ponselnya di dekat telinga. Alan juga menguping dari dekat.
"Pak Devon, kami mau tanya apa anda tahu dimana keberadaan Cindy?" tanya Irene sedikit gugup melalui sambungan telepon.
"Sekarang dia tinggal di apartemen." Jawaban Devon membuat Alan dan Irene tercengang. Keduanya saling beradu pandang.
Setelah itu Devon memberitahu alamat apartemen Cindy. Keduanya menuju ke alamat tersebut karena sangat mengkhawatirkan Cindy.
...***...
Cindy mendengar seseorang membunyikan bel rumahnya. "Non, biar saya saja yang membukanya," kata Bi Mona.
...❤️❤️❤️...
Apakah secepat itu Alan dan Irene menemukan alamat Cindy? Ikuti kisah selanjutnya ya
__ADS_1