
Sesuai perintah Cindy, Ruby mengantarkan makanan yang dimasak Cindy untuk keluarga kakak iparnya. "Ini kali ya alamatnya?" Ruby mencocokkan alamat yang tertulis di sebuah kertas kecil yang ia bawa.
Setelah membayar uang pada driver ojek online, Ruby bertanya pada penjaga rumah tersebut.
"Pak ini benar rumahnya Bu Celine?" Tanya Ruby.
"Benar mbak, mbak ini siapa?" Tanya Satpam tersebut.
"Saya Ruby, saya disuruh Tante Cindy buat nganterin makanan buat keluarga Bu Celine."
"Oh silakan masuk," penjaga itu membukakan pintu gerbang untuk Ruby.
Ruby merasakan hawa aneh setelah memasuki gerbang rumah yang menjulang tinggi itu. "Perasaan gue kok nggak enak ya," gumam Ruby.
Bug
Tiba-tiba sebuah bola mengenai kepalanya. "Yagh baru aja gue mau bilang awas, eh malah udah kena orang," kata Jaden.
"Aw," Ruby memekik kesakitan sambil berjongkok dan memegangi kepalanya.
"Elo nggak apa-apa?" Julian membantu Ruby bangun.
Deg
Ada perasaan aneh saat pemuda itu menyentuhnya. "Sakit be*go," umpat Ruby yang salah sasaran.
"Harusnya kamu marah sama Jaden," Julian menunjuk pelaku sesungguhnya dengan dagunya.
"Mana gue tahu, muka kalian kan mirip," Ruby tak mau kalah.
"Sorry, gue nggak sengaja," kata Jaden sambil mengulurkan tangan.
Ruby menepuk tangan Jaden. "Nggak perlu, gue kesini cuma mau nganter makanan yang dibuat tante Cindy untuk keluarga kalian, nih," Ruby menyerahkan rantang makanan yang ia bawa.
"Untung aja nggak jatuh karena ulah lo," geram Ruby pada Jaden. Lalu ia melenggang pergi begitu saja.
"Mau gue anter pulang?" Teriak Julian yang khawatir.
Jantung Ruby berdegub kencang saat mendengar suara Julian.
"Gue udah pesen ojek," tolaknya. Dia berbohong padahal dia belum memesan ojol melalui aplikasi di handphonenya.
Saat ia keluar Ruby baru membuka handphone yang tersimpan di saku celananya.
"Biar gue aja yang anter dia," Jaden cepat-cepat mengambil motor.
Ruby masih di depan gerbang menunggu ojol yang ia pesan. "Dengan neng Ruby?" Tanya driver ojek online yang baru sampai.
__ADS_1
"Iya, bang," Ruby meminta helm pada driver tersebut.
Tiba-tiba seseorang mengambil helm yang Ruby pegang. "Bang, biar gue aja yang anter dia," kata Jaden sambil memberikan selembar uang berwarna merah pada driver tersebut.
"Oke, Den," jawab driver itu lalu pergi.
"Bang, abang," teriak Ruby memanggil driver ojol tersebut.
"Udah naik aja lo!" Ajak Jaden sambil memberikan helm padanya.
Ruby menerima helm tersebut dengan terpaksa. Jaden mengulas senyum di wajahnya yang tampan.
Tak lama setelah Ruby memakai helm dengan benar, dia naik ke atas motor. Lalu Jaden melajukan motornya dengan kencang membuat Ruby refleks memegang perut Jaden dengan erat.
"Elo bisa bawa motor pelan dikit nggak sih?" Pinta Ruby ketika di jalan.
"Nggak," jawab Jaden. Ia malah menambah kecepatan motornya hingga Ruby menempelkan kepalanya di punggung Jaden saking ngerinya dibonceng di belakang.
Kurang dari tiga puluh menit mereka sampai di depan rumah Devon dan Cindy. "Udah turun woi," perintah Jaden ketika melihat Ruby masih memeluknya erat.
"Sialan lo, hampir aja nyawa gue melayang, nggak lagi-lagi deh gue dibonceng sama elo," kata Ruby sambil mengumpat Jaden ketika turun.
Jaden tertawa terbahak-bahak ketika melihat rambut Ruby berantakan setelah melepas helmnya. Ruby mengerutkan kening. "Ngapain lo malah ngetawain gue?" Tanya Ruby yang bingung.
"Rambut lo," tunjuk Jaden.
"Ruby," panggil Siska yang baru turun dari mobil.
Wanita yang baru pulang dari luar negeri itu memakai kaca mata hitam dan tas yang dijinjing di lengannya. Jaden masih mengamati wanita itu di atas motornya.
"Siapa dia?" Batin Jaden.
"Mama kapan pulang?" Tanya Ruby ketika Siska memeluknya.
"Mama dari bandara langsung ke sini, kemaren mama langsung ambil penerbangan ketika mendengar ancaman kamu," kata Siska.
"Ayo, Ma masuk dulu temui tante Cindy, baru kita pulang, aku juga harus mengemasi pakaianku," kata Ruby.
Setelah memastikan Ruby dan mamanya masuk, Jaden pergi meninggalkan halaman rumah Devon.
"Tante," teriak Ruby sambil memanggil Cindy.
Cindy keluar dari kamarnya. "Kamu sudah pulang, sayang?" Tanya Cindy.
Siska merasakan sesak di dadanya ketika melihat Ruby tersenyum pada Cindy. "Tidak boleh, rencana awalku adalah membuat rumah tangga Devon berantakan, tapi kenapa mereka malah seakrab ini?" Batin Siska dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
"Mbak, kapan pulang?" Cindy menyapa Siska yang berada di samping putrinya.
__ADS_1
"Baru sampai, aku baru tiba di bandara langsung menuju ke sini," kata Siska dengan jujur.
"Silakan duduk!" Ajak Cindy yang berbasa-basi.
"Tante aku mau beres-beres barang-barang aku dulu," pamit Ruby ke dalam kamarnya.
"Kamu nggak mau nunggu om Devon?" Tanya Cindy pada Ruby.
"Kami pulang sekarang saja tante, besok aku harus sekolah di hari Senin," tolak Ruby.
"Baiklah, apa perlu tante bantu?" Cindy merasa tidak enak harus berhadapan dengan Siska.
"Tidak usah tante, tante temani mama saja di sini!" Pinta Ruby.
Setelah Ruby naik Siska mulai bersuara. "Sepertinya kalian akrab?" Tanya Siska pada Ruby.
"Ya, seperti yang mbak lihat, bukankah itu bagus?" Tanya Cindy balik.
"Sesungguhnya aku tidak suka melihatmu akrab dengan putriku." Siska menunjukkan kecemburuannya sebagai seorang ibu.
"Bukankah kau yang membawanya padaku, tidak salah kalau kami akrab buka,?" Cindy melawan Siska.
"Ya, baiklah. Aku akui aku gagal membuat keributan di rumahmu."
"Kau salah, Ruby membuat banyak masalah ketika kau pergi tapi kami bisa mengatasinya dengan baik," balas Cindy.
"Lagi ngomongin apa?" Tanya Ruby yang sudah menarik koper.
"Ayo Ruby, kita pulang sekarang!" Pinta Siska.
"Tante, terima kasih sudah mengajariku banyak hal," kata Ruby sebelum pergi.
"Sama-sama Ruby," jawab Cindy sambil mengelus rambut Ruby.
"Kami pulang sekarang terima kasih sudah menjaga Ruby, sampaikan ucapan terima aksihku pada suamimu juga," kata Siska. Cindy hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Cindy mengantarkan keduanya sampai keluar. Ia juga melambaikan tangan saat mobil Siska mulai meninggalkan area rumahnya.
"Rumah ini terasa sepi jika Ruby pulang," gumam Cindy. Lalu ia masuk untuk melihat putranya yang sudah semakin pintar.
"Mbak Sari, Cello sudah makan?" Tanya Cindy.
"Sudah, Bu. Saya permisi ke belakang," Sari keluar dari kamar Cello.
Cindy melihat putranya yang sedang tertidur. Sembari menunggui anaknya, Cindy tiba-tiba kangen dengan Alan dan Irene. "Apa kabar ya mereka sudah lama tidak main kesini," gumam Cindy seorang diri. Maka ia putuskan untuk menghubungi keduanya melalui sambungan telepon.
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
Hqi my beloved readers maaf karena othor update nggak menentu karena kesibukan real life ya. Kalau ada yang mau masuk grub dipersilakan ya dears.