
Teruntuk readerku maaf apabila masih banyak typo bertebaran dimana-mana. Kalian bisa komen langsung di bagian yang ada typonya ya.
...♥️♥️♥️...
Cindy menyambut suaminya ketika baru sampai. Ia mengambil tas dan jas yang telah dilepas oleh Devon.
"Capek ya Mas?" Tanya Cindy penuh perhatian.
"Lumayan," jawabnya sambil mengendurkan dasi yang ia pakai.
"Aku buatkan teh dulu ya," kata Cindy seraya melangkahkan kakinya ke dapur.
Tak lama kemudian Cindy menyuguhkan secangkir teh untuk suaminya. "Diminum dulu Mas."
Devon meraih cangkir tersebut lalu meminumnya. "Seharusnya kamu nggak perlu tambahkan gula sayang," protes Devon.
"Kenapa Mas? Kemanisan ya?"
Devon mengangguk. "Terlalu manis kalau minumnya sambil lihat kamu," goda Devon.
Wajah Cindy jadi memerah karena malu. Suaminya itu sangat suka menggodanya. "Mas kita ini bukan anak muda yang baru pacaran. Aku malu mendengar rayuanmu," balas Cindy sambil terkekeh kecil.
"Oh ya Mas kampung tempat tinggal aku terkena musibah banjir. Aku baru lihat beritanya di televisi. Apa Mas mau menyumbang untuk mereka yang sedang kesusahan?" Tanya Cindy hati-hati. Ia takut suaminya itu keberatan.
"Kenapa tidak? Aku juga akan mengajak abangku bergabung." Perkataan Devon membuat Cindy bahagia.
"Sebenarnya ini usulan Irene. Dia juga meminta suaminya memberikan sumbangan," ungkap Cindy.
"Bagus, aku bisa bicarakan nanti sama Tommy. Aku akan meminta Bayu mengurus segala keperluannya. Kamu tidak usah khawatir sayang." Devon membelai rambut Cindy dengan sayang.
"Aku punya satu permintaan lagi."
"Katakan!"
"Aku ingin mengunjungi makam nenekku. Aku hampir saja melupakan orang yang berjasa dalam hidupku. Apa kau mengizinkan aku ke sana?" Tanya Cindy.
"Aku izinkan setelah dokter memastikan kandunganmu baik-baik saja." Cindy tersenyum lebar lalu memeluk suaminya erat.
"Terima kasih, Mas. Aku sayang kamu."
Devon mengulas senyum dan mengecup pucuk rambut Cindy. "Aku juga sayang sama kamu."
"Mama aku juga mau dipeluk," rengek Cello yang melihat kedua orang tuanya berpelukan.
__ADS_1
Ia berlari ke arah mereka. "Mama adik apa kabar di dalam perut mama?" Tanya Cello yang sudah mulai lancar berbicara.
"Baik sayang. Kamu bisa tanya sendiri padanya," kata Cindy.
Cello menempelkan telinganya ke perut Cindy. "Hai adek, apa kabar? Ini kakak Cello."
Devon dan Cindy terkekeh melihat tingkah Cello yang menggemaskan. "Apa dia akan mendengarku?" Tanya Cello dengan mendongak.
"Tentu, tapi dia belum bisa menjawab sayang. Tunggu sampai dedeknya lahir ya." Cindy memberikan pengertian pada putranya.
"Aku sudah tidak sabar pengen main sama dia," kata Cello dengan antusias.
"Dek," panggil Ruby.
Cello menoleh ke arah Ruby. "Apa?"
"Beli eskrim di minimarket depan situ yuk!" Ajak Ruby pada Cello yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu.
"Ayok," Cello berlari ke arah Ruby lalu meraih tangannya.
Ruby dan Cello berjalan ke minimarket yang tak jauh dari komplek rumahnya. "Kak, aku mau yang gede ya?" Ruby hanya mengangguk menjawab permintaan adiknya.
Saat Cello akan melangkah kakinya terpeleset sehingga eskrim yang ia pegang terjatuh. Cello menangis sejadi-jadinya.
"Lain kali hati-hati ya, Dek," ucap seorang pemuda tampan yang menolong Cello.
Pemuda yang ada di depannya itu merasa kasian pada Ruby. "Mau aku bantu gendong?" Pemuda itu menawarkan bantuan.
Ruby memicingkan matanya. Meski pemuda itu terbilang tampan, tapi ia tidak boleh percaya begitu saja pada orang asing.
"Tidak, aku bisa sendiri." Baru berjalan beberapa langkah Ruby hampir saja terjatuh karena tak kuat menggendong Cello. Untung saja pemuda itu menangkapnya.
Ia segera mengambil Cello dari gendongan Ruby. "Gue Dani," ucapnya tanpa mengulurkan tangan karena kedua tangannya memegang Cello.
"Ruby," jawabnya lirih tapi Dani bisa mendengar dengan jelas.
"Aku bawa mobil, ayo kuantar." Ruby mengangguk. Cello sedikit lebih tenang.
Sebelum keluar dari minimarket Ruby membi plester untuk Cello. Setelah itu ia keluar bersama Dani.
Sebuah mobil mewah terparkir di depan minimarket. Dani mendudukkan Cello di kursi bagian belakang. Ruby duduk di bagian depan bersama Dani.
"Rumahmu dimana?" Tanya Dani.
__ADS_1
"Jalan saja akan ku tunjukkan tak jauh dari sini," jawab Ruby dengan ketus.
Dani merasa terkejut baru kali ini ia menjumpai Gadis yang tidak tertarik dengannya. Padahal di kampusnya, Dani selalu dielu-elukan oleh para gadis.
"Gadis yang menarik," gumam Dani dalam hati. Ia mengulas senyum tipis hingga Ruby pun tak dapat melihatnya.
"Stop!" Ruby mengatakan tiba-tiba sehingga Dani mengerem secara mendadak.
Cello yang tidak memakai sabuk pengaman pun jadi terpentok kepalanya. Ia kembali menangis.
"Dek, maafin kakak ya," kata Ruby dengan penuh penyesalan karena dia yang menyebabkan Dani mengerem mendadak.
Setelah itu Ruby dan Dani turun. Dani menggendong Cello sampai di depan rumahnya. "Maaf ya merepotkanmu," kata Ruby yang merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa," jawab Dani sambil tersenyum ramah.
Ketika mendengar suara Cello menangis Cindy keluar untuk melihatnya. "Ada apa ini sayang?" Tanya Cindy khawatir.
"Cello tadi kepentok jok mobil, Ma," jawab Ruby.
"Ini siapa?" Cindy menunjuk ke arah Dani.
"Kenalkan Tante saya Dani." Dani mengulurkan tangannya pada Cindy.
"Tadi Cello jatuh di minimarket dan menangis Ma. Aku tidak sanggup menggendongnya lalu Dani membantuku dan mengantarkan kami pulang," terang Ruby. Jantungnya berdegup kencang karena ia pulang bersama pemuda asing yang baru dikenalnya.
"Terima kasih banyak nak Dani. Apa kamu mau masuk dulu?" Tanya Cindy.
Dani melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Saya rasa saya pamit saja Tan. Ini sudah malam. Mungkin lain kali saja kalau ada waktu saya mampir ke sini. Apa boleh?" Tanyanya meminta izin pada Cindy lalu sekilas menoleh ke arah Ruby. Ruby menunduk malu.
Cindy melihat sesuatu yang berbeda-beda saat Dani menatap Ruby. "Sepertinya dia menyukai Ruby," batin Cindy.
"Tentu, terima kasih sudah mengantarkan anak-anak Tante," ucap Cindy dengan ramah. Dani mengangguk.
Setelah itu ia naik ke mobil dan pergi meninggalkan halaman rumah Cindy. Tak lama kemudian Devon mendekat ke arah istri dan anak-anaknya.
"Kenapa kalian berdiri di depan pintu?" Tanya Devon.
"Owh tadi ada temannya Ruby yang mengantarkan pulang," jawab Cindy.
"Teman? Laki-laki atau perempuan?" Tanya Devon lebih lanjut.
"Laki-laki Pa. Sepertinya anaknya baik. Dia yang menggendong Cello karena kata Ruby Cello jatuh dan menangis," Cindy membela Cindy.
__ADS_1
Devon melirik ke arah Ruby. Ruby mengangguk cepat untuk membenarkan omongan ibu angkatnya.
"Ya sudah ayo masuk!"