Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 184


__ADS_3

Devon mengerutkan keningnya ketika melihat sebuah taksi yang berpapasan dengan kedatangannya. "Siapa barusan yang datang?" tanya Devon pada istrinya.


"Alan menjemput ibunya untuk diajak pulang," jawab Cindy.


Senyum merekah di wajah Devon. "Oh ya?"


"Kenapa Mas? Kelihatannya senang sekali."


"Tentu saja senang karena tidak ada pengganggu lagi di rumah kita."


"Jangan seperti itu mas, bagaimanapun itu ibunya Alan. Kami tumbuh bersama sejak kecil jadi aku tentu sangat menghormatinya."


"Maafkan aku sayang, aku tidak berpikir sejauh itu."


"Sudahlah tidak apa-apa. Ayo kita masuk Mas."


*


*


*


Di dalam taksi.


"Alan, kapan kamu akan menikah?" Tanya sang ibu.


"Belum ketemu jodohnya Bu," jawab Alan dengan santainya.


"Kapan kamu ketemu jodoh jika kamu tidak bisa membuka diri untuk wanita lain. Alan wanita di dunia ini tu bukan hanya Irene."


"Tapi dia cinta pertamaku Bu. Sangat sulit melupakannya."


"Sampai kapan kamu akan memikirkan istri orang?"


"Bu, pelankan sedikit suaramu." Alan merasa tidak enak dengan sopir taksi yang ada di depannya.


"Apa kamu butuh bantuan ibu? Biar ibu carikan anak teman ibu yang pantas kau jadikan istri."


"Tidak, menikah atas dasar perjodohan itu tidak akan membuatku bahagia," tolak Alan.


"Tapi, kapan kamu akan memberiku cucu. Aku iri pada Cindy. Dia seumuran denganmu tapi dia sudah memiliki anak yang sebesar itu. Ingat Lan, usiamu tidak muda lagi. Jangan terlalu pemilih." Sang ibu menasehati panjang lebar.


Setibanya di stasiun kereta, Alan membantu ibunya menurunkan barang bawaannya. "Kalau sudah sampai sana kabari ya, Bu." Alan meraih tangan sang ibu untuk dicium.


"Iya," jawabnya singkat lalu dia masuk ke dalam kereta.


Usai mengantar ibunya, Alan mampir ke sebuah mini market untuk membeli camilan.

__ADS_1


Bug


Bahunya tak sengaja menyenggol bahu seorang wanita. Keduanya berjongkok. "Maaf," ucap Alan sambil memunguti barang belanjaan wanita tersebut.


"Terima kasih banyak," ucap wanita yang tak lain adalah sekretaris Tommy di kantor. Dia mengenakan sweater berwarna krem dipadukan dengan rok span selutut membuat tampilannya begitu manis di mata Alan.


Alan tertegun sejenak. "Sama-sama," jawabnya. Lalu Alan mengulurkan tangan begitu saja.


"Alan." Laki-laki itu berharap wanita cantik di depannya membalas uluran tangannya.


"Tania," balasnya lalu dia pergi. Tania seperti terburu-buru.


Alan jadi penasaran dengan Tania. "Semoga lain kali aku bisa bertemu dengannya."


Usai membeli camilan dan minuman ringan, Alan kembali ke tempat kosnya dengan berjalan. Lokasi minimarket tersebut tak jauh dari tempat kosnya.


Dia membuka minuman kaleng yang dia beli. Alan meminumnya sambil berjalan menuju ke tempat kosnya.


"Apa aku pindah tempat tinggal saja ya, sepertinya uangku sudah cukup untuk membeli rumah meskipun itu sederhana," gumam Alan dalam hati sambil berjalan menikmati malam yang begitu sunyi.


Tak banyak orang yang lewat karena saat ini hampir jam sembilan malam. Alan berfikir untuk pindah mulai besok. "Ya besok aku harus mencari rumahnya siap huni."


Lalu usai pulang kerja akan menyempatkan diri untuk mencari rumah yang sesuai dengan budget yang dia miliki. Alan adalah orang yang tidak boros jadi dia memiliki banyak tabungan. Gajinya selama bekerja dengan Cindy juga lumayan banyak, tapi dia tidak banyak kebutuhan jadi uang tabungannya saat ini cukup untuk membeli rumah.


Dia memutuskan untuk mendatangi kantor yang mengelola perumahan. "Selamat sore ada yang bisa kami bantu?" Tanya agen properti tersebut.


"Baik Pak. Jadi ini tiba-tiba rumah yang bisa bapak lihat. Barangkali Anda mau membeli rumah dengan harga di atas 250 juta tapi bisa diangsur."


"Tidak saya mencari rumah yang kisaran harga 100 juta kurang kalau ada?" tolak Alan.


"Kalau di bawah 100 juta kita nggak ada Pak. Tapi kalau memang uang bapak kurang maka boleh diangsur sampai beberapa kali atau dibayar kekurangannya bulan berikutnya."


"Jadi berapa harga minimal yang ditawarkan oleh perusahaan anda?"


"Kita ada rumah yang paling murah dengan fasilitas lengkap harga kurang lebih 125 jutaan."


"Kalau untuk mengumpulkan uang sekitar 25 juta lagi saya butuh setahun lebih." Alan pun mencari rumah dengan harga yang murah di tempat lain.


Ketika dia mengendarai motor menuju ke tempat kostnya tak sengaja dia melihat spanduk yang berisikan informasi penjualan rumah. Alan pun menghentikan motornya kemudian mencatat nomor yang bisa dihubungi.


"Halo apakah benar ini pemilik rumah yang rumahnya akan dijual?" tanya Alan melalui sambungan telepon.


"Ya benar, dengan siapa?" tanya seorang wanita yang merupakan pemilik rumah tersebut.


"Saya ingin membeli rumah anda, apakah bisa saya bertemu langsung dengan anda?" tanya Alan membuat janji.


"Baik temui saya besok jam lima sore di depan rumah yang saya jual."

__ADS_1


*


*


*


"Alan ku buru-buru pulang? Mau kemana?" Tegur Cindy.


"Aku ada janji dengan seseorang," jawab Alan.


"Apakah dia wanita?" goda Cindy. Alan tidak menghiraukannya dia berjalan keluar dan segera memakai helm menuju ke tempat mereka janjian.


Alan tiba di sana terlebih dahulu. Dia menunggu sekitar 10 menit lalu sebuah mobil berwarna kuning berhenti di depannya.


"Apakah anda yang telah menelepon saya kemarin?" Tanya Tania.


"Apakah anda pemilik rumah ini?" Alan bertanya balik.


"Iya betul," jawab Tania sambil tersenyum.


"Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya di minimarket?" Tanya Alan memastikan bahwa wanita yang dilihat di minimarket itu adalah Tania yang sama.


"Iya saya baru ingat. Jadi bisakah kita langsung saja apakah anda jadi membeli rumah ini?"


"Berapa harga yang anda buka untuk melepas rumah ini?" Tanya Alan.


"Rumah ini tidak terlalu besar, lokasinya juga di dalam jadi bayar saja 95 juta."


"Apakah harganya masih bisa dinego lagi?" Alan mencoba menawar harganya.


"Tunggu, saya belum mempersilakan anda masuk bagaimana kalau kita masuk dulu untuk melihat-lihat isi rumahnya nanti anda bisa memutuskan jadi membeli atau tidak." Alam setuju dengan usulan Tania.


Tania menunjukkan setiap sudut rumah. Bangunannya lumayan lama tapi untungnya tidak ada tembok yang keropos. Alan hanya perlu mengecat ulang rumah itu agar terlihat bersih. Perabot masih lengkap tapi rumahnya tidak terlalu besar hanya ada dua kamar. Namun, lengkap dengan dapur dan kamar mandi.


"Bagaimana apa anda bersedia membeli dengan harga segitu?"


"Saya menawar 10 juta ke bawah jadi saya ambil jika harganya 85 jutaan bagaimana?"


Tania berpikir sejenak. Kalau dipikir-pikir rumah yang akan dibeli Alan ini susah laku jadi Tania memutuskan untuk menyetujui harga yang disepakati dengan Alan.


"Baiklah saya setuju saya akan menyerahkan surat tanahnya kepada anda." Tania berjalan ke dalam mobil kemudian mengambil sebuah berkas yang berisikan surat kepemilikan rumah.


Alan mengecek sertifikat rumah tersebut. "Tapi hari ini saya tidak membawa uang cash, jadi bisakah besok kita bertemu lagi agar saya bisa menyerahkan uang?"


"Tentu. Tapi sementara sertifikat rumah ini saya bawa dulu. Besok setelah anda membayarnya dengan lunas, saya akan memberikan sertifikatnya langsung."


"Baiklah hubungi saya di mana kita bisa bertemu. Anda masih menyimpan nomor saya bukan?" Tanya Alan. Tania mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2