
Irma sampai di rumah Cindy. Walau Cindy melarangnya membawa sesuatu tapi Irma tetap membawa buah tangan untuk anak-anak Cindy.
"Bawa apa Tante?" Tanya Cello antusias.
Irma berjongkok. "Tante bawa mainan buat kamu," jawabnya sambil mengulas senyum ramah.
Cello antusias sekali mengambil mainan yang dibelikan oleh Irma. "Wah aku suka mainan lego ini."
Cindy berjalan mendekat. "Masuk Ir," perintah Cindy. Irma pun berjalan menuju ke ruang tamu.
"Mau minum apa?" Cindy menawarkan minuman.
"Apa aja," jawab Irma singkat.
"Tunggu sebentar ya." Cindy melangkah ke dapur untuk membuatkan minuman. Tak butuh waktu lama Cindy membawa sebuah nampan yang berisi 2 gelas minuman segar untuk tamunya.
"Cello sudah semakin besar ya. Aku iri sama kamu bahkan kamu saja sudah mau dua anaknya," gumam Irma berkeluh kesah pada Cindy.
"Kamu juga bisa punya anak. Mungkin sekarang belum waktunya. Kamu yang sabar aja," akta Cindy mencoba menghibur Irma.
"Kalau saja waktu itu aku menurut kata suamiku untuk di rumah saja pasti aku tidak akan mengalami kecelakaan hingga membuat anakku meninggal," ucap Irma penuh penyesalan.
"Jangan berkata seperti itu. Meski penyesalan datang di akhir tapi itu bukan salah kamu. Jangan selalu menyalahkan dirimu atas kematian anakmu. Tuhan lebih sayang dia." Lagi, Cindy berkata bijak.
"Kalau dipikir-pikir aku ini banyak berbuat dosa. Dulu aku kerja sebagai wanita penghibur, aku bahkan merasa jijik kalau mengingat pekerjaanku yang dulu. Beruntung Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bertobat. Apa meninggalnya anakku sebagai teguran atas perbuatanku dulu?"
Cindy menggedikkan bahunya. "Entahlah, kita tidak tahu rencana Tuhan. Yang jelas semua orang punya ujian yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Yang jelas tetap positif thinking saja. Kamu jangan bersedih karena belum memiliki keturunan. Banyaklah berdoa setelah berusaha." Ucapan Cindy seolah sindiran untuk Irma.
"Kamu benar. Meskipun aku sering melakukannya dengan suamiku tapi nyatanya berusaha saja tidak cukup," balas Irma.
"Jadi seberapa sering kamu melakukannya dengan Pak Bayu? Aku jadi penasaran bagaimana dia menggarapmu ketika berada di atas ranjang," goda Cindy diiringi tawa kecil.
Irma menjadi malu mendengarnya. "Kenapa denganku? Dulu pembicaraan seperti ini menjadi hal yang biasa di telingaku. Tapi berbeda saat ini, mendengar Cindy menanyakan hal yang menurutku hanya pantas suami istri yang mengetahuinya membuat aku merasa tidak nyaman," batin Irma sambil mencebik kesal.
__ADS_1
Cindy mengamati Irma hanya terdiam ketika ia menggodanya. "Maaf ya, aku terlalu berlebihan," kata Cindy sedikit tidak enak pada Irma.
"Iya, mungkin karena aku sudah berubah mendengar omongan yang mengarah ke privasi membuatku agak sensitif," terang Irma.
"Mulai sekarang rajinlah berdoa agar keinginanmu memiliki anak segera terwujud." Cindy memberikan saran. Irma mengangguk setuju.
...***...
Di tempat lain tepatnya di sebuah perkampungan yang sedang mengalami musibah banjir membuat Devon, Bayu dan Tommy tidak bisa pulang dikarenakan cuaca yang kurang bersahabat.
"Pak, saya rasa malam ini kita harus bermalam di sini karena di luar hujan lebat sehingga membuat pandangan kabur. Bahaya bila memaksakan diri untuk pulang. Medannya juga sulit dilalui kalau sedang hujan," terang seorang sopir yang membawa mobil yang ditumpangi Devon.
"Pak, bagaimana kalau kalian menginap di tempat yang telah kami sediakan," sahut kepala dusun setempat.
Devon, Bayu dan Tommy nampak berpikir. "Baiklah Pak kami akan menginap di sini semalam. Besok pagi-pagi sekali kamu akan pulang ke kota," jawab Tommy yang diamini oleh Devon dan Bayu.
Bayu lebih dulu mengabari istrinya dibandingkan Devon dan Tommy.
"Hallo, Mas. Kapan kamu sampai di sini?" Tanya Irma melalui sambungan telepon.
"Apa? Berati atasanmu juga akan menginap di sana?" Tanya Irma.
"Iya. Di sini hujan lebat. Kami tidak bisa pulang hari ini," balas Bayu.
"Aku ada di rumah Cindy sekarang bolehkah aku menginap di tempatnya. Aku takut sendirian di rumah?" Irma terdengar memohon.
"Oh, baiklah kalau istri pak Devon mengizinkan tidak masalah."
Irma mengulas senyum lebar di wajahnya. "Terima kasih Mas, Kabari kalau kamu akan pulang ke rumah." Irma berpesan pada suami tercintanya.
"Iya," jawab Bayu singkat
Setelah menutup panggilan telepon dari suaminya, Irma menyampaikan keinginannya pada Cindy untuk menginap semalam di rumahnya. "Aku takut sendirian di rumah, bolehkah aku menginap sampai suamiku pulang dari luar kota?" Tanya Irma meminta izin pada Cindy.
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Banyak kamar kosong di rumah ini kamu bisa pilih sesukamu," jawab Cindy sambil tersenyum.
"Emm kalau boleh aku ingin tidur bersama Cello. Apa setiap malam dia tidur bertiga dengan suamimu? Atau di kamar terpisah?" Tanya Irma ragu-ragu. Dia agak tidak enak pada pemilik rumah.
"Cello biasanya tidur ditemani sama pengasuhnya. Tapi malam ini kau bisa menemaninya tidur. Dia paling suka kalau dibacakan cerita dongeng sebelum tidur," jawaban Cindy membuat Irma bahagia.
"Terima kasih." Saking senangnya Irma memegang erat kedua tangan Cindy.
"Ayo aku tunjukkan kamar Cello." Irma mengikuti langkah ibu dua anak tersebut.
...***...
"Ini tempatnya." Kepala dusun tersebut menunjukkan pada Devon dan yang lain tempat yang akan digunakan mereka untuk menginap malam ini.
Hanya ada tikar yang digelar di sebuah tenda. Tapi tempatnya terpisah dari pengungsi lain.
"Apa kita akan tidur di sini?" Bisik Devon ke telinga Bayu.
Tommy yang tak sengaja mendengar omongan Devon pada Bayu kemudian menyahut. "Anggaplah kau sedang belajar memahami rakyat jelata," ledek Tommy diiringi tawa mengejek.
Devon mengepalkan tangannya. "Kamu pikir aku belum pernah menjalani kehidupan rakyat jelata? Tanya saja Bayu, aku bahkan pernah tinggal di tempat kos dalam waktu yang tidak sebentar," ungkap Devon menceritakan masa lalunya pada Tommy.
Sekelebat bayangan kenangan masa lalunya ketika sedang berpura-pura jatuh miskin untuk mendekati Cindy berputar-putar kembali di otaknya.
Tommy tercengang mendengar pengakuan Devon. "Baiklah kalau begitu buktikan kau bisa tidur malam ini di tempat yang hanya beralaskan tikar ini tanpa ada bantal untuk tidur," tantang Tommy.
"Baik, apa kita perlu taruhan biar lebih seru?" Devon meminta pendapat pada koleganya itu.
"Memangnya apa yang akan kau pertaruhkan? Aku rasa melihat siapa yang menang saja sudah cukup bagiku," ucap Tommy penuh percaya diri.
"Baik, aku tidak akan kalah darimu. Tanpa bantal pun aku bisa menggunakan tangan ku sebagai alas kepalaku." Devon menjawab tantangan Tommy.
Tommy mengulurkan tangannya. "Oke deal, kamu lihat siapa di sini yang berhak menyandang julukan lelaki sejati," bisik Tommy ke telinga Devon.
__ADS_1
"Cuih, jangan terlalu percaya diri."
Sedangkan Bayu hanya bisa mengelus dada menyaksikan dua orang CEO yang sikapnya kekanak-kanakan.